Home Blog Page 14

Akoe dan si Mbois plus Si Betina, serta Pak Pol..

0

Cerita agak lama nih.. sebulan yang lalu. Satu cerita perjalananku dengan si merah centil yang kali ini setuju untuk bercinta sepanjang Serang-Tangerang. Gak pake ambeg-ambegan lah.. Kami melaju dengan santainya sembari waspada dengan lubang-lubang menganga di sepanjang jalan dalam rangka perbaikan. Maklumlah bukan pengantin baru.. jadi kalau ada lubang mesti dihindari. Kalau pengantin baru? Hehehe.. masak harus kutulis jawabnya di sini.

Tepat di satu pertigaan besar sekitar Balaraja, antrian panjang terlihat menghadang laju kami berdua. Sedikit agak berdiri mengangkangi si centil, kulihat ternyata hanya tiga deret lampu merah kuning hijau yang membuat orang dan kendaraannya ‘kalah’ dan harus berhenti. Ya terang aja.. namanya juga lampu lalu lintas, selain urusan keselamatan diri jika tidak mematuhinya, keselamatan dompet pun kadang juga dipertaruhkan bila melanggarnya. Tahu kan kenapa? Wkwkwkwkwk…

Antrian makin mendekat pada si penyebab antri.. kalau sekilas menghitung, si hijau menyala 20 detikan dan si merah menyala 70 detik lebih lama. Hemh.. karena ini pertigaan sepertinya ada yang salah setting nih, apalagi kali ini di tengah body si tiang lampu tri warna itu tertulis “LURUS IKUTI LAMPU”. Ngomong-ngomong mau ngikut sampai mana ya.. wong lampu itu masih tetep aja angkuh di situ nyegatin yang mau lewat..

Pilih LDR atau CDR ??

3

Cinta.. akh seolah rasanya tak habis kata untuk membahasnya. Akupun hampir terseret untuk mengubah blog ini berisi cerita cinta, kalau saja mas gempal tidak mengingatkanku. Tapi satu coretan singkat ini menggelitik untuk kuunggah dan sayangnya temanya tentang cinta juga.

Liat judulnya deh.. kalau yang LDR pasti dah tahu kan? Atau sering dan sedang mengalaminya? Tentu sudah banyak pembahasan tentang gaya pacaran yang saling berjauhan ini, beda tempat, bisa jauh banget pula, asalkan jangan beda spesies dan alam saja ya.. Tapi yang CDR? Ups.. bukan produk vitamin effervescent dimana aku menghabiskan lima tahun masa kerjaku dulu, nanti dikira promosi. CDR yang ini adalah kebalikan dari LDR yaitu Cinta Dekat Rumah. Yah, boleh dibilang “pek-nggo” atau “ngepek tonggo” alias “dapat pacar tetangga” dalam bahasa Indonesianya.

Konsekuensi dari keduanya tentu jelas, ada plus dan minusnya dan biasanya saling berkebalikan. Yang  satu risikonya gampang panas kalau lihat si dia kebetulan dianterin pulang oleh teman kerjanya setelah acara bersama kantor eeeh.. yang satunya adem ayem wong gak bakal ngeliat. Yang satunya kalau ketemu habis-habisan sebab rindu lama tersimpan naaah.. satunya lagi biasa aja tuh wong saban hari memandang. Kalau dipikir-pikir, memang tergantung siapa pribadi yang menjalaninya. Betah kangen, betah jalan-jalan sendiri, betah gondok liat yang lagi sayang-sayangan di mall, tahan iman lihat yang kondangan bareng pasangan? Monggo pilih LDR. Kalau begitu? Yang gak betah seperti itu? Ya pilih CDR aja laaaah.. Jangan memaksakan diri untuk melakukan hubungan yang bikin makan hati dan capek sendiri.

Aaah.. itu dulu saja ya.. daripada dikritik mas gempal lagi.. Siapin headset dan mari dengerin lagu “Pacarku Dekat” yang biasa dinyanyikan Kembar Srikandi atau Uut Permatasari aja.. Tariiiik….

Menghancurkan Musuh Terbesarmu..

0

Larut malam di sudut Sang Bumi Ruwai Jurai kuhabiskan dengan ngobrol dengan Pak Bos dan Bu Bos. Lalu pamit ndekem di kamar dan mau “bercinta” dengan si Aspire. Nelpon seseorang malah ke-reject (semoga kepencet atau kalau emang sengaja ya semoga lekas sembuh.. hahahaa).

Agak capek badan ini, tapi harus semangat sambil mempersiapkan beberapa dokumen buat audit Selasa depan. Hehehe.. Itulah saya.. dan pasti  juga sebagian besar dari sahabat.. yang weekend pun tetep kerja. Makanya pengen banget berwirausaha (ups.. tapi tetep kerja juga ya). Ada gak sih yang ongkang-ongkang terima uang? (Pasti ada!! Sambil kucek2 mata dan ngelap iler karena menggiurkan terdengarnya). Rasanya pengen berantem aja nih karena gak ada waktu yang bener-bener FREE gitu.. Tapi mau berantem ma sapa? Aku gak punya musuh kok.. Eits! Ya adaaaa.. Aku punya musuh.. Musuh terbesarku malahan.. Dia ada dalam diriku sendiri.. Istilahnya Devil Inside

Musuh sejati kita bersemayam di diri kita.. Mungkin belum semua menyadarinya. Wujudnya waoe.. aneka ragam, ada yang berupa kemalasan, ketakutan, kebimbangan, kemunafikan, kedengkian, kesombongan, dan banyak hal buruk lainnya yang kadang menjadi sifat dasar manusia. Pertanyaannya? Bisa dilawan gak?? Pasti bisa.. asal ada ketenangan saat menghadapinya. Saat ‘tenang’, akal dan hati kita akan bekerjasama dengan baik. AKAL  itu sifatnya keras, kasar, dan menghalalkan segala cara. Tentu saja kita perlu si ‘AKAL’ ini untuk menyelesaikan semua masalah yang ada di hadapan kita. Harus ada hati yang lembut untuk memutuskan akal apa yang akan dipilih untuk menghadapi semua masalah yang ada. Ngapain harus pakai HATI? Jelas.. karena tanpa diimbangi dengan HATI, bisa-bisa kita memutuskan untuk memakai AKAL yang salah dan justru MENGAKALI orang lain, MENJATUHKAN sesama, MENYOMBONGKAN diri dan berbagai keburukan lainnya. Naaah.. malah menimbulkan musuh yang lain lagi kan? So.. gunakan AKAL dan HATI dalam situasi yang tenang.. untuk menghancurkan musuh terbesarmu.. DIRIMU SENDIRI..

Hidup Itu Indah.. Jika…

5

Larut malam di mess pabrik masih sibuk utak atik hape dan melihat beberapa status Be-Be-eM-ku beberapa hari kemarin. Hampir semuanya mengungkapkan tentang bagaimana hidup itu akan indah.. Mulai dari hidup indah bila mencari berkah yang terinspirasi dari lagunya Wali Band yang badai habis.. judulnya Cari Berkah and dalem maknanya. Bayangkan di satu bait terdendang “o jadi miskin gak mungkin gak mungkin.. Allah yang jamin..”. Intinya jika dalam kehidupan kita mampu mengutamakan pencarian berkah atau pahala dengan membantu sesama, peduli, dan meringankan beban yang lainnya. Status berikutnya mencuplik lagu Salam Bagi Sahabat-nya Glenn Fredly.. hidupmu indah bila kau tahu jalan mana yang benar.. Kalau ini sih pasti lah.. Gak usah didebat lagi. Lanjut ke status terakhir adalah hidup indah kalau kita bisa qona’ah.. Satu kata dari bahasa Arab yang berarti menerima apa adanya. Memang masih banyak perdebatan tentang kata ini karena di satu sisi bisa menjerumuskan orang untuk bermalasan dan lekas berpuas diri. Namun di sisi lain, aku melihat ada aspek ketidakserakahan dan bila dikaitkan dengan hati maka akan membawa satu permenungan mengenai bagaimana seseorang tidak disibukkan dengan perasaan dan sikap iri, dengki, culas, curang, dan hal buruk lainnya ketika melihat kehidupan orang lain di sekitarnya.

Ah sudahlah.. bagaimana kalau dalam coretan kali ini kutuangkan pendapatku tentang hidup INDAH dengan cara menjadikannya sebuah akronim? Semoga berkenan ya.. sebab hidup INDAH ya hanya dari unsur abjad pembentuk kata tersebut..

Tuhaaaaan.. Sesak Banget niiih…

0

sumber http://vebymega.blogspot.com

Minggu ini cerah banget ih.. hehehe, sekedar kiasan bahwa kemarau masih menaungi kawasan Cikande tempatku cari rejeki. Memang air seperti pelit untuk turun tercurah sebagai hujan di kawasan industri ini sehingga jalanan menjadi berdebu, tetumbuhan mengering, dan suasananya ya ‘cerah’ itu tadi. Libur untukku di weekend ini setelah minggu lalu menghabiskan Sabtu Minggu di pabrik tercinta.

Ada pilihan ke kawasan pantai Anyer memang di hari ini bersama anak-anak produksi. Hemh.. tentunya opsi yang menarik untuk me-refresh otak setelah seminggu berkutat dengan persiapan audit di area kerja. Acara yang digagas anak-anak dengan  konsep touring bermotor jelas menggodaku dan si Merah Centil. Bagaimana tidak? Si MC tentu akan seneng karena ada setidaknya satu pantat kaum hawa yang nangkring di jok empuknya. Aku juga laah.. ada dua tangan yang sepanjang  jalan parkir di pinggang kurusku kan? Namun ada satu bisikan Tuhan yang membuatku mengurungkan niat dan lebih memilih ke tempat Om di Cileduk untuk ambil beberapa barang guna kubawa mudik di minggu depan. Oooh..mulai sesak nih, aku ngelus dada dan si MC pun melengos kecewa..

Tepat sebelum jam delapan pagi, aku mulai memerkosa si MC untuk mengarungi jalanan Serang-Tangerang yang masih dalam perbaikan di beberapa titiknya. Sekali waktu kulayangkan pandang ke kanan dan ke kiri melihat deretan pertokoan pinggir jalan yang mulai menggeliat pasca libur lebaran. Satu ketika aku tertarik untuk mampir di toko jaket yang nampaknya menjual item-item menarik. Tapi dasar MC-nya lagi galau, rem-nya kurang pakem sehingga berhentinya terlalu jauh dari toko alias kebablasan bin mblandang. Huh, mau putar balik tapi jalanan terlalu ramai, akhirnya aku merengut dan si MC terkikik geli.. “rasain lu bos..” mungkin itu bisiknya. Aduh Tuhaaan.. semakin sesak nih rasanya..

Kalau dipikir-pikir.. Guwe Emang Brandal…

0

Badan lelah, capek, ngantuk berat.. tidak membuat mata ini pengen terpejam sedikitpun. Nyoba berseluncur di DuMay (belakangan aku baru tahu bahwa kata ini adalah akronim dari Dunia Maya) dan iseng melihat jadwal film di bioskop, yah kalian pasti tahu apa nama situsnya kan? Sebenarnya geli juga kenapa mesti ngeliat jadwal film, toh di Cikande aku juga bisa hemat untuk tidak mengeluarkan uang guna menikmati film-film yang sedang tayang. Bukan hemat atau pelit sih.. tapi karena letak bioskopnya juaauuuh, harus menyeret si merah centil selama satu  jam menuju Cilegon (lokasi TKP terdekat). Tapi.. ya biar saja, biar gak ketinggalan banget dengan celoteh teman-teman di jejaring sosial yang menyampaikan status sedang atau sudah nonton film ini dan itu.

Yap, singkat cerita mataku mulai melototin tuh situs film dari atas ke bawah, kanan ke samping, kadang order ke si tikus untuk klik sana dan klik sini. Perhatianku tertumbuk ke film Brandal Brandal Ciliwung yang di resensinya menceritakan tentang persahabatan lima sahabat penghuni bantaran kali Ciliwung. Kayaknya wajib nonton nih.. minimal bajakan atau download-annya deh. Sebab kalau dipikir-pikir sedari kecil sampai seuzur ini, aku paling seneng bikin gerombolan.. ya bolehlah dikatakan brandal di manapun aku tinggal. Mulai dari Brandal Mbul Tambi (SMP) Brandal Mabeskosta , Brandal Asrama(SMA), Brandal Sapen, Brandal Simbok, Brandal Mbah Mardi, Brandal Wirata, Brandal Farmasi (kuliah), Brandal Pangkah (KKN), Brandal Mabeskosmar, Brandal DePe, Brandal Futsalholic, Brandal Brafo, dan sekarang Brandal Cikande saat ada di dunia kerja. Banyak juga yah.. asal jangan bikin Brandal Jepit aja deh.. Atau justru Brandal Cinta??

Brandal biasanya identik dengan kenakalan dan kebandelan.. Tapi yang aku maksud di sini adalah BRANi dianDALkan.. Ya, Puji Tuhan aku dikaruniai Tuhan dengan orang-orang dan sahabat yang luar biasa di sekelilingku. Mereka yang benar-benar ada saat susah maupun senang serta saling menyediakan bahu untuk bersandar, menguatkan, dan meringankan setiap beban. Mereka.. yang membuatku menitikkan air mata kala menahan rindu bila lama tak bertemu. Mereka.. yang sungguh tulus untuk menerima  aku apa adanya, lengkap dengan kekurangan dan kelemahanku.

Itulah BRANDAL versiku.. bagaimana denganmu??

Akoe dan Om Dhanie.. Mentor Pertamaku..

2

Pak, sering nonton Mario Teguh ya?”.. tanya anak buahku kemarin pagi. Aku terkejut waktu itu sambil mengerenyitkan kening sebab aku tidak begitu sering melihat om Mario bercuap-cuap dengan Golden Ways-nya. Ketika balik kutanya kenapa? Ternyata dia dengan seksama mengikuti briefing pagiku setelah pulang shift malam, menghabiskan satu jam bersama anak-anakku tepat sebelum mereka pulang kerja. Ternyata ada pula yang mengamati gayaku…

Yah, memang setiap briefing kubawakan dengan sedikit kreatif, dengan berbagai pelajaran hidup yang kubaca dari buku atau kuperoleh dari video-video motivasi dan pengalamanku sendiri. Ambil contoh mengutip lirik lagu gawean Ahmad Dani untuk Regina Sang Pemenang Indonesian Idol 2012 “Kemenangan adalah milik orang-orang yang berjuang dan berdoa”. Kadang aku bagikan ke anak-anak dengan ditambahi sedikit syarat untuk menang.. yaitu bagi mereka yang berdoa, berjuang, dan beruntung.. Lalu aku sambung dengan “Kemenangan terbesar adalah saat kita bisa bersyukur atas semua yang kita terima: cobaan, rejeki, godaan, dan lain sebagainya”. Hemh.. aku juga paling suka membuat akronim misal “ Bapak akan mencari CINTA di line ini selama bulan Juli.. “Cleanliness, Initiative, Normative, Teamwork, and Appreciation” lalu aku terjemahkan dan terangkan maksudku.. Bukan aku mencari cintaku di pabrik ini looh.. heheheehe..

Hal lain yang aku lakukan adalah menggunakan idiom yang ada seperti “menolong anjing yang terjepit pintu” atau “nggebukin orang gila” untuk hal-hal yang barangkali ada dalam interaksi kami. Permainan kata, mimik, gesture, dan intonasi juga turut kubawakan dalam setiap aku berdiri di tengah mereka. Yang jelas, aku ingin ada ritme dimana mereka juga berinteraksi dengan apa yang sedang kubahas atau sampaikan. Sehingga training, briefing, sharing, dan sejenisnya tidak membosankan atau kata kerennya GAYUS.. GARING dan JAYUS..

Akoe dan Sebuah Gong Yang Slalu Kurindu..

2

Ini kisahku.. sungguh kisahku. Katakanlah itu masih kualami hingga detik terakhir coretan ini kubuat. Yah.. aku tengah larut dalam emosiku dengan sebuah gong.. Betul.. gong sejenis tetabuhan dari yang berbunyi menggema merdu kala dipukul lembut. Seolah insan berbisik lirih atau menggertak kencang tergantung kuat lemahnya pukulanku. Bentuknya indah, ada ukiran Jawa di sekujur tubuhnya dan dihiasi manik mutiara sehingga berkilau di gelap malam sekalipun..

Namun itu tetaplah sebuah gong, yang tetap diam jika tidak kutabuh. Hanya sebuh gong.. yang betah mendiamkan dan hanya memandangi gerak-gerikku.. dari dekat maupun kejauhan. Aku tahu pasti bahwa dia mengetahui bahwa aku mengagumi dan menyayanginya.. Tapi dia tetaplah gong sahabat.. yang tetap membisu walau aku panik merindunya.. aku kangen akan sapaannya.. aku ingin mendengarkan suara merdunya.. Dia hanyalah gong.. yang harus kutabuh dengan lara hatiku..

Sahabat..  ada yang bisa berikan kisah padaku tentang gong yang berbunyi sendiri tanpa satu cerita mistis di dalamnya. Bukan gong ajaib ataupun gong sakti yang tiba-tiba bergoyang dan menggema perlahan hingga membuat bulu kuduk merinding. Ayolaah.. gong biasa saja, baik dalam kumpulan gamelan lain maupun tunggal terpisah dari kawanan.. Aaah.. rasanya tidak ada…

Sahabat.. aku dan gong itu…sungguh memilukan tapi tetap saja membuatku ingin… Dan gong itu adalah sesosok wanita cantik yang belakangan menghiasi benak dan malam-malamku.. Anjriiiiit….

Ah Kampreet.. Cuma Ge-eR doang…

0

aaah.. KAMPREET..” rutukku setelah merenung sambil mondar mandir sekitar area kerja kira-kira dua jam lamanya. Kulirik sumber ke-kampretan dini hari ini dan dia seolah mencibirku sambil meledek “rasain.. emang enak bro?”. Saat hendak kubanting tiba-tiba dia mendelik dan menghardikku “coba kalau berani!! bakal digantung orang banyak loe!!”. Aku pun mengkerut.. Nyaliku ciut karena gertakan si hitam kecil gadget kenang-kenangan dari rekan-rekan di pabrik lamaku. Boleh juga gertakannya, secara gitu.. mana berani aku merusak barang yang menjadi salah satu pengikatku dengan sekelumit kisah hidupku tersebut. Tapi.. ya gara-gara si hitam kecil berkamera itu aku jadi merutuk sembarangan.

Bukan gadget itu memang penyebabnya, tapi karena konten media sosial yang ada di dalamnya yang membuatku menyebut nama lain dari salah satu binatang bersayap yang aktif di malam hari. Yah, kalau kerennya boleh lah dibilang BATMAN..  Sambil muter-muter akhirnya aku sadar bahwa si kampret yang aku maksud sebenarnya bersumber dari ke-GR-anku sendiri. Yap.. Ge-eR alias gede rasa tentunya. Gara-gara status seseorang di jejaring sosial yang kuikuti, plus gara-gara email penawaran yang beromzet besar yang batal menghampiri. Semuanya ternyata membikin Ge-eR dan ujungnya menjadi kampreet..

Sahabat.. rasa gede eh gede rasa memang kadang menjadi musuh pribadi kita. Dipercaya atau tidak seringkali kita SALAH dalam menginterpretasikan apa yang kita baca, rasa, atau lihat dan segala yang kita jangkau dengan panca indera kita. Baca status seseorang jadi deg-degan, cenat-cenut, bahagia, sedih, atau murka padahal belum tentu tentang kita. Dekat dengan seseorang akhirnya membuat kita menjatuhkan vonis bahwa si dia ada rasa. Baca email broadcast message atau email jadi melayang karena mengira kitalah yang beruntung akan suatu hadiah atau penawaran. Denger kasak-kusuk akan dinaikkan gaji, dipecat, dilamar, atau diceraikan sudah membuat hati kebat-kebit..

Padahaaaal.. belum tentu semua benar adanya. Perlu suatu waktu dimana semuanya akan terungkap. Dan ke-GR-an memiliki jawabnya, yang nyata, bukan pengandaian atau pemisalan. Di sini memang akan terlihat kualitas ketenangan individu dalam menghadapi apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Ada satu tahap sepertinya untuk “DIAM” dan mencerna dengan seksama.. Ada juga tahap lain untuk “SABAR’ dan menunggu kelanjutannya. Juga tahap “DOA” bila ingin yang datang baik adanya. Dan aku? Jelas belum sampai ke tahap kualitas yang itu. Buktinya ya rutukan si kampret itu..

Bagaimana denganmu sahabat? Pernahkah dilanda Ge-eR?

Coretan Terakhir di bulan Juli 2012.. Ketika Kasih Takkan Pernah Bisa Terbalaskan..

4

Huuuft.. What a perfect Saturday for me.. setidaknya setelah rencana mudik yang begitu mendadak di akhir minggu ini bisa kulaksanakan. Beruntung cuaca kemarin pagi begitu bagus sehingga aku bisa menikmati perjalanan pulang ke Swarnadwipa dengan selamat sentosa (mudiknya bertiga dong.. dengan Slamet dan Sentosa). Ombak tenang di Selat Sunda plus bisa menikmati gigitan kecil ikan-ikan Gara Ruffa di atas kapal Ro-Ro JATRA I turut mewarnai kisah pulangku. Aku yakin si ikan pasti mabok laut setelah menggigiti sel-sel kulit mati di kakiku hehehe..

Mudik kali ini membawa tiga misi sekaligus.. Pertama, mengenalkan laptop dan teman-temannya kepada bapak ibu karena ada uji kompetensi guru SD secara online di awal Agustus ini. Kedua, apalagi kalau bukan tentang si calon menantu. Ketiga, baptisan keponakanku Noel yang makin hari makin menggemaskan. Nah, coretan kali ini tentang misi pertama sajalah.. yang kedua dan ketiga biar kusimpan sendiri sajo..

Siang yang terik cukup teratasi dengan hembusan bayu nan sejuk di rumah masa kecilku. Itulah yang mungkin membuat bapak ibu sangat bersemangat untuk belajar mengenal si Aspire pacar lamaku. Mulai dari menghidupkan dan mematikannya hingga berselancar di dunia maya mencari bahan ujian dan simulasinya. Tapi yang paling seru adalah saat teman-teman si pacar lama yang juga kuperkenalkan. Mulai dari mouse yang disebut ‘tikus’, modem yang dengan semena-mena dipanggil ‘bodem alias martil besar’ oleh bapak, dan flashdisk yang dengan gampangnya dinamakan ‘plesdis….aiih plisdeh’ . Juga beberapa perangkat lain yang membuatku terpingkal geli karena sebutannya diplesetkan. Semuanya membuat kami bertiga larut dalam keriuhan hingga akhirnya kusudahi karena jam tidur siang sudah memanggil.

Setelah buka puasa, semangat belajar bapak ibu ternyata masih membara. Kami lanjut lagi dengan simulasi ujian online dimana aku berperan sebagai pengawasnya. Kali ini lebih seru karena kadang aku iseng menutup si laptop karena mereka terlalu lama membaca dan memilih jawaban sehingga serempak bilang.. “Mas.. mas.. matek letope…” hahahaha.. Belum lagi kalau jika kutinggal ke ruang lain dalam rumahku dan mereka salah pencet sehingga harus di re-load dan akibatnya harus mengulang dari awal. “Haduuuh.. tambah mumet iki” serempak terdengar kalimat itu dari bibir mereka. Belum lagi jika cursor terlalu ke atas atau ke samping dan mereka repot mengoperasikan si tikus atau berpindah memakai touch pad agar tidak terlalu ribet menggerakkan si tikus. ‘Waduh mas.. keju tangane..’ kata bapak.. (keju : pegal/capek). Bayangkan sahabat.. bagaimana kalau si tikus dengar, pasti si keju bakal dimakan tuh.. lalu si tikus dipukul pakai bodem hehehehe..

Sahabat.. entah kenapa tidak ada rasa jengkel atau gusarku saat mengajari bapak ibu. Yang ada hanya mataku yang berkaca-kaca membayangkan bagaimana rasanya mereka dulu mengajariku makan, buang ingus, berjalan, bicara, cebok, dan sederet kegiatan yang tak ku tahu sebelumnya. Pasti jauh lebih menjengkelkan dan menjemukan. Ini belum seberapa.. mereka mengajariku dengan penuh kasih, apalagi jika kuingat tingkahku dulu yang sering mengompoli pesawat radio (dan kayaknya sengaja deh.. karena tiap lihat radio langsung kunaiki dan kupipisin.. wadeeew…). Atau saat aku dengan santainya jalan-jalan pakai celana dalam bapak sampai ke rumah tetangga saat merecoki Ibu yang sedang menyeterika, bikin malu ajaaah.

MUST READ

Pelajaran dari Shelo

0
Pa-pa.. Ma-ma.. Suara si kecil Shelo di tengah langkah-langkah kecilnya yang tertatih saat belajar berjalan. Seolah memberitahu kami bahwa dia MAU BELAJAR! Meski terkadang terjatuh,...