Pagi di Ciledug sudah dihebohkan dengan raungan sirine suara tanteku untuk membangunkan tiga jagoan tidur hari ini : aku, Om-ku, dan adik sepupuku.. Berhubung semalam curcol dan nonton bola sampai subuh, akhirnya akulah penyebab beberapa menit keterlambatan kami ke Gereja Santa Bernadeth di bilangan Regency Ciledug dari jadwal mulai pukul 06.00 waktu setempat. Biasanya gereja sore eh diajak pagi.. pastinya kriyip-kriyip. Untungnya Pastor Ipong mengingatkan bahwa ke gereja harus total dan sungguh.. Tidak tidur, mainan HP, ngobrol, dan aktivitas lainnya. Aku lirik kanan kiri, ajaiiib.. wajah ngantuk jadi seger semua (termasuk aku tentunya..)
Hari ini khotbah Pastor diisi tentang hukum Kasih Allah : Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu, Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pastinya anjuran senada juga ada di agama-agama lainnya dengan kalimat yang berbeda. Aku mendengarkan seksama kali ini dan menyimpulkan bahwa kasih itu TAK NYUS… (maaf Pak Bondan saya plesetin kalimat andalannya..)
Kenapa TAK NYUS..? TAK Nyerah, Utuh, dan Sederhana..
Dalam mengasihi, kita harus TAK NYERAH walau tak jarang balasan yang kita terima adalah cibiran, umpatan, atau justru dicurigai. Kalau yang masih jomblo biasanya terus diolok jadi MODUS.. hehehe. Tapi kita hidup untuk mengasihi.. bukan melukai atau membenci.. jadi maju teruuus..
Kasih juga harus UTUH.. Dalam hukum kasih diajarkan kasih pada Tuhan dan kasih pada sesama. Apakah bisa dipilah atau dijalankan salah satu saja? Ternyata tidak.. Layaknya pernikahan Katolik, apa yang disatukan oleh Tuhan tidak dapat diceraikan oleh manusia. Jadi keduanya harus dijalankan semua secara konsisten dan total. Jadi inget komen sahabat atas coretanku tentang jembatan.. Bahwa kita harus jaga jembatan ke atas (Tuhan) dan ke samping (sesama) selamanya..
Kasih itu juga SEDERHANA.. tak perlu berlebihan atau menggunakan banyak materi. Pernah lihat nenek yang kesulitan menyeberang? Anak kecil yang terjatuh karena baru belajar berjalan? Seorang Ibu yang kesulitan memarkirkan motornya? Ibu kita yang sedang sakit flu? Ayah kita yang kakinya pegal karena seharian mengerjakan lahan sewaan? Itulah umpan kita untuk mengamalkan hukum kasih. Piye carane? Jangan nyeraaah… amati, pikirkan, lakukan bantuan dengan ikhlas secepatnya. Bagaimana jika melihat cewek cantik yang bingung mencari buku di perpustakaan? Atau cowok ganteng yang kesulitan merapikan vas bunga yang tersenggol tas-nya? Lakukan juga.. dibilang MODUS yo wis ben.. (geli sendiri setelah baca ulang kalimat ini).
Wis.. Terima kasih Tuhan.. juga Pastor Ipong atas pelajaran Hukum Kasih pagi ini.Semoga yang baca coretan ini juga bisa memetik hikmahnya.. Berkah Dalem Gusti semuanya..

[…] sebagai memberi dan tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia.. hehehe. Saya juga pernah coretkan di blog ini.. Sedangkan SAYANG? Akan saya urai jadi tiga […]