Home Blog Page 15

Kala Si Kondektur itu bertoga…

4

Hari ini lirih kuucap “Dirgahayu Pak Bos.. Semoga Tuhan senantiasa menjagamu.. Pendidik dan Idolaku..”. Yach, hari ini bapakku tepat berusia 54 tahun. Meski tak bersamanya hari ini, tapi aku tahu bahwa kerut di keningnya menandakan satuan angka puluhan di usianya. Pagi ini kuluangkan waktu untuk mendengar suaranya di ujung hape seraya memastikan bahwa kondisi beliau sehat di hari jadinya dan puasa keduanya. Jika ingin mengenal beliau, bisa dilihat di sini, atau di sini, juga di sini. Kali ini aku ingin persembahkan coretan ini buat ultah beliau sekaligus kuikutkan di lomba blog SSE dengan tema “Menjadi Pendidik”..

Sambil menatap wajah si Aspire yang kali ini kujadikan teman mencoretku, aku ingat kalau saat ditanya dalam sesi wawancara kerja, aku akan jawab bahwa bapakku adalah seorang dosen.. Ya, meski dosen SD saja heehee.. Satu profesi mulia yang beliau emban dan tekuni selama separuh usianya. Dalam satu sesi obrolan kami berdua ditemani dua cangkir kopi dan cemilan malam, beliau menceritakan bahwa beliau memilih untuk menjadi guru atau pendidik karena di masa itu masih jarang sekali yang menekuni profesi itu sebab kualitas SDM juga masih rendah. Bibir yang semakin menghitam itu sangat lancar bercerita tentang bagaimana waktu beliau SMP banyak temannya baik yang kurang mampu atau yang anak orang berada tertinggal di semua mata pelajaran karena kesempatan belajar yang sedikit sebab sang guru tidak masuk atau jadwalnya berbenturan dengan sekolah lain. Akhirnya beliau berinisiatif untuk mengadakan kelompok belajar guna menambah jam belajar mereka dengan dirinya sebagai pembimbingnya. Luar biasanya itu dilakukan setelah beliau bekerja serabutan sebagai kuli angkut, kuli bangunan, atau kondektur guna memenuhi kehidupan sehari-harinya karena memang beliau tidak mau dikirim uang oleh orang tuanya. Yah.. kondektur yang selalu menunduk jika yang ditarik ongkos adalah pendidik atau guru SMP-nya.

Aku menggigit bibir kala itu, sungguh trenyuh dan memang aku belum seujung kukunya dibanding beliau. Baik dari masa kecilnya maupun sampai sekarang pun, aku belum bisa menyamainya. Masih dalam kesempatan yang sama, kami obrolkan suka dukanya menjadi pendidik selain slogan Ing Ngarso sing Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, maupun Tut Wuri Handayani (Ki Hajar Dewantara-Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) yang wajib diemban dalam melaksanakan tugas kependidikan. Apa saja itu?

Aku Bangga Menjadi Alumni Fakultas Farmasi Sanata Dharma Yogyakarta

0

Malam mulai bergerak menghabiskan malam mingguku. Kali ini kulewatkan di sudut Cileduk tempat Om tercinta yang sudah menjadi Bapak saya yang kesekian apalagi setelah lantai atas rumahnya seolah menjadi lantai guwe banget.. Dan aku menjadi si anak sulung di keluarga kecilnya. Sebenarnya hampir kututup rapat peristiwa sore ini untuk tidak kucoretkan di blog sederhana ini, tetapi adik tingkat ajaib yang selalu membangkitkan semangat menulis saya kali ini sekali lagi berhasil membuat saya buru-buru menarikan jemari di keyboard Aspire yang makin menua ini lewat tulisannya. Membaca kembali judul coretan ini membuat saa merinding disco.. Sungguh saya bangga menjadi alumnus Farmasi Sanata Dharma Yogyakarta..

Kenapa begitu? Sangat banyak sekali penyebabnya.. Mulai dari dibentuknya grup di jejaring sosial yang dibentuk guna temu alumni akbar di bulan Oktober tahun ini.. Kemudian bagaimana fakultas ini menjalin relasi yang kuat dengan para stake holder untuk menampung lulusan yang siap kerja dan berkualitas.. Lalu berbagai prestasi terbaru yang ditorehkan oleh adik-adik kelas yang selengkapnya bisa disimak di sini.. Heuft, jadi iri bagaimana mereka bisa mengharumkan nama civitas akademiku itu.. Aku dulu belum bisa melakukannya, emang dasar kurang cerdas kali ya.. Tapi bangga juga ketika di tahun 2011 kemarin bisa hadir lagi di sana untuk memberikan Kuliah Tamu “Kemasan Farmasi” buat adik-adik S-1. Setidaknya bisa berbagi karena saya beruntung untuk lebih dulu belajar dan mempraktekannya dalam dunia kerja. Mohon DICATAT.. hanya beruntung karena saya bukan mahasiswa yang cerdas luar biasa jaman dulu.. Apa lagi? Ya tentu bagaimana bisa memberikan tempat PKL plus tempat mondok selama melakukan kegiatan tersebut di satu perusahaan farmasi PMA divisi Consumer Care yang cukup ternama di sudut Cimanggis Depok. Yaaah.. Dari semua itu ada satu kata “KEHANGATAN” yang bisa saya simpulkan sebagai penyebab BANGGA-ku terhadap fakultasku.

Manajemen Hidup ala Pintu Rusak..

0

Aku tertegun malam ini ketika melihat pintu itu masih rusak dan belum diperbaiki. Yah.. barangkali order permintaan perbaikan yang kutulis ke pihak yang berwenang belum bisa dikerjakan karena ada order lain yang lebih mendesak. Pintu yang kumaksud adalah dua pintu bersebelahan yang dilengkapi automatic door closer di area kerjaku. Satu pintu tuasnya patah, sedangkan satu pintu lagi karena terlalu keras mendorong maka justru terbalik arah buka tutupnya sehingga tidak bisa menutup sempurna. Tidak ada yang spesial saat itu karena yang ada aku kecewa sebab kedua pintu tidak bisa digunakan dengan semestinya.

Namun saat kembali ke ruangan kerja, aku tertarik untuk membuat coretan singkat ini. Satu coretan yang terinspirasi dari pintu-pintu yang rusak tadi. Aku beri judul Manajemen Hidup ala Pintu Rusak..  atawa MHPR (kalau MPR nanti digugat rakyat Indonesia).

Sahabat, pernahkah terpikir olehmu bahwa dalam kehidupan kita, ada beberapa hal yang memiliki batas maksimumnya? Dalam karir, cinta, kesehatan, dan keuangan? Bagi mereka yang tidak pernah puas akan suatu ‘pencapaian’ tentu saja akan bertepuk dada dengan mengatakan bahwa semuanya tanpa batas atau ibarat iklan ‘unlimited’. Iklan apa? Iklan salah satu provider jasa telekomunikasi swasta yang pernah saya lihat dan mak jleeeeb mengoyak ulu hati saya. Bagaimana tidak, dalam dua iklan yang satu modelnya cowok dan lainnya seorang cewek, prolognya tentang menentukan JODOH.. Asyeeem..

Kembali ke coretan lagi.. Ketika melihat kenyataan pintu rusak dengan beda kondisinya, saya merasa bahwa pintu rusak tersebut sungguh mewakili bagaimana kita dalam menyikapi hidup ini. Ada batas yang tak bisa dipaksakan dan bilamana kita lewati, akibatnya adalah suatu kegagalan, kehancuran, dan kerusakan yang tak pernah bisa kembali lagi seperti semula.. Semua perlu dijalani sesuai porsi dan kemampuannya, tanpa melebihi takaran yang telah disematkan.

Dalam KARIR misalnya.. Adakalanya seseorang bekerja luar biasa rajin hingga tak kenal waktu, tak kenal lelah, sampai kadang lupa pulang sampai dibuatkan lagu berjudul Bang Toyib.. Ada pula yang nekad tabrak sana tabrak sini, sikut sana sikat sini, jilat sana suap sini dan seterusnya guna mencapai jabatan yang diinginkan. Hasilnya.. yang lupa waktu segera dapat penyakit, yang menghalalkan segala cara akan terkuak pula belangnya bahkan terjatuh di episode akhir kisahnya. Ingatlah satu nasehat  bijak dari Kiai Hasan Ulama.. “Sumur bening ora bakal golek timbo.. yang kira-kira artinya jangan sia2kan waktu untuk mencari jabatan tetapi jika amanat itu datang kepada kita, embanlah dan laksanakan” dikutip dari buku Sepatu Dahlan karangan Khrisna Pabichara. Bukan kita sebenarnya yang mencari jabatan, lantas kenapa harus memaksakan diri untuk mengejarnya?

Syarat Jatuh Cinta.. Ala-ku Sendiri..

4

Hari menjelang siang tentunya saat langkah gontaiku memasuki mess setelah semalam begadangan shift malam. Namun apa lacur.. mata seolah tidak takluk juga malah jelalatan menyapu isi kamar yang baru saja kumasuki. Terlebih binarnya seperti bertambah ketika melihat tumpukan buku yang baru saja kubeli kemarin di sudut kota Depok. Satu buku sudah kubaca, buku apa lagi ya? Ehm.. tanganku gak sinkron dengan hati dan benak nampaknya karena tiba-tiba di tanganku sudah ada satu buku bersampul kiyut dengan judul Syarat Jatuh Cinta.. Aih, apa-apaan ini, jiwa STMJ-ku (Sudah Tua Masih Jomblo.red) serasa berontak, jangan ini ah.. masak abis begadangan mau bercinta-cinta.. hehehehe.

Tapi itu cuma sebentar sebab beberapa detik kemudian aku sudah nangkring di atas kursi bakso dalam ruang dapur mess. Secangkir kopi, dua bungkus wafer, dan sebungkus rokok sudah menemaniku (mohon jangan ditiru untuk yang terakhir ini) untuk menemani waktu baca mendadakku. Memang disaput juga rasa penasaran tentang isi buku ini sehingga adik tingkatku yang jago futsal dan laku keras ama cewek (daripada dia nangis badai kalau aku sebut Arjuna-nya fakultasku dulu di Jogja) sibuk promo buku ini melalui media apa saja. Ah.. pasti ada hubungannya sama si pengarang deh, pasti sama yang cowok kan? Jiaaah.. kalau dia baca tulisan ini pasti tambah nggerung-nggerung.. Tenang bro.. aku doakan berhasil deeeh..

Tepat pukul 09.30 waktu Cikande, Banten, aku mulai ‘melahap’ novel setebal 237 halaman plus halaman-halaman tetek bengek karangan Marin Josi dan Purba Sitorus ini. Dan setelah berganti tempat ke kamarku karena si teteh yang suka bantu bersih-bersih mess sedang beraktivitas di dapur maka tepat pukul 10.50 kurampungkan novel remaja ini. Hemh.. benar ternyata kata si Marin yang notabene adik tingkatku waktu kuliah bahwa aku gak perlu tissue karena akan tertawa dan senyum-senyum setelah membaca novelnya. Cerita dan alurnya menarik, diselingi humor yang cerdas, dan tralalaa.. si Marin dan Purba sangat smart menyelipkan beberapa artikel tentang sedot lemat, menu diet, creambath, hingga puisi bahasa Londo sehingga novel ini jauh dari kata membosankan. Thanks tentunya ya non dan bro.. karena menambah pengetahuanku juga.

STOP!! Sayangnya aku bukan tukang buat resensi buku, sehingga kalau aku teruskan dengan membahas isi buku takutnya membuat kecewa si pengarang karena ngawur jadinya. Aku juga pengen yang lain beli sendiri agar bisa membaca, menginterpretasi, dan menikmati makna dari Syarat Jatuh Cinta yang ada di novel ini apalagi klimaksnya di halaman terakhir (237), berdansalah dengan pikiranmu dan layangkan tebakan jitumu di sana, jawaban pastinya ada di buku kedua atau ketiga sepertinya (semoga akan ada.. Amiiin). Jempol buat kalian berdua (Marin.. mohon kasih tahu si Purba ya..). Dua hal yang aku akan ungkap sedikit, pertama adalah inisial nama Asta dan Alana yang sama-sama APP. Ini tidak mengingatkanku pada Aksi Puasa Pembangunan tapi melontarkan ingatanku pada mantanku dulu karena inisialnya sama-sama ADP, beda tipis yah.. Kedua, mau nanya, si Fio kira-kira cinta gak ya sama Asta ? Siapa tahu di buku berikutnya misal Syarat Pacaran kalian bisa tuliskan cowok idola si Fio.. sebab sahabat, si Fio ini ibarat kata adalah sahabat yang sejati.. Ada di saat senang maupun susah dan kayak kencing dalam kolam renang, biar gak terlihat tapi hangatnya selalu terasa. Pengen banget punya sahabat kayak gitu yang buanyaaak.. soalnya aku juga dah punya hehehee..

Baik, tanpa mengganggu ide utama penulis, tiba-tiba aku pengen share saja pengalamanku setelah mencincang buku ini dalam waktu kurang dari dua jam. Topiknya tentu sama, syarat jatuh cinta… dan aku punya tiga syaratnya, ada yang punya lebih..?? monggo alias silakan.. Yuk disimak…

Kala si Kepo Kena Batunya…

0

Pagi belum kunikmati betul siang ini karena nonton bola di TV dan saling bergantian karena kadang BLUP!! aku tertidur dan terjaga lagi (tahu kan maksudnya..). Humh.. sampai pagi menjelang setelah drama adu pinalti antara Inggris kontra Italia yang dimenangkan si Negeri Pizza karena kegagalan duo Alay ups Ashley, aku belum bisa tertidur juga. Tepat saat si kantuk melanda, mulai mempersiapkan peraduan, tiba-tiba ada karyawan yang tergopoh-gopoh mendatangi mess tempatku bermukim sebab ada karyawan lain yang sakit. Berpikir cepat karena aku kebetulan jadwal masuk siang, tanpa pikir panjang untuk cukur kumis dan brewok-ku, aku langsung ambil kunci motor, helm, tak lupa hape dan dompet lalu tancap gas meninggalkan pabrik menuju klinik terdekat.

Wajah kumel, ngantuk, laper, makin tambah kucel karena agak jengkel sebab dokternya sedang mandi. Tapi hanya sesaat ternyata.. sebab saat si dokter muncul yang ada wuaooow.. Dokter itu masih muda, kutaksir 25 tahunan, wanita (jelas.. ngapain guwe tulis di coretan ini), suaranya enak dan wajahnya.. cantik dengan kacamata minus ber-frame hitam. Tapi yang bikin bergetar adalah liontin salib yang dikenakannya, wah.. ini guwe bangeeet (dasar STMJ.. maaf ya..). Sejenak aku teringat akan dokter muda di Jakarta sana andai kalian masih ingat coretanku tentangnya. Semua yang aku tuliskan di kalimat awal paragraf ini hilang.. dan berubah 180 derajat walau aku tetap brewokan, belum mandi, dan kumal hehehe..

Dan Kujalani Hidupku dengan Senyuman.. (Aku Pasti Bisa..)

0

Bangun tidur siang ini, langsung kayak orang kesurupan sebab langsung liat kalender dan melihat kemungkinan untuk ke Kota Gudeg lagi, kali ini harus ambil atau tepatnya ijin cuti (maklum belum satu tahun di tempat baru). Apalagi kalau bukan ngejar rekomendasi dari instansi profesiku di Jogja sana. Agar aku bisa mendapatkan surat iji kerja di sudut Serang-Banten ini. Hemh.. kayaknya kok ribet banget, males, dan sialnya aku kena sindrom “ada uang beres” jadinya pengen transfer sejumlah uang dan “Cliiiing…” kabeh beressss. Semakin tambah usia kayaknya malah semakin seneng pergi buat seneng-seneng daripada buat urusan pekerjaan. Waaah bahaya ki..

Tapi mendadak aku ingat pengalaman karaoke di akhir minggu lalu.. kala satu wajah cantik di layar monitor tepatnya di room 26 menarik perhatianku di malam itu.  Ya.. si cantik nan lincah yang membawakan tembang “Aku Pasti Bisa”, kalian pasti tahu siapa dia.. membawaku untuk mengatasi kemalasanku menghadapi urusan ini. Apalagi scene dari video klipnya ambil lokasi di Djogja..  Yap, aku pasti bisa.. menikmati semua dan menghadapinya. Masih ada mentari terbenam yang akan beri semangat dengan kicau merdunya.

Geliat Cinta di Pekatnya Kawasan Kerja..

2

Sepulang kerja hari ini aku sempatkan untuk maen bola bersama operatorku di kampung sekitar kawasan industriku. Walau ngos-ngosan tapi puas juga karena bisa salurkan hobi olahraga. Aje gile kalau seminggu full tanpa olahraga.. bisa mateng stress kerja. Pulang dari lapangan dan nongkrong sejenak di tempat operatorku hari sudah menjelang malam, akupun memilih rute yang tidak sama dengan keberangkatanku karena jalanan itu kini rawan dengan perampokan atau tepatnya pembegalan motor. Hemh.. masih jiper juga guwe, sudahlah.. aku memilih mampir dulu belanja di minimarket di sudut Cikande.

Lirak-lirik di minimarket dengan gadis manis yang masuknya bareng denganku tak terasa menambah berat keranjang belanjaanku, biar lamaan saling liriknya.. ah dasar pria.. Tapi karena mengingat isi dompet di tanggal tua, mau tak mau harus segera menghentikan kecentilanku di tempat itu. Setelah selesai transaksi dengan mbak kasir kaburlah aku pulang. Karena pilihan ruteku, aku melewati  kawasan industri  tetanggaku. Semoga masih ingat coretanku tentang si kecil penantang maut. Aku pastinya hafal liku2 jalanan di kawasan ini karena aksesku keluar masuk peradaban (begitu kami mengistilahkan kalau keluar mess pabrik untuk belanja).

Kali ini saya cuma minta satu saja Tuhan..

4

Lewat satu hari dari usia lamaku.. Dan sekarang aku menjalani nafas, olah pikir dan rasa, serta gerakan jemari di tuts Aspire ini dalam dimensi usia yang baru. Lebih tua memang.. dan semakin pantas dengan banyaknya uban di rambut ini. Akan tetap kali ini aku secara khusus ingin berbagi rasa yang kunikmati di pergantian usia dengan kalian sahabat.. Terserah mau dibilang eksis, curcol, galau, labil, atau apapun.. Baca saja, jika berkenan ya diterima, jika tidak ya kebangetan.. hahaha..

Ulang tahun yang kesekian terus terang tidak saya rayakan dengan orang yang spesial, bahkan yang paling dekat sekalipun juga sudah saya tutup prosesnya karena harus menunggu kata “Ya, mari menikah” yang entah kapan terbitnya. Hemh.. seperti di coretan saya sebelumnya bahwa saya sekarang cenderung efisien dan tak luwes dalam menjalani yang namanya cinta. Kenapa.. kalau kata temen-temen karena faktor “U”, yah benar itu alasannya. Aku tak mau bermain lagi dengan sang waktu untuk  memilih dia yang pantas menjadi sandaran hidupku. Jika ada komitmen maka  tentu terlihat dari awal.. menurutku lho.. Setuju??

Ketika Cinta Ibarat Mencuci Piring dan Baju…

0

Sahabat.. masih ingat filosofi cinta seperti membuat karamel versi Ibuku? Nah.. kali ini ada lagi versi lain menurut beliau, saat aku menikmati liburan panjang kali ini di rumah Lampung. Semula hanya rutinitas kecil belaka, saat menjelang sore kubantu beliau mencuci piring dan baju, serta beberapa kain dekor pengantin seusai malamnya beliau merias di kampungku. Tak ada yang aneh awalnya, kulakukan semua dengan sewajarnya, mulai dari mencuci, membilas, hingga meletakkan piring dan gelas di raknya atau pakaian dan kain di tali jemuran. Tapi menjadi ‘sesuatu’ ketika kusadari sepasang mata beliau mengawasi setiap gerakanku..

Kenapa bu? Ada yang salah ya?” tanyaku mengejar penasaranku.

“Enggak.. cuma agak kaku keliatannya, mungkin karena Mas sekarang jarang melakukannya” tukas beliau. Jelas lah.. wong ada si teteh di mess yang mencuci pakaianku.

“Lah.. mosok sih? Nggak luwes lagi ya Bu.. Tapi kok kalau Ibu kayaknya fasih banget” cecarku..

“Yo jelas.. karena Ibu biasa melakukannya, apalagi kalau sama Bapak, bisa lebih cepat selesainya. Tar kalau sering nyuci lagi, pasti Mas luwes lagi” sahutnya cepat.. sambil senyum penuh arti.

Biarkan Ombak Menghempas Bebas.. Semaunya…

2

Satu ketika ada waktu senggang yang membuatku kabur sementara dari rutinitas kerja di kawasan industri daerah Cikande-Serang untuk pergi bersama team leader dan supervisor ke kawasan Anyer. Tujuannya jelas, apalagi kalau bukan menikmati sejenak suasana pantai meski secara perhitungan kami tahu bahwa akan menjelang siang sesampainya nanti kami di sana. Tapi tak apalah.. dengan semangat ‘45 kamipun langsung tancap gas dan melesat.

Sesampainya di sana, apalagi yang kami lakukan selain langsung berganti baju dan mulai meraup gelak tawa dan keceriaan dari maen air, kejar-kejaran, maen bola, atau sekedar menikmati ombak yang menghempas badan sambil tiduran. Menikmati ombak? Triiing.. layaknya jin di sinetron televisi pikiranku mulai melesat meninggalkan keceriaan di tengah team. Aku mengejar sendiri kenikmatan rohaniku tatkala beberapa kali ombak menerpa punggung atau dadaku tergantung posisiku menyongsongnya..

MUST READ

Liburan Rohaniku Episode Malam Paskah…

0
Kantuk masih menderaku di pagi ini (sejam yang lalu..). Sekedar sarapan kecil cukup mengganjal perut laparku. Malas sekali rasanya untuk mandi, kumulai saja aktivitas...

Balada si Korek Merah..

Balada Buruh dan MEA..