Selalu begini kalau mau mudik.. hujan menjelang naik angkot.. (njelehi) Nyampe rumah pasti ortu lagi ada job rias.. (ngrejekeni) paling parah pas mau balik.. pasti maleeeess.. (nyebahi) Tapi Puji Tuhan untuk semua itu.. sampun Niat Ingsun.. Asyiwiliwiliwili…
Satu paragraf status di akun jejaring sosialku yang paling update.. Kuakhiri dengan satu mantra ala Sule yang gemar kugumamkan sebelum memulai permainan futsal. Entah kenapa.. selalu saja hujan sebelum ku pulang ke Bumi Ruwa Jurai kelahiranku. Rasanya tanah Cisalak ini mencegahku untuk pulang karena tahu bahwa suatu hari nanti aku takkan kembali lagi ke tempat ini. Padahal dia tidak tahu, bahwa tanahku pun kangen akan diriku (semoga..). Tapi belum pernah hujan menghalangiku untuk pulang..
Yach.. P.U.L.A.N.G… Pergi Untuk Luluhkan Asa Nan Galau..
Kantuk masih menderaku di pagi ini (sejam yang lalu..). Sekedar sarapan kecil cukup mengganjal perut laparku. Malas sekali rasanya untuk mandi, kumulai saja aktivitas pagi jelang siangku dengan merapikan tempat tidurku. Tapi ups.. apa nich di balik selimut?? Waladalah.. ternyata ada lilin Paskah yang menemani tidurku semalaman rupanya. Satu barang yang tersisa dari malam Paskah di Gerja Santo Thomas Kelapa Dua, bersama tiga sahabat dekatku.
yang tersisa dari malam Paskah 2011
Masih lekat di ingatan kala harus kubatalkan janji tuk misa malam Paskah ini bersama seseorang karena satu dan lain hal. Yang jelas sempat waswas juga karena badan yang panas tinggi dan pusing yang menyergap. Hujan yang rintik2 pun melengkapi ceritaku untuk merayakan Paskah tahun ini. Namun Tuhan maha adil, aku masih bisa merayakan upacara peringkatan kebangkitan Tuhan dengan sahabat-sahabat yang tak pernah kuduga sebelumnya. Seolah aku dibukakan mata akan kebesaran kasihNya yang bisa menyapa hati umatNya dalam kondisi apapun dan sekuat apapun kita jauh dan berusaha lari dariNya.
Beep.. Beep… Beep… (alarm dari jam weker kecilku..)
BeTe dech Gue!! (teriakan tetangga kamarku..)
Seolah menendang mimpi yang sedang menggelayuti tidurku hingga mental jauh dan membuka kelopak mataku.. Alamak, sudah jam 6 pagi rupanya (TKP: kamar kostku, Jumat 22 April 2011). Yaph.. waktunya bangun dan siap2 menuju Gereja Santo Thomas Kelapa Dua untuk melihat Tablo atau Kisah Sengsara Yesus yang akan dipentaskan oleh mudika. Karena teman yang mau diajak nonton masih mengantuk, maka kuputuskan untuk pergi sendiri saja. Lama sekali tidak melihat langsung tablo setelah terakhir kali di kampus tercintaku FarSaDhar Paingan.
Mandi.. minum air putih doang, dan langsung bergegas ku paksa si TC bangun dari garasi kost untuk mengantarku ke gereja. Lo.. kok masih sepi ni gereja? Celingak celinguk.. dan tepuk jidat sendiri, sadar bahwa seluruh penunjuk waktu di kamar lebih cepat setengah jam. Tapi gapapa.. kesempatan untuk cari tempat yang strategis.. biar bisa utuh menikmati tablo. Tiga perempat jam berlalu, dan drama pun dimulai, riuh rendah suara penampil diiringi isak tangis umat yang terbawa suasana turut menggugah rasa sedihku. Dan blammm!! Mataku tercekat saat sesi Maria Veronika mengusap wajah Yesus yang penuh darah dan mendapat gambarnya. Wow.. Maria Veronika van Kelapa Dua-nya cantik juga. Hemh.. kayak pernah liat nich, dimana ya? (sok tahu mode ON).
21 April 2011, dua hari sebelum coretan ini terbit, saatnya Kamis Putih bagi kami para penganut agama Katolik. Ada beberapa scene yang melintas pada liburan rohaniku kali ini.
Scene 1 :
Walau cuti tapi karena hati sudah terpatri di kerjaan, tetap setia berkutat di depan laptop untuk merancang schedule. Hemh.. ini apa karena perkataan senior yang mengungkapkan bahwa ari-ariku sudah tertanam di pabrikku ini ya??
Scene 2 :
Mulai mengutak atik jadwal misaku, merancang pergi misa dari jam 6 sore sampai akhirnya berangkat jam 9 malam karena permintaan sahabat.
Scene3 :
Teringat beberapa tahun lalu saat secara tak sengaja menjadi salah satu rasul bersama Revo, dan dibasuh kakinya di gereja Kotabaru.
Scene 4 :
Mulai panik karena sampai 20.15 ada sahabat yang belum ready to go, tapi puji Tuhan akhirnya malah ada sahabat yang tergerak untuk ke gereja setelah entah berapa bulan tak ke gereja. Semakin mantab karena dia berjanji untuk rajin ke gereja..
Scene 5 :
Tetap saja si setan ngantuk melingkupi kami, mata merah dan korupsi waktu doa pun terjadi.. Maafkan kami Tuhan.. Saat dalam buaian setan, teringat dulu saat Tri Hari Suci, aku pasti sibuk dengan geng misdinarku, mengelana dari gereja ke gereja.. Phitz, Bambang, Joko, Naning, Paulina, Tuti, Lukas, Yogi, Susi, Lia, Eta, Esti, Eni, Sari, Agus, Wid, Rita, Siska, dan masih banyak yang lainnya.
aku dan om Yogya Wiragi.. sekarang mah gantengan dan tinggian dia hehehe
Tulisan ini kumulai Jumat malam tepat setelah acara Kick Andy di satu TV swasta dimana di akhir acara dilantunkan lagu berlirik ‘Mother.. How are You today..dst.’ Hemh.. sangat menyentuh kalbu terlebih saat coretan ini kubuat sebagai kado yang terlambat untuk ibuku di Hari Kartini.
21 April 2011, Ibu and partner ngawas ujian dengan berkebaya..
Habis Gelap Terbitlah Terang.. Yach satu buku dari R.A. Kartini yang berisi surat-suratnya kepada sahabat sahabatnya di negeri Belanda. Buku yang berisi luapan isi hati Kartini dan besarnya keinginan beliau untuk membebaskan kaumnya dari penindasan dan pengekangan yang belakangan dikenal sebagai perjuangan emansipasi wanita. Perjuangan untuk mensejajarkan wanita dengan pria dalam berbagai aspek hidup yang sebelumnya diklaim sebagai ‘areanya’ pria. Dan rupanya, secara tidak langsung buku ini menginspirasi Ibuku dalam menjalani profesinya.
Teringat beberapa pengalamanku di mandi sore yang kerap terlambat.. Yach memang, sering kali terlambat.. sampai Ibu di Lampung, Bunda Emma, Ibu Kost, dan semua sahabat sering menegurku kenapa selalu doyan mandi malam.. Mulai dari rematik lah.. paru-paru basah lah.. masuk angin lah.. dan sederet peringatan lainnya. Walau jengkel diomelin tapi sebenarnya bersyukur juga karena masih ada yang care untuk ngingetin agar mandi tidak terlalu malam.. Thanks semua..
Balik maning ke laptop.. eh coretanku.. Biasanya kalau sudah bersiap mandi maka jangan harap untuk menggedor pintu kamarku, takkan kubukakan. Dan tak perlu tahu aktivitasku saat mandi bukan? Waahh.. ya gitu laaah.. Temanku yang satu ini pun pasti setuju ucapanku. Di tengah mandi, karena pemakaian listrik yang overload, tak jarang lampu tiba-tiba padam, istilah gawulnya “njepret”. Beruntungnya sebagai orang yang bukan penakut, aku tidak berteriak-teriak seperti tetangga kamarku. Walau BeTe juga kalau sabun pas nampol di muka atau shampo mulai bermigrasi dari rambut ke sudut mata.. Perrriiihhhh… Mau dibasuh, jelas gelap gulita menghalangi pencarian atas gayungku. Namun syukurlah.. aku punya senjata yang ampuh yakni si korek merah.. Dan karena sudah kutempatkan sedemikian sehingga aku bisa dengan mudah menjangkaunya (sambil mejem juga hayuukk) maka dalam hitungan detik pun.. PYAARR.. terang menggeliat di ruang sempit kamar mandiku..
Hari masih pagi seperti biasanya, aku masuki loker luarku. Karena bekerja di pabrik farmasi, aku dianugerahi dua loker, luar dan dalam untuk memastikan aku tidak membawa partikel asing dari luar lingkungan pabrik. Yang kulakukan adalah melepas baju rumahku, kemudian dengan bergaya Tarzan (daleman doang) masuk ke loker dalam untuk bertukar baju kerja.. Hemh sudah lama juga, hampir dua tahun (waktu kejadian ini berlangsung) dan gilanya aku belum bosan ataupun jenuh dengan itu hingga saat ini. Atau mungkin terlalu menghayati ya.. hahaha… Mungkin juga karena biasa dan menjadi rutinitas, aku tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang istimewa dalam aktivitasku di loker. Setidaknya sampai pagi itu sahabat..
Senyap ruangan loker waktu itu, rekan-rekanku sudah menuju ruangan kerja karena aku tertahan di Lab QC untuk mengurus sampel produk. Kuambil kunci dan mulai membuka loker, tapi akh.. loh.. loh.. berulangkali kuputar tapi loker belum juga terbuka. Kuulangi lagi dan lagi.. tapi tetap aja si loker membandel dan tidak mau terbuka.. Hemh.. kupukuli pelan, kugedor, kutekan sedikit, alaaaaamaaak.. masih aja tegar tertutup untukku. Jengkel sekali rasanyo..Akhirnya aku duduk di kursi loker dan menarik nafas panjang, berdoa sejenak atas keselamatanku dari kost menuju pabrik, dan aku berdiri lagi. Kuulangi memutar kunci yang tertancap manis, dengan mantap, sedikit feeling layaknya maling pembuka brankas, kuputar anak kunci, dan tralalala… terbukalah loker itu. Layaknya dapat durian runtuh atau kenalan cewek cantik nan seksi saja rasanya… (mau nyebut orgasme kok kayaknya lebay & keterlaluan..)
Melanjutkan aktivitasku Sabtu ini, setelah berbagi.. (baca coretanku sebelumnya). Aku menikmati makan siangku di seputaran Depok bersama Arie sahabatku. Terik panas matahari seakan tak menghentikan langkah kami (tak ada tempat berteduh sich hehehe). Apalagi jembatan penyeberangan yang membuat jantung berhenti (lebay ya Rie.. ternyata kamu phobia ketinggian). Akhirnya angkot pun mengantar kami ke warung makan Mbah Jingkrak di jalan Margonda Raya Depok.
Cukup sepi waktu kami mulai memesan, dan lantunan gending jawa pun semakin menyejukkan cuaca yang sebenarnya cukup menyengat tubuh kami. Kupilih satu tempat di pojok tuk menjajal pedasnya menu Mbah Jingkrak (walau sebenarnya tak kupilih menu yang membakar tenggorokan). Dan setelah pesanan datang mulailah kami menyantap tanpa basa basi.
Pagi ini alarm di hape ku berbunyi jam lima pagi, tapi berhubung kantuk masih melanda, kulirik sekilas dan akhirnya kutarik selimutku lagi. Tepat pukul delapan, terbukalah mataku tanpa dikomando dan bergegas kurapikan ranjang yang awut-awutan lalu membasuh muka. Sekilas kulirik secarik kertas memo yang tergeletak dengan santainya di atas si ASPIRE. Ku beringsut mendekat, dan perlahan membaca tulisanku yang kubuat di sore yang lalu.
Training Motivation di Gadjah Mada Plaza
Interview dengan Head Hunter di Cibubur Junction
Jalan-jalan ke Puncak
Donor darah atas undangan sahabat karibku di RS. Mitra Keluarga Depok
Hanya Sabtu Minggu memang.. tapi cukuplah bagiku untuk melepaskan kangen dengan keluarga di Lampung. Walau sedikit menyesal melihat foto-foto salah adik tingkat pas kuliah...