Saya Perlu 100 Juta..
Hegh.. agak gimana gitu rasanya di dada saat mau menulis coretan ini. Tapi setelah doa yang khusyuk.. dan pasrah tentunya.. aku melirik dia.. ya.. dia.. hanya Aspire yang mau berbagi sesak ini. Bebas rasanya berteriak tanpa suara dan mengaduh tanpa lenguh dengannya melalui coretanku. Sore yang berhiaskan rinai hujan turut menyemangati lincahnya jemari ini dalam menyakiti tuts demi tuts si item Aspire.
Sahabat.. pernahkah kalian memerlukan materi.. dalam jumlah besar.. hingga terpaksa berhutang? Kalau iya mari salaman..
Coretan begitu lancar di awal karena hanya beberapa detik saja untuk menuliskan segambreng kalimat di atas. Tapi selanjutnya.. narik nafas.. buang.. hisap rokok.. telan.. sedalam-dalamnya.. baru dihembus melalui mulut dan hidung (laksana fogging mikroba). Awal kisah kita ke TKP eh salah.. awal coretan sebenarnya dari obrolan ringan beberapa hari yang lalu tentang kenalan yang terkena musibah sudah jatuh tertimpa tangga. Ada ya? Ada dooong.. sebab dia mengalami lakalantas karena menabrak dua pejalan kaki yang kebetulan menyeberang.
Naas memang.. sebab yang ditabrak adalah dua remaja putri. Kenalanku luka-luka, motornya bonyok dan di lain pihak kedua korban juga harus dilarikan ke rumah sakit. Selang beberapa hari, satu di antara korban boleh pulang sedangkan yang lain masih koma. Di tengah rintihan sakit karena lukanya, kenalanku diminta ganti rugi 100 juta atau menikahi si korban yang masih koma. Apa?? 100 juta..?!?!




