Home Blog Page 7

#15.. Tukang Cuci Piring La Verna

0

Saat tahun pertengahan tahun 1998, dimana aku mulai kelas dua SMA, mulailah beberapa petualangan seru yang kadang menegangkan, bahkan konyol dan tak masuk akal. Daripada bicara yang tegang, mending kucoretkan saja satu dari sekian kekonyolanku di masa putih abu-abu.

Kelas dua waktu itu aku sudah berpacar.. hihihi. Namun karena anggota PPA wicis waktu untuk berduaan juga hampir tidak ada, rasanya bisa ngelihat di gereja saat misa pagi aja dah luar biasa. Apa lagi gandengan tangan.. Padahal sekarang kalau nggak cipokan atau bergumul saat pacaran, sebagian besar akan bilang gak afdol alias kurang cetar membahana.. Nah, akhir minggu kalau tidak pulang ke rumah (baca:mudik), pastinya di kos atau ngapel ke asrama dengan waktu dan lahan pacaran yang terbatas.. (kadang sampai rebutan lapak)..

Semua begitu-begitu saja sampai akhirnya mengetahui dan tertular virus kakak kelas (rombongan mas Andre cs.) yang sering menghabiskan waktunya untuk ke Rumah Retret La Verna,di daerah Padang Bulan, bahkan sampai nginep segala. Wuaah.. sepertinya religius sekali, katanya sih mbantuin para suster untuk melayani rombongan yang retret.. Makan gratis pula!! Dasar anak kost, berhubung kiriman juga cekak.. maka kuturuti dengan nimbrung ke rombongan si kakak-kakak yang juga seniorku di OSIS. Minggu pertama langsung di OSPEK dengan bergerimis jalan kaki dari jalan aspal ke arah rumah retret lewat jalan pintas. Licin, becek, gelap, dan gak ada ojeeek. Demi Tuhaaaaan..

Rumah Retret La Verna (dikutip dari http://fsgmindonesia.blogspot.com/)
Rumah Retret La Verna                                                              (dikutip dari www.fsgmindonesia.blogspot.com)

#14.. Kesurupan!!

0

Waduh.. ternyata target awal untuk menulis setiap hariku di blog sederhana ini benar-benar gagal. Baru 14 coretan kubuat dan melihat tanggal (sudah hari ke-22) nampaknya harus kerja keras untuk mencoretkan “rapelan” dari targetku. Tapi tetap semangat.. apalagi kali ini tema yang kuangkat adalah KESURUPAN!

Ya.. di masa putih abu-abuku pernah aku mengalami kesurupan atau dirasuki roh halus saat pelajaran sekolah usai. Aku masih ingat waktu itu ada Pak Harto guru Ekonomi yang menyadarkanku. Entah kenapa tiba-tiba seluruh tubuh kejang, teman-teman mengecil di pandanganku dan selanjutnya aku tidak ingat lagi. Menurut teman-teman mataku melotot, tubuhku kaku semua, dan dipapah menuju ruang UKS. Yang kuingat adalah bisikan Pak Harto bahwa yang bisa menyembuhkanku adalah diriku sendiri sehingga membuatku berdoa dalam hati agar lepas dari kondisi saat itu.

Saat pulih kurasakan lemas dan capek sekali, teman-teman mulai normal ukurannya di pandanganku. Konon kabarnya aku kerasukan salah satu roh halus penghuni sekolah yang mampir di saat pikiranku sedang kosong. Yang aku ingat waktu itu aku sedang patah hati karena putus cinta. Ahaaay…

So.. ada yang patah hati? Siap-siap aja kesurupan deh.. Kesurupan buat cari pengganti maksudku.. hehehe..

#13.. Jurit Malam Perdana..

6

Weekend plus cuti sudah usai. Waktunya kembali ke kerjaan dan mempersiapkan dua hal besar sekaligus buat pabrik di minggu ini yaitu peringatan ulang tahun pabrik dan juga kunjungan Badan POM dalam rangka pemetaan industri obat tadisional. Kerja keras dan kerja cerdas nih nampaknya.. Tapi tetap berusaha buat mbayar hutang beberapa coretan yang tertunda. Masih sama tentang true story of me sih.. Kali ini adalah satu cerita tentang Jurit Malam..

Ya, satu kegiatan penggemblengan mental yang lazim dijumpai dalam latihan kepemimpinan dasar tempo dulu baik di OSIS, Pramuka, ataupun kegiatan keorganisasian lainnya. Rasanya di menjelang akhir latihan akan ada si JM (Jurit Malam) ini. Apakah merayap, merangkak, berguling, naik, turun, bahkan melintasi lokasi menyeramkan semisal kuburan. Kalau sekarang daripada jurit malam rasanya mending ditutup dengan Desah Malam aja deh.. makanya banyak pemimpin melempem karena cewek.. hahaha..

Aku? Jelas mengalami.. beberapa kali malah.. Tapi ternyata yang mengesankan tetaplah yang pertama. Yaitu waktu PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu) calon Ambalan di Lapangan Misi Pringsewu. Namanya anak yunior, pasti nurut ketika malamnya diminta melaksanakan jurit malam berkedok ‘mencari jejak’. Acara dimulai jam 10 malam, nyari jejak apa coba..

#12.. Partai Pecinta Asrama..

2

Setelah sunat.. dimulailah kisah masa putih abu-abuku. Dimulai dengan jatuh cinta dengan anak di bawah umur hanya karena salah seragam hahaha.. Tapi memang menyenangkan sekali menikmati kisah cinta masa SMA. Semoga sahabat juga pernah mengalaminya… kalau nggak yuk balik lagi yuuk.. (dengan penuh semangat). Iya lah, masa dimana kenalan masih malu-malu, dijodoh-jodohin, pegangan tangan dah gak bisa tidur, dicium pipinya pura-pura kaget trus ngambek padahal seneng banget, punya pacar ibarat sebuah status, maksa si Cupid buat nyatakan cinta di belakang sekolah dan sebagainya.. Kalau sekarang? Ufft.. miris melihat video porno berhamburan di dunia maya dengan berlatar belakang atau ber-genre putih abu-abu.

Sekolah menengah umumku di Pringsewu, Kabupaten Tanggamus, Lampung (sekarang sudah jadi Kabupaten Pringsewu), memang mengharuskan aku dan beberapa teman yang bukan anak asli situ untuk berpisah dari orang tua dan mulai ngekost. Khusus untuk kaum cewek bisa memilih untuk ngekost atau tinggal di asrama. Ups Asrama?!? Ya.. mereka yang mempunyai suster (rohaniwati) pembina, pergi minimal harus berdua-dua, tidak boleh pakai celana panjang tetapi harus pakai rok kemana-mana (keluar asrama), wajib ikut kegiatan rohani, dan seabreg kegiatan lainnya. Mungkin peraturannya kini sudah berubah.. mungkin asramanya sudah bertambah.. mungkin.. mungkin.. aku tak peduli karena itu adalah pilihan.

Lantas? Apakah aku tahu suka dukanya hidup asrama? Ya jelas mboten ngertos.. karena tidak tinggal di dalamnya.. dan meski aku sering menyatroni dan akrab dengan penghuninya. Hanya saja karena penghuninya adalah kaum Hawa, tentu saja ada kisah antara aku dan Asrama.. kisah asmara tepatnya.. seperti apa?

#11.. SUNAT..

0

Hahaha.. mengingat lima deretan abjad pembentuk kata di atas jadi inget si kenthus adik sepupuku yang selalu ngancam Om Bro, bapaknya, untuk disunat dengan segera apabila sedang marah.. Padahal baru kelas empat SD.. waktu itu Om berencana memotong kepala “burung” adik sepupuku itu kalau sudah kelas lima SD. Biasanya lantas diceritakanlah kapan aku sunat.. wooooo…

Ya, jika akhirnya adik sepupuku disunat saat naik ke kelas 6 SD, beberapa sepupu juga menjelang naik jenjang ke masa putih biru, bahkan adik kandungku juga sama, tetapi aku disunat saat? Lulus SMP.. hehehe. Sudah berbulu dan membuat sesi ukur baju di SMA kulewatkan karena masih dalam tahap penyembuhan.

Khitan atau sunat untuk cowok memang tidak memandang umur, bisa saat balita, SD, SMP, SMA, bahkan dewasa. Misal sahabatku ada juga yang sunat saat sudah menjadi mahasiswa. Ada pula memang beberapa suku yang tidak melaksanakan proses ini. Ya, semuanya adalah pilihan, terkait tradisi atau kesehatan dimana sunat mempermudah kaum lelaki untuk menjaga kebersihan organ vitalnya.

Sunat kadang juga dibuat anekdot atau bahan candaan para pria saat menggoda satu sama lain apalagi jika ada yang tidak sunat.. misalnya..“Makan pisang itu kulitnya  harus dibuka, kalau nggak bisa keselek..”. Candaan ini bertahan lama bagi mereka yang tak disunat hingga aku menemukan jawaban tepat dan telak bagi mereka yang disunat. Apa itu?

#10.. Marah Dahulu (Angry Management Yang Sesat)

2

Pernah nonton film Angry Management? Atau dapat training mengenai hal tersebut? Bagaimana mengelola “marah” sehingga tepat sasaran dan tidak buang energi? Yup.. marah yang tidak jelas memang menjengkelkan bukan hanya buat si penerima tetapi juga buat pelakunya lho.. Bagaimana tidak? Sebab marah tentu mengeluarkan energi yang sangat besar. Itu baru satu “marah”.. kalau dua “marah” pasti lebih capek.. kalau sering “marah-marah”? itu tandanya MENYEMBUNYIKAN KELEMAHAN / KEKURANGAN.. Percayalah..

Namun percaya atau tidak, meski menonton filmnya baru di usia 20-an, ternyata aku dimasa kecil sudah menerapkan Angry Management meski sesat? Loh kok bisa..

#9.. My First Course.. LPK Professional..

0

Siang ini karena melihat satu tayangan di TV swasta tentang anak kecil yang fasih berbahasa Inggris, otakku tergelitik untuk kembali  mengingat kembali kapan aku mengenal bahasa asing ini pertama kali. Ya.. dulu aku tidak seperti anak balita jaman sekarang yang sudah mengenal kata “Yes”, “No”, atau bahkan mengeja, berhitung, berbincang, menulis, membaca, bahkan berpidato dengan fasihnya menggunakan bahasa asing yang satu ini. Malah bahasa Jawa kromo inggil yang kupelajari hehehe.. Mungkin itu satu faktor kenapa aku sampai detik ini pun tidak lancar berbahasa Inggris.

Aku mengenal bahasa asing ini pertama kali di SLTP melalui Pak Ansor guruku. Namanya bocah kampung, sungguh sulit bagiku untuk mengikuti pelajaran ini apalagi Pak dan Bu Bos juga tak pernah mengajarkannya di rumah. Tapi karena pantang menyerah maka akupun mencoba belajar dari teman-teman yang lebih jago hingga akhirnya untuk mengikuti kursus bahasa inggris seperti mereka. Proposal pun kuajukan pada ortu untuk mengikuti kursus tersebut dan ternyata langsung dikabulkan. Maka setelah sekitar setengah tahun mengenyam masa putih biru, akupun mulai lebih intens belajar bahasa resmi internasional itu di Lembaga Pelatihan Kursus Professional yang berjarak sekitar 3,5 kilometer dari sekolahku.

Dua kali dalam seminggu aku dan beberapa rekan diberi pengetahuan tambahan oleh Pak Sabina (pemilik sekaligus pengajar di LPK Professional) serta kakak-kakak mentor yang juga anak didikannya. Di tempat itu aku pertama kali berhadapan langsung dan mengoperasikan komputer karena paket yang kuambil sekaligus dengan kursus komputer. Well.. tahu sendirilah kalau wong ndeso menghadapi sesuatu yang baru.. Seneng-seneng takut.. takut kalau sampai ngerusakin maksudnya..  Materi bahasa inggris mulai dari grammar, vocabs, dan speaking sedangkan untuk komputer adanya WordStar dan DOS. Hehehe.. setahuku awal masuk, aku dan rombongan masuk grade Elementary alias yang baru kenal bahasa Inggris. Jelas lah.. mengucap sebelas dan gajah dalam bahasa itu terdengar masih sama.

Sepulang sekolah biasanya akan ngepos dulu di rumah salah satu teman atau langsung berangkat meski nunggu jam kursus yang dimulai pukul 14.30 atau 15.00 sedangkan jam sekolah bubar pukul satu siang. Hebatnya meski jalan kaki dari sekolah ke tempat kursus, tapi aku dan teman-teman jarang sekali bolos.. Lah iya wong mbayar, mau dijewer kalau bolos hehehe. Mau berangkat kepanasan atau pulang kehujanan tapi kami tetap semangat apalagi ada gacoan dan digaco-gacokan di tempat kursus.. Serunya masa putih biru..

Sahabat, itulah kursus pertamaku.. dan setelah di dunia kerja, kira-kira lebaran empat tahun yang lalu aku masih bersilaturahmi ke Pak Sabina meski beliau sudah lupa karena anak didik yang begitu banyak. Setidaknya beliau turut berjasa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia eh.. kok malah UUD’45, mengantarku sampai ke titik sekarang ini maksudku. Bekal bahasa Inggris yang membantuku untuk melewati masa putih biru dengan mudah meski awalnya seperti kepompong yang tak tahu mana utara dan selatan. Semoga lebaran kali ini bisa bersilaturahmi lagi ke tempat itu.. Amin.

 

#8.. Servis PKK..

0

Sebelumnya geli sendiri jika mengingat istilah yang aku jadikan judul coretan kali ini. Satu istilah yang mungkin pernah sahabat temui di sekitarmu dan ada di permainan voli, ya bola voli.. bukan volivonik atau voliklinik.. hehehe. Sebenarnya untuk menyebut awalan dimulainya permainan setelah penambahan angka (sistem rally point) atau pindah bola (aturan terdahulu) yaitu serve atau service. Namun berhubung lidah Indonesia makanya disebut servis.

Nah kalau PKK? Persatuan Kawak-Kawak? Oh bukan.. sebenarnya akronim dari Pembinaan Kesejahteraan Keluarga. Bukan karena Bu Bos adalah dedengkot dari perkumpulan para ibu ini tetapi karena saat digabung dengan istilah service menjadi satu teknik dari sekian teknik dasar service volley. Servis PKK adalah olok-olok kepada seorang cowok yang melakukan teknik service bawah. Kenapa? Karena biasanya ibu-ibu PKK lah yang melakukannya. Cowok biasanya identik dengan service atas ataupun jumping service. Hemh.. selengkapnya bisa dibaca di sini, sini, atau dilihat di sini deh..

Lalu apa hubungannya dengan True Story of Me? Ya tentu saja ada.. karena aku senang berolahraga maka bola volley pun menjadi salah satu favoritku. Di masa putih biru.. badanku yang mungil tentu saja tidak mendukung jika akan berposisi sebagai spiker, quicker, atau smasher.. paling banter ya tosser atau cadangan hahaha.. Apalagi banyak teman-teman yang lebih jago sehingga biasanya aku hanya eksis di pertandingan antar kelas dimana ada satu teman yang cidera hehehe.. kasian bangeeed..

Suatu ketika di event class meeting (pertandingan antar kelas) yang diselenggarakan setelah ujian catur wulan, aku dapat kesempatan untuk tampil menjadi tosser menghadapi team volley kelas lain. Namun setiap kali service.. teriakan huuu.. dan olok-olok “PKK.. PKK..” kok bersahutan ya? Tadinya aku kira PKK kepanjangan dari Pria Kecil Kereeen.. Namun ternyata  karena aku melakukan teknik service bawah yang hanya satu-satunya dari 12 pria yang berlaga. Gak mau kalah gertak, aku lantas melakukan service atas setiap kali dapat giliran.. dan hasilnya waow.. nyangkut di net, lewat bawah net, dan melenceng dari area lapangan. Penonton akan terpingkal-pingkal dan bersorak riuh karena berarti team-ku kehilangan kesempatan mendapatkan poin. Tapi memang teriakan service PKK tidak terdengar lagi dan team lawan makin getol menambah pundi-pundi nilai mereka. Set pertama kalah telak..

Set kedua berjalan dan dengan angkuhnya aku masih melontarkan service atasku yang selalu gagal.. Namun teman-teman lantas menegurku untuk service bawah saja kalau memang belum menguasai service atas karena team butuh poin.

“PKK yo ben.. sing penting poin ndisik, lambe penonton rasah digagas..”

#7.. Nabrak Ojek.. Batal Puasa..

0

Coretan kali ini hutang hari yang lalu karena sibuk masuk malam tidak bisa memenuhi target setiap hari nulis. Tapi ya gapapa, namanya juga target, kadangada melesetnya kan? Kalau sudah melewati masa putih-merah.. saatnya lanjut ke masa putih biru dong. Ya, pendidikan lanjut pertamaku aku nikmati di SLTPN 2 Labuhan Maringgai atau juga disebut SMP Negeri Sri Bhawono. Dimana itu? Coba deh tanya mbah Google atau intip di sini.

Suatu ketika waktu kelas dua ada ujian catur wulan, kalau tidak salah peralihan dari sistem semester. Aku masih ingat waktu itu agak terlambat di hari terakhir ujian sehingga buru-buru berangkat dari rumah. Ceritanya waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan dan aku menemani pak Bos puasa, setelah sahur eh tidur lagi, kesiangan deh.. Mandi bebek dan langsung ke jalan besar cari angkot, dapat angkot pick up yang dimodifikasi (ada tudung buat penumpangnya) pun kebagian “nggandul” alias berdiri sambil pegangan tiang penyangga tudung. Bodo amat.. yang penting tidak telat ujian..

Sampailah depan gerbang menuju sekolah, bayar angkot, langsung nyebrang..

tiba-tiba GEDUBRAAAAK!!  Aku terjengkang.. PINGSAN..

#6.. Aku Gak Bisa Berenang

2

Siang itu terik matahari rasanya membakar kaki-kaki kami.. Ya beberapa lelaki kecil usia belasan, aku dan teman-teman tetanggaku,  baru saja menyelesaikan anjangsana dalam rangka Lebaran ke rumah kerabatku. Waktu itu di tengah panasnya cuaca ada satu teman yang mengajak renang di Kali Mesin yaitu semacam danau buatan yang sengaja untuk mengaliri persawahan penduduk. Aku sedikit protes karena saat itu aku sangat dilarang keras oleh Pak dan Bu Bos untuk main di kali kalau tidak didampingi mereka. Tapi binary mata penuh harap dari kawan-kawan meluluhkan hatiku juga yang saat itu dipercaya jadi ketua rombongan. Weh… hebat amat? jelas dong.. karena untuk mencapai TKP yang dekat rumah kerabatku harus naik angkot dan kebanyakan mereka belum pernah atau sesekali saja naik kendaraan umum sedangkan aku lebih sering melakukannya sendirian (ini kalimat panjang untuk mengatakan mereka takut naik angkot hehehe).

Kami pun meluncur ke TKP dengan berjalan kaki .. Begitu riuh mereka dan begitu ciut nyaliku.. Takutnya Pak dan Bu Bos tahu, bias kena semprot. Tapi mungkin karena ‘pelarangan’ itu, yang juga dialami oleh kawan-kawan sepermainanku dari orang tuanya merupakan salah satu faktor aku dan sebayaku bertubuh mungil sedangkan adik-adik kami tinggi menjulang seperti tiang listrik karena bebas berenang. Yah itu sudah nasib..  Sepanjang perjalanan aku cuma menunduk setiap berpapasan dengan orang karena siapa tahu kenal diriku. Bisa bocor ke ortu deh..

Sampai di TKP, tanpa ba bi bu langsung deh telanjang bulat dan nyebuuur. Mereka ternyata begitu lincah berenang meski tidak semua, kami berdelapan waktu itu, nampaknya sering nyolong-nyolong ke Kali Mesin ini deh.. Aku? Hehehe.. main aman aja mas bro.. ambil area yang airnya  sepinggangku atau mungkin selututmu sekarang karena dulu mungil banget sampai sekarang juga sih. Tapi anak kecil, aku tertarik juga mengikuti polah mereka, pertama sambil pegang bebatuan di pinggir kali, tapi lama-lama mulai berani agak ke tengah yang lebih dalam sambil berjalan jinjit hehehe.. sampai akhirnya BYUUUUR.. BLLUULLUUUP.. aku memijak ruang kosong yang ternyata lebih dalam dari area semula.. Matiii akuuu..

MUST READ

Dan Valentine kali ini adalah kejutan untuk Ibuku..

2
Sudah jam 01.00 sehari setelah Valentine’s Day saat kutulis coretan ini.. Hanya suara jangkrik di sekitar dapur mess pabrik tempatku menggoyangkan jemari di atas...

WhO MovEd My CheeSE?

Refleksi 2019 Resolusi 2020