Weekend plus cuti sudah usai. Waktunya kembali ke kerjaan dan mempersiapkan dua hal besar sekaligus buat pabrik di minggu ini yaitu peringatan ulang tahun pabrik dan juga kunjungan Badan POM dalam rangka pemetaan industri obat tadisional. Kerja keras dan kerja cerdas nih nampaknya.. Tapi tetap berusaha buat mbayar hutang beberapa coretan yang tertunda. Masih sama tentang true story of me sih.. Kali ini adalah satu cerita tentang Jurit Malam..
Ya, satu kegiatan penggemblengan mental yang lazim dijumpai dalam latihan kepemimpinan dasar tempo dulu baik di OSIS, Pramuka, ataupun kegiatan keorganisasian lainnya. Rasanya di menjelang akhir latihan akan ada si JM (Jurit Malam) ini. Apakah merayap, merangkak, berguling, naik, turun, bahkan melintasi lokasi menyeramkan semisal kuburan. Kalau sekarang daripada jurit malam rasanya mending ditutup dengan Desah Malam aja deh.. makanya banyak pemimpin melempem karena cewek.. hahaha..
Aku? Jelas mengalami.. beberapa kali malah.. Tapi ternyata yang mengesankan tetaplah yang pertama. Yaitu waktu PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu) calon Ambalan di Lapangan Misi Pringsewu. Namanya anak yunior, pasti nurut ketika malamnya diminta melaksanakan jurit malam berkedok ‘mencari jejak’. Acara dimulai jam 10 malam, nyari jejak apa coba..
Setelah beberapa perempatan, parit, dan kadang lewat samping rumah orang, sampailah di satu pos terakhir sebelum perhentian utama. Pos terakhir ini adalah kuburan umum yang kabarnya serem karena terbukti ada sosok-sosok pocong bergelantungan, baik berupa guling didandani atau kakak-kakak kelasku. Belum lagi ada kakak tingkat yang mendesah-desah eh mengaum-ngaum di dalam keranda (hal ini sukses ditiru oleh Kantun temanku di tahun berikutnya dengan.. mendengkur alias tidur hedeeeh). Yang jelas kami diminta untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dengan bersujud di depan makam, satu orang satu makam.
Nah, mau tidak mau, dengan sedikit takut aku juga mengambil posisi di satu makam dimana ada pocong di atasnya (belakangan aku tahu itu Mas Wimpy kakak tingkatku). Saking patuh untuk berdoa maka aku langsung memejamkan mata dan mengirim doa kepada empunya bilik 2×1 tersebut yang nisannya sudah hancur sehingga namanya tidak terlihat. Rasanya aku larut dalam doaku hingga satu tepukan lembut nyaris membuatku melompat masuk makam yang sudah mulai berlubang.. Setan iki pasti!! Diampuuut..
Tapi bukan.. Ternyata itu tangan Pak Sugeng, salah satu pendamping PERSAMI yang mencariku kesana kemari di perhentian terakhir yaitu gedung SMEA KARYA BHAKTI (kalau tidak salah remember sih..) Masalahnya dari 30 peserta hanya aku yang belum sampai.. ternyata aku KETIDURAN di kuburan.. hahaha.. Jurit Malam pertamaku begitu mengesankan karena teman-teman mengira aku pemberani sebab paling lama di kuburan.. kalau sekarang sih paling lama di karaokean atau futsalan..

..kok yo podo gelem dikerjani seniornya… paling sebel kalau ada korban, yang kram , pingsan, sesak napaslah.. beuuhhhh…. pasti pendamping yang jadi repot..
Wkwkwkwkwkwk
Kocak abis…
Jd inget wkt pelantikan PMR jaman SMA..
Jd nulisny drapel ne pak?
iya nio.. sedikit terhambat dengan adanya audit, ultah pabrik, dan boiler kebakaaar..
Pemetaan IOT.. Ehm… Saya sudah, pas saya ulang tahun.. hahahaha…
hasilnya oke kan?