Home Blog Page 22

Matematika Perkawinan..

4

Sluuurrrrpp.. kuteguk Moccacino-ku yang mulai dingin di malam ini. Ketika jemari menyentuh tuts demi tuts si Aspire, hati mulai tidak karuan. Yach.. perasaan senang, sedih, bahagia, dan lain-lain terasa benar mengaduk batin ini. Mulai menulis judul coretan ini pun sudah membuat bulu kudukku merinding. Satu tambah satu sama dengan satu, weitz.. jangan disamakan dengan setangkup obat nyamuk bakar, sepasang sandal atau sepatu, atau hal lain dimana satu unit benda terdiri dari dua unsur yang melengkapi. Tapi ini lain sahabat.. ini adalah Matematika Perkawinan, dimana pria dan wanita melebur menjadi satu unit keluarga.. Saling melengkapi dan menguatkan.. mendukung dan menghargai.. memahami dan dipahami.. dan seterusnya. Bandingkan dengan matematika pada umumnya dimana sampai kiamatpun bilangan satu tambah satu pasti akan sama dengan dua..

Coretan ini hanya sebuah catatan ringan dari kejadian kemarin malam saat menghadiri pernikahan sahabatku Lilex yang kukenal sejak kuliah di Jogja. Aku telah berjanji untuk menunggui (baca : menghadiri) pernikahannya, selain sahabatku Liza yang sudah kutunggui beberapa tahun yang lalu. Janji yang puji Tuhan bisa kutepati kali ini, sebab Tessy tak bisa kutunggui. Yach ini yang terakhir dari wanita-wanita terdekatku saat kuliah yang melepas masa lajangnya. Semoga menular padaku..

aku, lisa, dan lilex yang berhasil kutunggui..
aku dan tessy.. yang tak kutunggui..

Seberapa perhatian kita dengan sekitar?

2

Tak bermaksud menggurui.. hanya ingin berbagi.. semoga sahabat semua mengerti..

Ada tiga peristiwa yang cukup menggelitikku beberapa hari ini. Utamanya karena peristiwa demi peristiwa itu terjadi di sekitarku. Yach.. menggelitik.. Karena bisa menggugah pikiran warasku untuk terdiam dan berpikir tentang seberapa peduliku terhadap lingkungan sekitarku..

crowded-new diunduh dari http://guciano.files.wordpress.com

Peristiwa pertama terjadi saat upacara misa di gereja Santo Thomas Kelapa Dua. Saat sesi pengumuman diberitakan mengenai penerimaan lektor lektris baru (istilah untuk pembaca Kitab Suci umat Katolik). Dalam hatiku bersorak huraaa.. aku pengen banget nge-daftar nich.. Tapi setelah melihat formulirnya, tercantum asal lingkungan mana. Whaaat.. tuing 3x.. aku ni masuk lingkungan mana ya.. Tanpa aku jelaskan bagaimana aku bertanya-tanya ke semua orang mengenai lingkungan dimana aku nge-kost, aku bocorkan saja bahwa aku belum pernah ikut kegiatan lingkungan. Dalam satu waktu di atas tempat tidur setelah doa malam, aku mengurut dada. Tak terasa hampir lima tahun di sini, mendaftar ke ketua lingkungan aku belum pernah, apalagi ikut ibadat lingkungan dan seabrek kegiatan lainnya. Benakku miris jika harus mengingat begitu aktifnya aku di masa SMA dan kuliah. Ternyata jiwa rohaniku mulai tumpul, aku merasa tersesat dari kawanan.. Dan ini menunjukkan ketidakpekaanku terhadap sekitarku..

Mana oleh-oleh buatku??

2

Minggu yang cerah kurasa hari ini.. Sederet rencana tlah kususun rapi, dari beresin kamar ‘bujang’, bobo siang  indah, sampai ke gereja nanti sore. Ssst.. ada pula nyiapin buat pekerjaan besok Senin lho.. (bangga sendiri MODE ON). Setelah sebungkus ketoprak aku sikat.. aku lalu beraksi (30 menit yang lalu sebelum coretan ini terbit). Mulai ‘kurazia’ sudut sudut kamar kos yang tak terasa hampir lima tahun aku singgahi. Aku begitu hafal sepertinya, karena hanya 30 menit kamar ‘mulai’ terlihat rapi.. setidaknya di mataku sendiri. Dasar iseng, tiba-tiba aku berulah mengumpulkan benda-benda kecil di satu wadah plastik di hadapanku. Yup.. ada beberapa oleh-oleh dari berbagai daerah dan negara yang diberikan oleh teman-temanku. Soevenir biota laut dari Ayung, asbak dan kalender unik dari Jeng Indri, beberapa gantungan kunci dari Thailand dan Singapura dari suami Mbak Ning, juga gantungan kunci ’jodoh’ dari Cina yang spesial dari Mbak Sisil. Nich barangnya…

sebagian oleh-oleh dari sahabatku

 Lama kupandang deretan hasta karya tersebut.. dan akupun teringat tentang kisah-kisah lama seputar oleh-oleh. Yang pertama tentu saja Mbah Kung, yang selalu identik dengan hal tersebut setiap kali bepergian, berapapun jauh dan lamanya waktu pergi. Beliau tidak pernah absen untuk urusan yang satu ini, mulai dari makanan hingga benda-benda asal daerah tujuan. Kedua, tentu sahabat-sahabat yang doyan bertukar cinderamata saat perjalanan dinas ke luar negeri, mulai dari cokelat (yang ini standar sich..) hingga barang unik yang mengingatkanku akan dirinya dan tugasnya kala itu. Terakhir tentu diriku sendiri, yang juga gemar merepotkan diri untuk membawa oleh-oleh buat sahabat jika bepergian. Apalagi kalau tempatnya belum pernah kukunjungi.. alhasil biasanya uang saku langsung ludes. Tapi tak pernah menyesal tuh.. rasanya puaaaasss bangeeeettt.. melihat binar ceria sahabat dan ucapan girang terima kasihnya. Walau setahun yang lalu sempat kurasakan ada yang kurang..

Akoe yang selalu ketinggalan…

4

Selepas membuat coretan tentang si ITTA, aku melirik ke rak buku di sudut kamarku. Update sahabat di akun jejaring sosial menggelitikku untuk membaca lagi buku Who Moved My Cheese..  Ini kutipan statusnya dua hari yang lalu..

 

Aku lantas terdiam sejenak.. dan mencoba berpikir beberapa waktu yang lalu dalam kehidupanku. Ternyata aku memang seperti Haw.. yang selalu ketinggalan.. Mau bukti? Kutanyakan pada cerminku (baca: suara hatiku) dan berikut jawabannya..

          Musim friends**r.. aku terlambat punya akunnya

          Musim faceb**k.. aku juga telat buatnya..

          Musim twit**r.. aku juga gak nge-tweet..

          Musim futsal dan badminton.. aku telat memulainya..

          Musim resign.. baru sekarang aku resign..

Akoe dan ITTA.. (Ibu Tukang Tambal)..

0

Drrrt.. drrt… drrt.. Tiga kali  hape ku bergetar saat malam mulai merangkak menyongsong pergantian hari. Rupanya ada sms dari temanku di tepat HUT Jakarta ke-484 (ah.. ga nyambung..). Berikut petikan smsnya yang kubalas satu persatu.. (S : Sahabat dan A: Aku..)

S:  Malam bro.. dah tidur? Jadi resign kah dirimu?

A: Jadi bro.. kenapa?

S: Ah.. kamu mah enak, pendidikan tinggi, pasti kerja dimana aja bisa, beda banget denganku..

A: Loh.. kenapa? Bukannya kamu dah enak juga kerja.. pasti dah tambah pinter kan?

S: Pinter apaan? Aku kayaknya gak bisa apa-apa bro.. Dah tiga tahun cuma gini-gini mulu.. dan selalu di posisi ini..

A: Kok ngomong gitu? Emang kamu dah coba kerjaan lain?

S: Belum bro.. aku juga ga ada kesempatan untuk rolling ke bagian lain..

Yupz.. segitu aja dah petikan smsnya. Pikirku lantas menerawang dalam beberapa balasan sms kami berikutnya. Aku hanya berpikir kenapa kita harus berkata gak bisa kalau belum mencoba? Bukankah salah kalau menilai sesuatu yang belum pernah dilakukan? Semoga kalian setuju bahwa bisa atau tidak, itu dilihat dari hasil akhirnya bukan? Sahabat yang sms diriku pasti akan bisa lebih obyektif lagi dalam menilai dirinya jika dia pindah bagian atau bahkan pindah kerja. Dengan demikian dia akan tahu kemampuan dirinya dan bisa mengatakan dia bisa apa-apa atau justru memang sebaliknya.

Belajar Hidup dari Para Pelaut..

4

‘So balayar sampai so ka ujung dunia.. “

“Banyak doit.. baroyal abis parcuma..’

Satu bait lagu Balada Palau ala country-nya Tantowi Yahya menemani terjagaku pagi ini. Entah kenapa aku justru lebih suka lagu ini daripada bait lagu ‘nenek moyangku orang pelaut..’ ciptaan Ibu Sud yang lebih melegenda. Mungkin karena lagu anak-anak tak lagi biasa kudengarkan sekarang ini. Tapi memang lagu itu mengingatkanku pada dua sahabat yang juga mengais rejeki di tengah lautan walau berbeda profesi. Yang satu sebagai nelayan (Berno) dan satu lagi sebagai awak kapal mancanegara (Anug alias Kebo papane Al dan Wam).

yang ini mah cuma selat bro.. penghujung Desember 2007

Akoe dan Cerminku sore ini..

0

Hemh.. weekend yang menyenangkan (betul-betul relax maksudku..). Tanpa terasa sore segera menjelang.. Yap! Waktunya mandi sore nich trus cari makan dan melewati malam mingguku tanpa seseorang yang special (nasibjomblo.com). Berhubung anak kost dan kebetulan kamar mandi dalam, dengan santainya tinggal tutup pintu dan pastikan korden tertutup rapat.. huplaaa.. setengah bugil dech. Entah kenapa isengku menyergap, dengan santainya aku ngaca depan cermin yang nangkring di salah satu sisi ruang kamarku.. Hemh aku mulai kurus dan jerawat mulai bermunculan beberapa minggu terakhir, menjajah wajahku yang biasanya mulus tanpa penghias wajah yang kusebutkan tadi.. Hemh mandi dulu akh..

Kelar mandi yang cuma beberapa menit (mandi bebek nich kayakna).. Aku coba lagi melihat rupaku di cermin. Akh.. gak ada bedanya, coba mandi lebih lama tadi.. barangkali tambah ganteng ya?? (n.g.i.m.p.i.. kata jin dalam salah satu iklan rokok). Tapi sebentar.. setelah kutatap berapa lama, kok cermin itu tiba-tiba berubah??

Ada beberapa kalimat yang tiba-tiba muncul di cermin itu.. Berubah-ubah.. dan seolah menanyaiku. Padahal menurut cerita-cerita silat jaman Mak Lampir, biasanya manusia yang akan bertanya pada cermin bukan?? Dasar iseng lagi kumat, aku seperti gila menjawab beberapa pertanyaan yang melintas di cermin itu..

Cermin : ‘Apa kabar bro..?’

Akoe    : ’ Baek bro.. sangat baik.. mang kenapa?’

Cermin : ’ Agak kurusan kelihatannya?, stress bro?’

Akoe    : ‘ Sok tahu.. aku malah lagi nyaman-nyamannya kok..’

Cermin : ‘ OK dech bro.. moga harimu menyenangkan..’

Secangkir Kopi Sisa Pagi Tadi..

2

Huff.. rasanya capek nian badan ini.. Mau mandi males.. palagi kalau dah nyium ‘air’ di udara yang kuhirup. Pertanda hujan nich.. Hemh, sok tahu juga ternyata diriku.. Tapi dengan malas akhirnya kubasahi juga tubuhku dengan guyuran demi guyuran air di kamar mandi. Entah kenapa.. hari ini air terasa menyejukkan dan menyegarkan bagiku. Ups.. ternyata hujan turun juga.. pertanda ramalanku tidak meleset.. semoga tidak meleset juga untuk beberapa rencana yang kuramalkan akan beroleh hasil maksimal.

Mulai deh celingak celinguk cari ‘sesuatu’ yang bisa dimakan atau diminum walau sejatinya kamu sudah makan sore tadi. Hupla.. entah kenapa mataku tertuju pada secangkir kopi instant yang masih ¾ gelas di dekat dispenser. Walau tak berada di dalam kulkas, tapi pastinya dingin sebab itu sisa minumku tadi pagi yang tidak kuhabiskan sebab jam berangkat kerja sudah mendesakku. Sambil tersenyum menang, kunyalakan dispenserku dan menunggu.. Tak berapa lama saat air panas siap, kutuang air panas ke cangkir kopi agar isinya kembali menghangat.. Dan srupuuuutttt.. walau sisa enak juga looh.. Hahahaahhhaaaa…

Lima pelajaran baru dalam hidupku..

0

Di tengah dinginnya malam di tanahku, dan nyamuk-nyamuk yang menyapa dengan suara khas dan ‘penjajahan’ mereka atas tubuhku, kamu coba gerakkan jemari ini di tuts Aspire yang nangkring dengan tenang di meja kecil yang hampir seumuran denganku. Kusyukuri nikmat Tuhan dengan bertambahnya usiaku hari ini, dan kesempatan untuk berkumpul bersama keluargaku walau minus si bontot yang tengah di Jogja menimba ilmu.

Hemph.. teringat obrolan pengiring ngopi bareng Pak Boz siang tadi, juga Bu Boz sejam yang lalu seraya mempersiapkan baju rias untuk esok hari. Ku coba merangkumnya menjadi lima pelajaran penting dalam hidupku. Kenapa lima? Biar seperti Pancasila.. bukan ding.. tapi karena biar gak kemana-mana, jadi mulai dari sedikit dahulu. Apalagi yang akan kucoretkan rata-rata adalah ‘pemberontakan’ terhadap pelajaran hidup yang selama ini kuyakini.. Salah atau benar, silakan dinilai dengan hatimu setelah membaca  ini…

Bahwa Sahabat.. Untuk Selamanya..

0

Waktu terasa tak lelah berubah bukan? Hanya dalam layar kaca sajalah bisa terulang atau diputar kembali.. Sedangkan dalam nyata yang kita hadapi.. Tak ada kamusnya tuk berhenti dan dia terus berlari..

Kitapun demikian..  Setiap hari.. jam.. bahkan hitungan detik.. Berbagai warna silih berganti menghiasi.. Banyak sahabat datang dan menghilang pergi..

Menghilang pergi?? Ach.. kurasa tidak begitu adanya..

MUST READ

Akoe dan Cerminku sore ini..

0
Hemh.. weekend yang menyenangkan (betul-betul relax maksudku..). Tanpa terasa sore segera menjelang.. Yap! Waktunya mandi sore nich trus cari makan dan melewati malam mingguku...