Home Blog Page 8

#5.. Ngintilan Lan Klayu..

0

Barangkali ada yang mengerenyitkan kening saat membaca judul coretan kali ini. Yap.. dalam bahasa Indonesianya berarti apa ya? #garuk-garuk.. Pokoknya suka ikut bepergian dan mengintili eh mengekor. Itulah aku dulu.. sekarang sih kadang-kadang meski lebih sering dikintili dan diklayoni hahaha..

Tahun 90-an di desaku banyak sekali pemuda-pemudi yang merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Tak terkecuali dengan Om dan Bulik yang notabene adik-adik kandung Ibuku.. Ada si Nyah Ipit, Wek Wung, Om Bandot, dan Om Plenton.. Hemh, dan jaman dulu rasanya merantau itu sangat jauuuh karena komunikasi hanya via surat pos. Ketemu pun hanya beberapa kali dalam setahun dan sungguh berbeda dengan sekarang dimana bisa dipotong dengan perjalanan udara ataupun video call untuk tahu kabar dan kondisi saudara saat berjauhan. Minimal ya SMS, BBM, atau sekedar misscall biar ditelepon balik.. hahaha..

Ada saat-saat tertentu bagi empat perantau di atas untuk pulang ke rumah Mbah Kung dan Uti. Selain Natalan, Lebaran, Tahun Baru, ada juga hari-hari seperti ulang tahun desa dimana para perantau seolah punya janji untuk reuni dengan teman-temannya baik sesama perantau atau yang stay at village. Hemh.. rasanya kebiasaan itu sudah mulai memudar seiring modernisasi jaman dan mungkin daya jual dan pesona “ulang tahun desa” yang mungkin kalah pamor dengan gemerlapnya kota. Aku masih ingat bagaimana ulang tahun tetangga desa yaitu Sri Bhawono benar-benar menjadi agenda rutin para perantau, minimal jajanin bakso dan martabak buat saudara-saudarinya di rumah lah..

Aku lupa.. ada satu lagi yaitu liburan sekolah, dimana salah satu perantau pasti ada yang pulang. Kenapa? Karena ada satu anak kecil yang selalu menanti penuh harap di depan rumah (padahal gak ada kabar mau pulang via sms atau kentongan sekalipun). Atau si anak kecil itu tadi tiba-tiba terbangun pagi karena mendengar ada derit mobil berhenti di jalan besar yang jaraknya 100an meter dari ranjangnya. Meski gerimis atau dingin bukan kepalang, dia akan berlari kecil sampai depan rumahnya atau tak jarang ke arah jalan besar dan sering pula melangkah pulang dengan gontai bila ternyata hanya truk yang berhenti atau memang mobil penumpang tetapi bukan sosok yang diharapkannya. Ah.. dia benar-benar sok paham bahwa empat perantau pujaannya itu selalu datang pagi-pagi buta. Kadang terisak dia di kamar atau menghambur ke pelukan bapak ibunya sambil berkata masygul..

“Tak kiro Om opo Bulik kundur..”

(sumpah nangis juga sekarang diriku..)

#4.. Goceng untuk sebuah huruf “R”

0

Sore sudah berganti malam di seputar Cikande saat coretan ini mulai dibuat. Satu coretan yang membawa benakku ke puluhan tahun silam ketika masih menikmati masa kecil. Terutama jika mengingat satu SMS yang barusan mampir bertamu di layar hapeku. Pesan singkat dari kawan lama yang mengusik kekurangan fisikku..

“Bro.. pa kabar? Masih belum bisa ngomong “T” dan “D” dengan benar? Hehehe..”

Aku terkikik geli karenanya.. Ya, aku mungkin termasuk golongan cadel karena tidak bisa melafalkan dengan benar kedua aksara di atas sampai sekarang. Bahkan sampai kelas enam SD aku baru bisa mengucapkan kata “R” dengan benar. Hahaay.. padahal kalau melihat adik dan adik sepupuku rasanya cepat sekali mereka bisa berkata “serrrraatus” atau “jerrrapaaah” bahkan mungkin bisa mengucap “ular mutar mutar di pagar karena gemar melingkar-lingkar”.

#3.. Belajar dari Gak Matching..

0

Malam mulai beranjak dan kembali saya kalah permainan True or Dare.. True yang ketiga kali ini masih di jaman sekolah dasar saya. Seorang anak usia balita waktu biasanya masih akan ditentukan bajunya oleh orang tuanya. Mulai dari baju seragam TK, SD (waktu umur lima tahun kebetulan saya sudah berseragam putih merah), bepergian, dan sebagainya. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku untuk saya karena biasa memilih baju sendiri sesuai keinginan. Ehm.. harusnya tidak ada yang istimewa memang mengingat jaman sekarang anak usia 3 tahun pun akan menangis merengek minta baju gambar Angry Bird atau Shaun The Sheep. Jika flashback ke 10 tahunan silam mungkin baju Batman dan Superman yang dilengkapi topeng dan sayap khas kedua super hero tersebut.

Namun.. suatu ketika saya tak sengaja melihat kembali album masa kecil di rumah budhe yang salah satunya berisi kegiatan lomba Natal di gereja. Dan tralala.. muka menjadi merah karena tepat di salah satu foto terlihat saya yang sedang memegang bingkisan sebagai Juara I menyanyi rohani. Muka merah bukan karena bangga dulu sering juara tetapi karena melihat tampilan saya yang alamaaak.. nggak banget!!

Ganteng sih masih (hehehe..), sisiran belah pinggir, mengenakan kemeja biru, celana kuning pendek, kaos kaki belang-belang pink dan hitam, serta sepatu putih. Gubrak!! Gak Matching babar blaaas.. Sontak sebelum pingsan karena malu saya lirik Ibu dan beliau menggeleng sambil berujar.. “itu dulu kan mamas yang ngotot pake, katamu biar tambah ganteng..” woooo Demi Tuhaaaaaan… ganteng dari Hongkong?!?!? trend fashion 2013 ngalahin personel SuJu!!

begini bentuknya.. matching kan..
matching kan..

Setelah siuman dari pingsan, saya mengamati kembali ‘bentuk’ saya waktu itu dan ya ampyuuun… pingsan lagiii…

#2.. Nyanyi di Radio

0

Eits.. ganti hari rupanya.. waktunya buat setor coretan buat memenuhi tantangan nih.. Edisi kedua kategori ini adalah pengalamanku nyanyi di radio yang ternyata sampai detik ini menjadi pengalaman pertama dan terakhirku hahaha.. Ceritanya waktu masih masih aktif sekolah Minggu di gereja Santo Thomas Sri Menanti nun jauh di pelosok Lampung Timur, suaraku ternyata membuat Mbak Tina yang notabene satu gereja denganku tertarik dan menawari untuk menyanyi di acara radio yang dibawakannya. Widiih.. tanpa pikir panjang aku langsung anggukkan kepala tanda setuju dan diberi waktu satu minggu untuk persiapan lagu. Ehm jangan berpikir kok lama banget.. soalnya acaranya cuma di hari Minggu dan itu berarti tujuh hari yang akan datang dari tawaran mbak cantik itu kan..

Pulang gereja langsung surfing ke gud*nglagu.com buat cari apa yang akan kunyanyikan (tepok jidat.. kayaknya zaman segitu belum kenal internet deh). Hahaha.. pulang gereja ya main bola sama temen-temen lah. Lagu yang akan kunyanyikan ternyata baru muncul tepat tujuh hari kemudian saat ditanya Ibu di perjalanan menuju radio dimana aku mau menanggapi tawaran Mbak Tina.

“Mau nyanyi apa Mas..” kata Ibu sambil tetap konsen mengendarai si BMW (bebek merah warnanya) punya Pak Boz.

“Apa ya bu.. Pok Ame Ame.. eh.. Semir Sepatu aja..” jawabku.

“Apa? Semir Watu? Hahaha.. Watu (batu.red) kok disemir to mas..” tukas Ibu serius.

“ooooh sepatu bu.. es e se.. pe a pa.. te u tu…, dudu watu..” sungutku

(jadi ketahuan kalau dialog  sebenarnya pakai bahasa Jawa deh).

 

#1.. Daun Lontar Pengantar Cinta

4

Bulan Juni mulai menyapa, setidaknya beberapa sahabat, mantan, dan keluarga berulang tahun di bulan ini. Saat kulirik kalender ternyata bulan ini ada 30 hari, jadi inget akan usiaku saat ini. Lirik lagi kalender di blog ini ternyata hanya ada LIMA coretan yang aku tulis di bulan kelahiranku. Walah.. tapi tak apa karena aku bukan tipe yang harus bikin coretan tiap hari kok.. pengen nulis ya nulis aja.. sekenanya, seasalnya, dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Tapi membaca buku tentang menulis hadiah dari si Zonkie, aku jadi tertantang untuk menulis setiap hari di bulan ini.. Dan anggaplah sebagai penanda usiaku, aku kalah permainan True or Dare selama 30 putaran sehingga harus memilih True (daripada Dare yang kadang isi tantangannya aneh-aneh kan?). Dan apa yang ingin kucoretkan adalah True Stories of Me.. alias hal-hal yang kualami sepanjang usiaku. Bisa jadi nyebelin, ngangenin, biasa aja, atau bahkan gariiing.. Kalau tertarik bisa tongkrongin blog sederhana ini setiap hari meski hanya edisi pertama yang akan aku posting via FB..

Oke deh.. langsung ke episode pertama di kategori ini yaitu kisah nyata bahwa aku pernah menulis surat cinta di atas daun lontar. Sebenarnya inspirasinya dari cerita silat karangan almarhum Bastian Tito yaitu Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng! Wew.. ya, jaman dulu kan para tokoh yang dikisahkan di cerita tersebut (kebetulan aku punya satu lemari khusus untuk Mas Wiro) saat mengirimkan kabar selalu menggunakan daun lontar. Nah.. iseng lah aku yang waktu itu masih kelas 6 SD untuk mengirim surat cinta monyetku dengan cara yang sama..

Tiga Nol

2

Sepi memang malam ini, sudah menjadi jamak rasanya melewati pergantian usia dalam kesendirian, tidak hanya dalam konteks pasangan tetapi memang saya lebih suka untuk berdiam di kamar, berdevosi karena selalu dalam bulan Maria (satu adat istiadat agama yang saya anut), menarik nafas dalam-dalam dan mensyukurinya serta mengevaluasi pencapaian saya di usia baru.. Rasanya lebih hidup memang jika dibarengi kecupan mesra pasangan di kening dan kedua pelupuk mata.. hehehe..

Tiga Nol.. bukan skor pertandingan terakhir antara Dortmund dan Barca… bukan pula judul lagu yang terakhir saya ciptakan.. atau nama tempat yang mengasyikkan. Tiga nol adalah usia saya yang baru dimana targetnya sebelum usia ini sudah mengucap ikrar perkawinan di altar suci. Namun Tuhan rupanya punya rencana lain.. sebab proyek 30 Hari Mencari Cinta (21 April-21 Mei) pun juga kandas karena si Cupid tiba-tiba resign dan akan mengadukan saya ke Komnas HAM karena saya paksa untuk menembakkan panah cintanya ke seseorang yang telah berpunya.. Untungnya semua bisa diselesaikan secara kekeluargaan meski si Cupil eh Cupid mengajukan syarat untuk saya lebih teliti dan bijak lagi memilih sasaran tembak.. deuh gati..

Lantas apa pencapaian saya? Hemh.. yang terbaru mungkin jabatan dengan job desc seabreg yang menantang dan mendewasakan saya. Kalau dibilang terbaik tentu bisa ke luar negeri di 2008 dan 2009, menikmati perjalanan dengan wong ndeso lainnya (Widi dan Aji), terpenjara di pesawat selama belasan jam, yang tadinya hanya berawal dari mimpi.. Ya, itulah pencapaian terhebat meski judulnya “dinas luar” yang hanya bisa diimbangi dengan keluyuran saya atas biaya sendiri ke Pulau Dewata, Bumi Borneo, dan Negeri Laskar Pelangi..

wong ndeso - with Widi - Taman Stuttgart - pengujung 2008
wong ndeso – with Widi – Taman Stuttgart – pengujung 2008
Aji-Aku-Martin - Karlsruhe - Medio 2009
Aji-Aku-Martin – Karlsruhe – Medio 2009

Be a Mr. Clock…

0

Sebentar lagi akan terdengar raungan sirine  tanda jam makan malam untuk shift 2 di pabrikku. Dan pantat teposku pun masih betah bertahan di kursi ruang kerja padahal sudah ada partner yang siap ‘mendepakku’ sebab waktuku sudah habis. Giliran dia yang jaga karena aku shift pagi.. Sebentar.. waktu habis? Owh.. ya.. aku ingat semalam saat terbangun sebentar karena alarm di HP (sisa setting alarm untuk pertandingan Chelsea vs Benfica). Mata kriyap kriyip.. tetapi melihat HaPe dan jam weker kecil malah ingat dengan MR. CLOCK..

dicopy dari http://violetshop.jogjaplaza.com
dicopy dari http://violetshop.jogjaplaza.com

Artis? Atlet? Politikus? Siapa si Mr. Clock? Anak farmasi di kampusku Sanata Dharma angkatan 2000 pasti tahu tentang beliau. Kalau lupa ya aku ingetin.. Namanya Mas Suryono (kalau salah koreksi ya..), dulu pacaran ma mbak Novi kalau gak keliru, punya usaha rental DVD-VCD (aku pelanggan setia termasuk saat heboh kasus Nanda-Ahmed dari Bandung ituh..). Tapi yang jelas beliau adalah mentor saat TITRASI Noceng (ospek fakultasku)..

Kenapa jadi Mr. Clock? Mukanya kayak jam dinding?

Empat Aksara Cinta

4

Dingiiin.. tatkala kuselesaikan perjalanan hari ini dengan diawali hujan sepanjang mess Cikande hingga setengah perjalanan menuju Gereja Kristus Raja Serang. Selesai misa menuju klinik Ikhlas Medika di sekitar Terminal Pakupatan eh.. gantian daerah Serang yang diguyur hujan sedangkan mess tercinta terang benderang.. Tapi tak apalah yang penting sudah bisa merayakan misa dan menjenguk si Aji, adik merangkap keponakanku yang sedang dirawat karena sakitnya.. Cepet sembuh ya dek..

Sahabat, percayakah kamu dengan ramalan? Kalau aku sih tidak.. tetapi.. aaah..

Satu babak kisah hidupku yang menyita perhatianku kali ini adalah seusai merayakan misa sore Kenaikan Isa Almasih di Gereja Kristus Raja Serang. Seperti biasa (belum pernah aku ceritakan sebelumnya..) seusai misa maka aku akan membantu merapikan kursi di sayap kiri  gereja. Kursi yang kadangkala ditinggalkan semena-mena oleh umat sehingga petugas tata tertib harus merapikannya. Sore menjelang petang hari ini entah kenapa aku bersemangat sekali meski tidak banyak yang bisa aku pandang sembari membantu para petugas ta-tib. Haiyah.. ternyata MODUS..

Setelah kelar.. tiba-tiba satu tangan dari seorang bapak yang sedari tadi kuperhatikan melihatku merapikan kursi, melambai seolah memanggilku. Tadinya aku biasa saja karena mungkin si bapak merasa aneh sebab aku sendiri yang tidak berseragam petugas ta-tib saat menumpuk dan memarkirkan kursi gereja satu persatu. Hemh.. jangan-jangan dipikirnya aku koster nih.. akupun lantas menghampiri beliau yang kutaksir usianya sekitar 50 tahunan namun belum beruban banyak..

Mendadak seperti terhipnotis diriku saat diulurkan tangan kanannya seraya mengucapkan “damai Kristus..”. Kubalas jabatan dan sapaannya dan matanya tajam menatap mataku sambil berujar.. “tanggal 21 ini ulang tahun ke-30 ya mas..”. Whaaat!! Blup! Aku seperti tak sadar lagi karena sama sekali tak kukenal bapak ini, secara tepat dia mengetahui tanggal lahir dan calon usiaku yang baru. Apakah dia punya FB, apakah dia membaca blog-ku, apakah beliau mantan guruku, apakah beliau saudaraku.. aaaaah apakah.. apakah.. dalam beberapa detik berjuta tanya mampir di benakku. Tetapi yang jelas beliau adalah saudara dalam Tuhanku.. meski aku tidak melihatnya sepanjang misa sebab aku ada di bagian dalam gereja.

Mas percaya ramalan?” susulnya tiba-tiba.. “Sedikit pak..” jawabku singkat. Beliau mendehem kecil dan berujar “jangan pernah sedikit-sedikit.. ya atau tidak.. semua dalam hidupmu jangan kau bawa dalam keraguan”. Aku pun menjawab lagi “Tidak pak, saya percaya Tuhan..”. Beliau tersenyum dan berkata.. “Puji Tuhan kalau tidak.. karena saya hanya ingin memberi tahu bahwa jodohmu akan memiliki nama persis seperti empat huruf nama depanmu.. D I A N.. Selamat malam.. Damai Kristus besertamu”. Si bapak berlalu meninggalkan aku yang bengong dan seolah seperti tersihir seraya hanya mampu berucap lirih.. “Damai Kristus juga pak..”.

Sepeninggal si bapak, agak lama aku berdiri di sayap kiri gereja dan selang beberapa menit aku tersadar dan mencoba mencari tahu kemana arah perginya si bapak. Tapi aku kehilangan jejak. Sepertinya beliau naik Jupiternya Komeng atau awan kinton-nya Son Go Ku, atau kuda sembrani bapaknya Harry Potter, atau apalah itu yang jelas beliau MENGHILANG.. Setelah menebak tanggal lahir, usia, nama, dan menasihatiku untuk tidak sedikit-sedikit dalam hidup ini.

Akoe dan Sahabat.. ibarat secangkir kopi jahe hangat..

2

Malam merangkak.. coretan kali ini memang masih berkaitan dengan coretan sebelumnya saat mendapat kesempatan untuk singgah di kota Malang di sela dinas luarku. Dalam perjalanan menuju kotanya Aremania tersebut aku lantas memiliki ide untuk menghubungi satu sahabat karib yang kebetulan berdomisili di sana meski bekerja di Surabaya. Siapa dia? Cowok pastinya.. sebab kalau cewek takut jadi gosip kan bukan muhrimnya hehehe.. Yap dia adalah mas bro Antonius Ladoangin aka Dolphin aka Niush Item eh Niush Gede. Ya, karena dulu satu kelas bareng saat kuliah di Jogja dan bernama panggilan sama maka dibedakan menjadi Niush Kecil untukku dan Niush Gede untuknya meski seringnya dipanggil Niush Item (tambah manis juga boleh..). Sosok yang kusegani karena kecerdasannya, kecakapannya dalam bergaul, kejujuran dan ketulusannya, serta ciri khasnya memanggilku “cilek” alias si kecil dalam logat Adonara plus Jawa yang ngangenin. Nih dia wujudnya.. Manis kan? Meski kalau kami berdua bertemu maka ibarat lubang sama kuncinya.. Klop!! Klop usil dan jahatnya hahahaha..

..kalau dua Niush bertemu..
..kalau dua Niush bertemu..

Tiga Rahasia di Secret Zoo..

1

Sahabat.. belajar memang tak pernah mengenal batasan.. baik itu waktu, jenis kelamin, usia, biaya, dan lain sebagainya termasuk tempatnya. Setidaknya itu kualami setelah minggu lalu setelah tugas dari pabrik untuk studi banding ke pabrik kami di daerah Panda’an (inget si Inul Daratista), kemudian berwisata di Secret Zoo, kawasan Batu-Malang. Yah.. ini termasuk kawasan Jatim Park II yang keberadaannya mulai mencuri minat wisatawan lokal meski ada satu dua wisatawan mancanegara yang tertangkap ekor mataku kala itu. Saat dari hotel Harris menuju TKP, dalam hatiku terus bertanya.. apa yang di-SECRET-kan? Aku mau belajar apa di kebun binatang?

Hari masih pagi sehingga rombongan yang terdiri dari deretan bos-bos pabrik plus aku dan staff HSE dari Sukabumi datang menyatroni si kebun binatang rahasia itu. Harus menunggu hingga jam bezuk eh jam pengunjung diperbolehkan masuk itu lumayan membosankan permisa.. mending pose dulu lah sama para bos.. siapa tahu ketularan sukses.

moga-moga ketularan sukses.. amiiin..
moga-moga ketularan sukses.. amiiin..

Yeah.. akhirnya setelah menghabiskan sebotol minuman energi jualannya temanku dulu, kami pun berdesakan dengan rombongan ABG yang sepertinya berasal dari sekolah lanjutan pertama yang sedang berdarmawisata. Dua bos mulai jeprat-jepret ambil gambar para penghuni Secret Zoo dengan ‘senjata’ nya yang bikin ngiler pengen tapi dompet menangis (hahaha..). Aku tak mau kalah menjepretkan mataku kesana kemari mencari kaum hawa yang cantik.. gak mau kalah dooong..

MUST READ

Langkah Baru di Penghujung September..

1
Tepat malam ini adalah 30 September.. ketika mengenang bahwa siang tadi waktu ku SD dulu pasti sudah antri di depan bioskop untuk menyaksikan film...

WhO MovEd My CheeSE?