Tercenung sesaat kala kuputuskan untuk coretan singkatku kali ini. Hanya sebuah kalimat petikan dari perbincanganku dengan managerku kala kuputuskan untuk berhenti dari tempatku bekerja saat ini. Beliau mengutarakan hal itu dengan mimik dan ekspresi serius, seolah mengingatkanku akan kondisiku sekarang.

Waktu terus berputar dan tak bisa berhenti.. Sekalipun kita mati, waktu pun masih akan meneruskan putarannya untuk mereka yang masih hidup hingga nanti kiamat datang (bagi yang percaya akan adanya kiamat). Tapi waktu itupun kuyakini akan berpindah ke alam yang belum pernah kusinggahi setelah kematian. Tentu saja sahabat… Mana mungkin kutulis coretan ini jika sudah menghembuskan nafas terakhirku kan??
Kita pun saat ini mau tak mau dan harus mengikuti putaran waktu tersebut. Seiring pergantian langkah hidup dan pergulatan kita dalam menjalani tiap fase dalam kehidupan kita. Ada saat senang, ada pula duka, kadang kita di puncak, tak jarang pula kita terpuruk. Dalam perjalanan itu, banyak kisah tlah terlewati, banyak ruang terlalui. Dan saat itulah ujian itu datang..
Yach.. ujian.. dimana kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa masing-masing dari kita unik dan memiliki jalan hidup yang berbeda. Jalan hidup itu adalah lintasan kita. Sesuatu yang dengan setia bahkan tanpa disadari selalu kita tapaki setiap hari. Bisa dengan tawa riang atau senyum menang, bisa juga dengan gerutuan atau keluh kesah. Layaknya sebuah planet yang memiliki orbit, kita sebenarnya harus setia dalam lintasan itu walau memang pelan-pelan akan ’bergeser’.
Dalam satu waktu, pergeseran itu ternyata terlalu jauh sehingga kita ’keluar’ dari lintasan. Coba sekarang kalian tengok kanan kiri.. Yang insinyur apakah sudah bekerja pada bidangmu? Yang lulus dengan cum laude dari fakultas ekonomi apakah sudah menerapkan ilmu yang kalian kuasai? Yang apoteker seperti diriku apakah sudah bernaung dalam wadah apoteker yang diakui dan menjalankan praktik kefarmasian dengan benar? Jika sudah.. SELAMAT.. Jika belum? Hemh..
Itu adalah pilihan.. apakah dirimu akan kembali ke lintasan. Itu adalah kebebasan.. untuk tetap dalam kondisimu sekarang ini. Tantangan dan tuntutan hidup pasti menjadi tanggung jawab kita sendiri sebagai individu. Bukan lagi orang tua yang mengirimkan biaya per bulan kepada kita bukan? (untuk yang sudah bekerja tentunya..). Bagi yang masih sekolah atau kuliah, adalah tanggung jawabmu untuk setia meniti ilmu yang kau pilih. Bukan karena ajakan teman atau trend yang sedang ada tetapi lebih ke persiapan untuk masa depanmu kelak.
Sahabat.. keluar dari lintasan bisa jadi enak atau mungkin tidak mengenakkan. Jika enak.. teruskan saja tentunya.. Tetapi jika tak enak, tak ada salahnya bergeser kembali ke jalurmu… atau kembali ke lintasanmu. Selamat malam..

[…] di kerjaan, via YM-an, via BBM Group-mu.. dan sebagainya. Aku pengen ikut ini karena pengen kembali ke lintasan.. dan sungguh.. rasanya kampus III Paingan kangen sama kita lho.. pengen lihat dan denger cerita […]
[…] aku akan keluar dari lintasan, masih inget coretanku tentang bagaimana kembali ke lintasan? Cekidot di sini deh. Namun pertanyaannya? Bagaimana saat keluar lintasan? Tidak menekuni lagi profesi […]