Tulisan ini kumulai Jumat malam tepat setelah acara Kick Andy di satu TV swasta dimana di akhir acara dilantunkan lagu berlirik ‘Mother.. How are You today..dst.’ Hemh.. sangat menyentuh kalbu terlebih saat coretan ini kubuat sebagai kado yang terlambat untuk ibuku di Hari Kartini.

Habis Gelap Terbitlah Terang.. Yach satu buku dari R.A. Kartini yang berisi surat-suratnya kepada sahabat sahabatnya di negeri Belanda. Buku yang berisi luapan isi hati Kartini dan besarnya keinginan beliau untuk membebaskan kaumnya dari penindasan dan pengekangan yang belakangan dikenal sebagai perjuangan emansipasi wanita. Perjuangan untuk mensejajarkan wanita dengan pria dalam berbagai aspek hidup yang sebelumnya diklaim sebagai ‘areanya’ pria. Dan rupanya, secara tidak langsung buku ini menginspirasi Ibuku dalam menjalani profesinya.
Jika ditanya sahabat, aku selalu jawab bahwa Ibuku adalah dosen, ya.. dosen SD maksudku sambil berkelakar. Ibuku seorang pendidik yang telah menghabiskan separuh dari umurnya sekarang untuk membekali generasi muda sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah (bagi yang mampu tentunya..). Tamatan SPG yang karena regulasi DepDikBud (dulu..) harus meneruskan sekolahnya ke DII penyetaraan dan belum lama menamatkan S-1 nya dengan ‘selamat’. Yup.. dengan ‘selamat’ karena di usianya yang berkepala empat, Ibu masih harus berkutat dengan modul Matematika, Bahasa Indonesia, bahkan Bahasa Inggris, dan sederet bidang ilmu lainnya. Bahkan tak jarang karena keterbatasan jam pelajaran atau dosen pengampu, Ibu harus belajar sendiri di rumah. Waooooww..
Meski profesi utamanya adalah pengajar, tapi Ibu juga menjalani sederet profesi lain seperti menerima pesanan kue, jual beli barang kreditan, dan sampai rias pengantin. Tak ada gelap yang ditakutkan beliau, yang ada hanyalah harapan akan terang, untuk membiayai anak-anaknya termasuk diriku sampai ke jenjang perguruan tinggi. Dengan selorohnya beliau akan berkata ‘untuk kredit sawah di Jogja’ jika ada yang menanyakan kenapa Ibu sampai mau menjalani profesi lain di samping profesi utamanya. Kredit sawah itu diumpamakan sebagai kami yang tengah menempuh ilmu di Jogja dan kelak panenannya adalah keberhasilan kami menamatkan pendidikan tersebut, bekerja, menikah, dan menghadiahkan cucu atau cicit untuknya (untuk Bapak juga pastinya…).
Kadang tak habis pikir juga bagaimana Ibu bisa membagi waktunya dengan sederet profesinya. Yang kutahu memang sesekali beliau membolos dengan ijin khusus jika order rias pengantin ada yang diterima di hari kerja, bukan weekend atau hari libur sekolah. Mmmm.. jangan dilaporkan KanWil ya.. nanti Ibuku dimarahin nech. Well.. mari kita bicarakan aspek lain daripada berkutat dengan regulasi resmi, yaitu aspek ketegaran hati Ibu dalam profesinya..
Bila datang order rias pengantin, Ibu dibantu Bapak akan sibuk berbagi tugas untuk menyelesaikannya. Sehari sebelum hari H, Ibu akan menata semua perlengakapan mulai baju pengantin, panitia, alat2 di ruang makan dan tetek bengek lainnya di pagi hari. Siangnya Bapak mulai mengangkut semua perlengkapan dan peralatan ke tempat resepsi, menyelesaikan dekorasi hingga larut malam atau pagi menjelang. Lalu pagi hari H, Ibu akan ganti beraksi untuk mendandani sang raja dan ratu sehari plus sederet pengiring dan panitianya. Malamnya gantian Bapak membongkar dekorasi dan Ibu istirahat. Besok paginya.. cucian menanti.. sambil berharap hujan tak mampir ke rumah, cepat kering, cepat rapi lagi.. Baru deh tenang-tenang nunggu segepok rupiah menghampiri dari empunya hajat (20 ribuan paling mendominasi.red).

Sahabat..
Padat nian jadwal Ibu bukan.. Tak jarang hari H hujan dan Ibu pun belepotan lumpur menjaga dekorasi tetap indah dengan mengatur ulang.. Atau kadang resepsi berada di wali murid, teman sekolahku, atau bahkan calon besannya dulu (wahwaahhhh..). Tapi percayakah.. tak ada gengsi atau jaim dari Ibuku, semuanya sikat habis dan penuh totalitas tanpa pilih kasih..
Sahabat..
Semula aku beranggapan Ibu sungguh butuh uang untuk semua profesinya itu… Namun setelah aku bekerja, dan si bungsu juga bekerja di sela kuliahnya.. Ternyata Ibu juga masih melakukan hal yang sama.. Sehingga suatu ketika, kutemukan jawab sejatinya..
‘Dulu.. memang semua demi kredit sawah di Jogja..
Namun sekarang semuanya hanya untuk kepuasan batin dan membantu sesama..
Pernah kau hitung rupiah yang kami terima.. tak seberapa bukan..
Mungkin hanya seperempat atau setengah gajimu..
Tapi semua mendatangkan kelegaan hati karena profesi ini tetap lestari..
Sampai jemari ini tak lincah lagi memainkan lipstik dan maskara..
Hingga mata ini tak lagi apik memadu warna eye shadow dan foundation..
Atau jika raga ini tak mampu lagi ON dari pagi sampai malam di ruang rias..
Ibu tak akan berhenti.. ‘
Sahabat..
Aku menjadi malu, karena kadang aku terlalu gengsi untuk menambah isi dompet ini.. Mengagungkan semua dari profesi utamaku.. Padahal semakin lama, semua akan bergeser dari materi ke kepuasan hati, bahkan semangat membantu dan melayani..
Terima kasih Ibu, ajarkanku untuk kesampingkan gengsi dalam hidup ini..

Luar biasa………… gaya hidup yang patut diteladan
i……….
amiiiinnn…
Lha podho.. haha.. *tur bedo sampingan.. 🙂
lha dirimu sampingane opo dhab..
[…] di sini dan di sini, maka aku MEMBENCI Bu Bos. Masih inget siapa bu Bos? Salah satunya bisa dibaca di sini.. Kenapa? Yah.. gigiku yang kuning, tak berderet rapi, gusi yang tidak OK, perawakanku yang pendek.. […]