“Ramadhan datang.. alam pun riang menyambut bulan yang berkah umat berdendang kumandang azan pertanda hati yang senang..”
Lirih lagunya mas Tompi terdengar di handheld ku.. Rasanya baru kemarin aku menulis coretan mengenai bulan Ramadhan.. Eh sekarang kok sudah datang lagi. Tentu saja ini juga akan kulakukan kira-kira beberapa bulan lagi saat Natal menjelang. Tapi enjoy aja dech.. sing penting metu unek-uneke.. (yang penting keluar isi hatiku).
Entah kenapa dua istilah di atas kujadikan judul dari coretan kali ini. Mungkin karena luapan kesalku setelah rasa lelah mendera karena maen futsal bareng anak-anak Dudung FC di Bengkel Futsal Jatiwaringin. Harusnya aku ngantuk dan tertidur pulas bukan? Tapi yang ada malah insomnia dan membujukku untuk bercumbu dengan tuts demi tuts abjad di Aspire-ku. Jujur kuakui sudah lama tidak bermain futsal eh sekalinya ada kesempatan, aku kurang pemanasan dan tak melakukan pendinginan sesudahnya. Hasilnya ya begini.. Letih tapi tak bisa beristirahat walau efek positifnya tambah lagi koleksi coretanku.
Warming Up atau istilah Indonesianya pemanasan adalah satu kaktivitas kecil sebelum satu kegiatan dimulai. Mau itu sebuah permainan olahraga, percintaan yang menggelora, atau tari-tarian dan banyak lainnya tetap saja membutuhkan pemanasan. Inti dari aktivitas ini adalah menyiapkan tubuh agar tidak mengalami hambatan dan bahkan bisa menghasilkan sesuatu yang optimal saat kegiatan yang sesungguhnya dijalankan. Kegiatan? Aku suka gunakan istilah ini karena pemanasan bisa diterapkan dalam bidang kehidupan apa saja. Selain tiga hal yang kusebutkan di atas, menyanyi juga butuh pemanasan berupa olah nafas atau berdendang dengan irama tertentu agar pita suara ‘lentur’ sebelum digunakan dalam waktu yang lama. Lainnya? Bekerja pun juga memerlukan warming up misalnya membaca makalah sebelum dipresentasikan, membuat sketsa sebelum digambarkan utuh, atau berdoa sebelum suatu pekerjaan dimulai. Pemanasan sungguh merupakan titik awal bagaimana kita bisa melakukan semua aktivitas dengan optimal. Coba saja langsung bermain badminton atau sepak bola tanpa pemanasan, dijamin tangan akan cepat lelah dan kram, tubuh terasa letih dan berat untuk bergerak, atau nafas tidak beraturan sepanjang permainan.
Teringat janji terhadap seorang sahabat, maka aku tuangkan coretan ini walau mata masih ngantuk sepulang dari mudik. Yach.. ini diawali dari status seorang teman yang kira-kira seperti ini..
Melangkah nekat hanya dgn pertimbangan: dia bisa kenapa saya tidak.. Hmmmm.. Semoga Tuhan menolong saya.. 🙂
Saat itu lama ku tertegun memandang deretan kata tersebut. Ada dua hal yang berbeda kucerna dari kalimat yang jumlahnya sama dengan jumlah pemain satu team Rugby League. Pertama adalah sisi baik dimana orang termotivasi karena pribadi lainnya. Tapi di sisi lain bisa menjadi buruk karena orang bisa bertindak konyol oleh tindakan orang lain.
Lama juga terdiam untuk mengawali kalimat selanjutnya dalam coretan ini.. Tapi aku teringat pada satu coretanku di www.arounduslho.blogspot.com tentang kisah konyol saat ujian di satu mata kuliahku. Ini adalah satu contoh dari tafsiran buruk dimana saat itu kami berlomba untuk segera menyelesaikan tiap soal hanya karena ada yang keluar ruang ujian lebih cepat. Padahal? Kami saat itu tidak tahu kenapa dia bisa keluar dengan cepat. Bisa ditebak sesal pun datang karena harusnya kami bisa memanfaatkan waktu untuk lebih seksama dalam menyelesaikan soal ujian tanpa termotivasi dia bisa kenapa saya tidak.
Adduuuh…. jangan mendelik saat melihat angka yang kutulis. Itu hanya angka favoritku.. Biasanya tips kan 5, 10, atau bahkan 100, kali ini angkanya aneh dan ganjil bukan? Jika di-search di mbah google pun pasti dengan cepat dirimu dapatkan ratusan cara untuk mempertahankan gairah kerja. Tapi rasanya tak ada salahnya aku berbagi pengalamanku ini denganmu. Apalagi buatmu… yang sudah menganggap pekerjaan sebagai rutinitas belaka dan hampir tak memiliki ‘seni’dalam menjalaninya. Terasa hambar rasanya… Nach dibutuhkan beberapa trik untuk mengatasinya, apa aja tho?
‘Masa bodoh !! yang penting saya sudah selesaikan pekerjaan itu ! jadi saya aman’
‘Hugh.. bisanya nyalahin orang.. emang siapa yang memperlambat, wong barangnya saja belum tersedia !’
‘Saya tidak mau tahu ! Pokoknya produk harus siap jual akhir bulan ini, kalau mesinnya rusak, itu urusan departemen Anda !’
‘Goblok banget sich ! harusnya kamu tahu target kita.. jangan malu-maluin atasan kamu dong !’
Heyyy!!.. kok senyum-senyum bacanya.. sering dengar kata-kata itu ya ? Dimana tuch?Di ruang rapat kantormu? Atau di ruanganmu saat disambangi oleh atasanmu ? Apapun itu.. aku yakin bahwa umpatan atau perkataan sejenis itu pernah terdengar di tempat kerja, di organisasi, maupun di berbagai wadah publik dimana kita bergabung. Bagi yang tidak pernah mendengarnya, selamat !! mungkin dirimu berada di lingkungan yang sudah tepat atau…. sangat cuek.. hehehe..
Sahabat.. dalam dunia kerja yang begitu dinamis, apalagi bidang kerja yang membutuhkan suatu kerjasama team, maka metode atau sistem kerja menjadi satu hal yang wajib diperhatikan. Untuk pekerjaan individu, memang sangat bergantung terhadap kemampuan dari kita sendiri walau PASTI akan membutuhkan bantuan atau support dari orang ataupun departemen lainnya. Dalam bidang kerja team, maka support antar bagian akan sangat diperlukan. Tak hanya support tapi juga perhatian dan pengertian akan kesulitan atau problem bagian lainnya juga diperlukan. Apa jadinya kalau tidak ada saling pengertian ? Pastinya sistem kerja yang terjadi adalah sistem BOLA PANAS..
Yah.. akhirnya sempat juga meluangkan waktu di sela kesibukan sertijab untuk menulis coretan ini. Satu jawaban atas postingan sebuah pertanyaan.. mengenai kompetensiku atas profesi yang kupilih bahkan dimana aku mengucap sumpah untuk itu. Walau kala itu aku tak lantang betul dalam mengucapkan sumpah itu. Apapun itu.. aku bersyukur dan memanjatkan syukur plus terima kasih pada Tuhan karena tanpa campur tangan-Nya, aku takkan mampu melewati fase sertifikasi apotekerku.
Minggu pagi terasa cepat kujumpai kala itu, 24 Juli 2011, dimana saat orang kebanyakan menikmati Sunday Morning di seputaran danau UI, aku memacu si Merah Centil menerobos kerumunan penikmat pagi menuju Departemen Farmasi UI. Ugh.. pasti telat pikirku. Dan memang benar.. aku ketinggalan ujian, namun untungnya diijinkan untuk mengikuti jam berikutnya. Dan..DUAR!! Rasanya bisulpun meletus saat 50 menit kuselesaikan semua sesi ujian mulai dari pilihan ganda, analisa resep, menulis copy resep, mengkaji suatu resep, dan akhirnya konseling ke pasien.
Ada perjumpaan, ada pula perpisahan.. Nampaknya pepatah itu berlaku juga buatku. Setelah sekian lama saling setia dalam hujan dan panas, dompet tebal dan kempes, jalan terjal maupun mulus, nikmatnya jatuh di jalanan.. atau riang mendaki tanjakan..tiba saatnya aku ‘bercerai’ dengan si Telor Ceplok.
Dia… yang menjadi saksi atas semua perjuangan cita dan cintaku.. kini sedang bersiap untuk kuserahterimakan dengan pemilik aslinya. Ya iyalah.. secara si TC dibelikan oleh ortuku, sudah sepatutnya kembali lagi. Aku telah memilih si Merah Centil untuk menemani hari-hariku ke depan.. Sedih memang, tapi apa mau dikata.. Walau lain jenis dan makhluk, tapi rasanya aku dan si TC sudah melalui lebih dari sepuluh tahun waktuku dengan keterikatan batin yang luar biasa. Tak terhitung suka dan duka yang kami alami bersama.. Mulai dari ngadat saat mboncengin cewek yang bukan pacarku (sensi banget..), ngambek kalau ada motor lain kubawa dan nginep di kost, sampai protes keras saat aku coba membeli motor yang baru. Protes ini terakhir ditunjukkan dengan kejamnya si TC menguras isi dompetku tepat di tanggal tua karena seperti hape, tiba-tiba matot (mati total).
Membaca postingan teranyarku di www.bocahrantau.wordpress.com, membuatku sadar bahwa aku telah keluar dari lintasanku sebagai apoteker. Maka aku berinisiatif untuk mengikuti SKPA (Sertifikasi Kompetensi Profesi Apoteker) yang kebetulan diselenggarakan di Fakultas FMIPA – Departemen Farmasi UI. Lokasi acara yang bisa kutempuh dengan sepeminuman teh membuatku bersemangat kali ini walaupun sebenarnya aku ingin mengikutinya di kota gudek Jogja. Walau ada masukan dari teman mengenai kebelumjelasan program ini pun aku tak bergeming. Walau belum gajian pun aku paksain pinjem dulu untuk biaya pendaftaran. Dan walaupun baru menerima konfirmasi bahwa aku diterima sebagai peserta di Jumat malam sehari sebelum hari H pun aku masih tetap antusias.. dan sangat antusias..
Sedemikian bersemangatnya diriku.. sehingga beberapa rencana akhir pekan kutepikan demi acara ini.Walau tidak tahu apa yang akan kuhadapi dalam acara hari ini, aku masih tetap tak peduli. Motivasiku hanya untuk menguji diriku sendiri, tanpa belajar lagi, tanpa harus tanya kanan kiri, apakah aku masih kompeten di profesi ini. Apapun hasilnya.. maaf aku tak peduli.. aku hanya ingin mengetahui sejauh mana aku telah bergeser dari lintasanku selama ini.
kartu pesertaku.. kodenya akan jadi bahan coretan berikutnya..
Tercenung sesaat kala kuputuskan untuk coretan singkatku kali ini. Hanya sebuah kalimat petikan dari perbincanganku dengan managerku kala kuputuskan untuk berhenti dari tempatku bekerja saat ini. Beliau mengutarakan hal itu dengan mimik dan ekspresi serius, seolah mengingatkanku akan kondisiku sekarang.
sumber : http://kusprayogi.files.wordpress.com
Waktu terus berputar dan tak bisa berhenti.. Sekalipun kita mati, waktu pun masih akan meneruskan putarannya untuk mereka yang masih hidup hingga nanti kiamat datang (bagi yang percaya akan adanya kiamat). Tapi waktu itupun kuyakini akan berpindah ke alam yang belum pernah kusinggahi setelah kematian. Tentu saja sahabat… Mana mungkin kutulis coretan ini jika sudah menghembuskan nafas terakhirku kan??
Kita pun saat ini mau tak mau dan harus mengikuti putaran waktu tersebut. Seiring pergantian langkah hidup dan pergulatan kita dalam menjalani tiap fase dalam kehidupan kita. Ada saat senang, ada pula duka, kadang kita di puncak, tak jarang pula kita terpuruk. Dalam perjalanan itu, banyak kisah tlah terlewati, banyak ruang terlalui. Dan saat itulah ujian itu datang..
Ngos-ngosan lagi malem ini, tapi yang ini beda.. Setelah malam selasa kemarin megap-megap karena futsal, malam ini terasa lelah karena tepok bulu alias badminton. Tapi puas banget.. palagi dari tiga pertandingan berhasil menang dua kali. Ruasannyyyaaa.. maknyuss.. tidur pasti nyenyak nich. Tapi dugaanku meleset.. saat masuk kamar, rapi-rapi sebentar eh mataku terpikat dengan si hitam Aspire yang ada di meja kamar kostku. Belum lepas eh karena jelalatan tiba-tiba aku malah pengen sejenak bermain dengan gitar yang teronggok manis di sudut kamar yang sama. Sambil beringsut menahan bau asem tubuhku, aku pun mulai meletakkan jemariku di deretan senar gitar itu.
Jreeeng.. lagu apa nich? Rasa Yang Tertinggal? Walah bisa diledek papanya Ibie nanti.. ehm apa ya?? Tanpa kusadari tiba-tiba jemari ini memainkan intro dari lagu lawasnya Duta dan Eross feat Tasya.. Jangan Takut Gelap.. Akh.. lirih kupetik gitar dan perlahan mulai mengalun untaian nada dari alat musik itu..
Hai kawan jangan takut, jangan resah
Bila lampu kamar mulai dipadamkan
Ku kan s’lalu menyanyikan lagu ini
Hingga nanti kau tidur bers’limut mimpi
Larut malam di mess pabrik masih sibuk utak atik hape dan melihat beberapa status Be-Be-eM-ku beberapa hari kemarin. Hampir semuanya mengungkapkan tentang bagaimana hidup...