Akoe dan Si Bapak Tengil…
Satu kedai es cendol di sekitar jembatan Kebon Nanas menjadi pilihanku siang ini untuk melepas penat setelah menikmati perjalanan dari Serang ke arah Ciledug menggunakan bis antar kota. Meski debu berterbangan di sekitar kedai kecil yang kusinggahi tetap tak sanggup untuk mengalahkan nikmatnya segelas es cendol di terik hari ini. Slruuuup.. tegukanku yang kesekian memuaskan dahagaku. Urusan haus lenyap.. kambuh deh penyakit mata jelalatanku yang liar menatap sekeliling. Ke kanan, kiri, atas, bawah ups.. ada dua kucing berlarian nampaknya ingin menuntaskan percintaannya siang ini. Cing.. kucing.. inget waktu woi… ntar malem aja kenapa sih..
Saat kutengok lagi kedepanku, tampak seorang bapak berjaket hitam sedang asyik ngobrol di hape dengan kerasnya. Ah.. si tengil ini rupanya!! (nanti aku ceritakan kenapa aku menyebutnya si tengil). Dalam pembicaraannya dia tampak membentak seorang wanita yang dipanggilnya ‘mama’ untuk segera menjemputnya di kedai yang sama denganku singgah. ‘Sebagai isteri harus nurut suami… ‘ itu yang dikatakan dengan lantang sebelum Ia mengakhiri pembicaraannya. Wuah.. kasar banget bang!
Tak berapa lama dia berganti hape dan menghubungi seseorang lain.. Anehnya kali ini dia panggil ‘sayang’, mungkinkah menelepon isterinya tadi? Tapi ah tidak.. suara di ujung hape itu terdengar beda. Tuhan.. kenapa telingaku “kepo” banget?? Tapi sumpah dengan jarak antara kami berdua yang hanya dibatasi meja penjaja kedai, volume hape tersebut masih terdengar olehku. Dosa dosa dech..







