Home Blog Page 18

Hoyong Pisan Sasadu Ka Gusti Allah..

0

Heran juga membaca status akunku hari ini di salah satu jejaring sosial. Walau itu cuma copy+paste+edit dari salah satu sahabat (mantan atasan tak langsung tepatnya..). Tapi rasanya tepat untuk menggambarkan betapa ingin ku meminta maaf pada sang Khalik saat ini..

Aku ingin minta maaf.. Karena diriku yang begitu jauuuh dari padaNya. Aku pernah menulis tentang Dia yang tak pernah tertidur, juga tentangNya yang hanya sejauh doa.. Tetapi aku ternyata juga jauh dariNya hanya karena jarang berdoa. Semua memang berawal dari doa.. Segala aktivitas kita.. Iri kadang melihat sahabat muslim yang taat sholat lima waktu, kadang ditambah tahajud dan dhuha menjelang bekerja. Sedangkan aku??

Sahabat.. Melalui coretanku kali ini, aku ingin mengajakmu dan sekali lagi menampar diriku sendiri untuk sadar dan larut dalam kedekatan yang sungguh denganNya. Membiarkan segala indera kita (mata, mulut, telinga, hidung, tangan, kaki, otak, dan kawan-kawannya) selalu dikuasaiNya. Dan tak lupa, berhenti mengeluh dan mulai bersyukur padaNya. Serta segera bertobat atas kesalahan yang kita lakukan. Sehingga sungguh, kita berkenan di hadapanNya..

Apa Wujud Semangat Nasionalisme Mu??

2

Pemuda dulu: Telat bergerak ketembak| Pemuda kini: Telat ngangkat membengkak. *yak ampyooon*
Pemudi dulu kalo telat dihukum| Pemudi kini kalo telat langsung beli testpack.
Pemuda dulu: Namanya Syamsul Bahri| Kini: Namanya S4Ms Ch3l4Lu c4Yan9 k4m0H.
Pemuda dulu: Mati muda memeluk senjata| Pemuda kini: Mati muda di pelukan janda.
Pemuda dulu: Semangat 45| Pemuda kini: Semangat 69 *inspirasi kamasutra* guwe bangeeet..
Pemudi dulu: Liat orang dr isi hatinya| Pemudi kini: Liat orang dr isi dompetnya.
Pemuda dulu: Pahlawan gagah berani| Pemuda kini: Pahlawan berani menggagahi.
Pemuda dulu: Mengemban amanat| Pemuda kini: Mencari alamat *syndrom ayu ting ting*
Pemuda dulu: Terlambat latihan perang, dibanting| Pemuda kini: Terlambat nyabut, jadi bunting.
Pemuda dulu: Blg cinta 1 tanah air, tanah air Indonesia | Pemuda kini: Blg cinta 1 malam, oh indahnya~

Dulu: kumpulin 10 pemuda buat guncang dunia (Soekarno)| Kini: kumpulin 10 pemuda buat boyband.

Hemh.. geli sendiri saat melihat kembali BBM dari si Ade temanku.. Dalam hati bener juga ya. Peringatan sumpah pemuda yang jatuh tanggal 28 Oktober kemarin tentu adalah peringatan yang kesekian dalam sejarah negeri ini. Aku ingat di status FB teman-teman mengungkapkan perihal hari tersebut dalam berbagai versi. Ada yang menuliskan kembali isi sumpah dalam berbagai versi dan bahasa, ada yang mengajak untuk tetap bersemangat muda, ada yang menulis pentingnya Sumpah Pemuda, ada yang ngomel karena harus upacara (ketahuan kalau aparat pemerintah..) dan sebagainya. Aku??

Seharusnya Hari Ini Aku Menikah..

6

Sahabat.. baru saja hari Kamis berganti dengan hari Jumat.. Tanggal 10 pun berubah menjadi 11 November 2011. Hari Pahlawan kemarin seolah tak berkesan lagi untukku. Ach.. aku ingin berbagi segelas teh hangat dan sebungkus roti isi cokelat serta mendengarkan lagu Akhir Cerita Cinta-nya mas Glenn Fredly denganmu.. hanya denganmu. Berbincang.. Tertawa.. Bercanda.. Beradu olok.. Untuk sejenak lupakan sedikit getir dalam hidup ini.

Kulirik hape yang tergeletak di samping segelas teh.. Masih terbaca di sana satu sms dari Tanteku tiga hari yang lalu.. “Selamat malam Mas, pa kbr? Gmn dgn hari Jumat bsk? Kan tanggal 11-11-11, hehehe…” Mungkin kalimat itu terdengar biasa bagimu. Tapi maknanya sungguh dalam untukku. Kalimat yang mampu mengaduk isi perut dan otakku (lebay??) Namun SMS tersebut justru merupakan penguat semangatku. Yach semangat untuk melanjutkan kembali rencana yang putus di tengah jalan. Rencana indah yang memang hanya rancangan insan belaka tetapi Tuhan jua akhirnya yang memutuskan..

Hari ini.. 11 November 2011, harusnya aku sudah cuti kerja mulai Senin kemarin. Harusnya aku melewatkan malam midodareni semalam. Dan saat ini tertidur pulas untuk acara di gereja besok pagi dan resepsi di waktu sesudahnya. Namun hari ini aku masih menarikan jemariku untuk sebuah coretan yang mungkin hanya ekspresi hati atau istilah gaulnya curcol. Tapi aku berharap bahwa coretan ini mampu menyemangati sahabat-sahabat, yang mungkin memiliki kisah yang sama denganku.

Yap.. hari ini seharusnya aku menikah.. jika memang digariskan begitu. Satu acara sakral pelepasan masa lajang yang bebas dan dengan sadar dan sengaja membiarkan diri menjadi terikat. Terikat oleh pasangan dan keluarga pasangan kita, terikat dalam masa yang tak lagi sendiri, terikat atas janji untuk selalu setia, menghargai, melengkapi, dan menjadi sandaran bagi belahan jiwa yang lain. Tapi sekali lagi itu hanya rancangan dan inginku. Tuhan ternyata punya kuasa untuk tidak mengabulkannya.

gambar diambil dari http://www.hefamily.org

Ada Kasih.. di Sehelai Kain Sarung itu…

4

Pagi mulai merayap di kawasan Serang dan sekitarnya kala ku terbangun lagi untuk menyelesaikan laporan buat meeting besok. Ramai sesaat kala kulangkahkan kaki di deretan mesin2 pabrik yang tak berhenti. Dan sepi menyergap kembali saat ku kembali ke mess untuk ‘bercumbu’ dengan pacarku si Aspire. Yach.. pacar yang tak pernah mengeluh walau hampir tiap saat kusentuh dan kumainkan bagian tubuhnya dengan jemariku dan menerima kepulan asap rokok DP ku. Tapi ah.. dingin sekali pagi ini, padahal ruang kerja sementaraku (baca : dapur mess) tidak ber-AC. Lirik kanan kiri dan sambil berjinjit karena takut membangunkan yang lain, aku memutuskan untuk mengambil benda kesayanganku yang akan membantuku melewati pagi ini.

Yach.. sehelai kain sarung kotak-kotak pemberian mas Babe, lebih tepatnya warisan, yang selalu kubawa kemanapun semenjak dari Jogja. Sarung yang berwarna kombinasi merah marun dan hijau tua dimana salah satu ujungnya sudah rombeng alias bolong. Kain tipis yang sebenarnya jauh dari kata hangat jika dibandingkan sehelai bed cover. Tapi aku yakin benda ‘keramat’ ini mampu menghadirkan kehangatan di pagi ini.

Akoe dan Budaya Vote… Sebuah Penghargaan dan Wujud Menghargai..

0

Sahabat.. Rasanya ada dua SMS ataupun BBM bernada ajakan memilih yang kerap menghiasi layar hape maupun bebe kita akhir-akhir ini.  Pertama mengenai himbauan memilih Agnes Monica untuk menjadi Worldwide Act Asia Pacific on MTV Europe Music Award 2011 seperti terulas di link sahabat yang satu ini. Yang kedua adalah ajakan untuk memilih Komodo sebagai salah satu Keajaiban Dunia Baru. Rasanya saya tidak sekaliber beberapa orang yang di blognya bisa mengulas kedua hal di atas dengan rapih, tuntas, mendalam, dan semoga berimbang. Saya hanya tertarik untuk menuliskan coretan tentang budaya ajakan voting yang rasanya akan booming ke depannya. Bisa saja topiknya beragam, mulai dari ajakan memilih artis terseksi, terbahenol, pria macho, pria idaman, presiden terbaik, dan sebagainya.

Jujur saat saya menerima ajakan via SMS, twitter, atau BB, rasanya kok terpaksa ya.. Malas sebenarnya mengetik deretan abjad dan mengirimkannya ke nomor tertentu, serta merelakan bahkan hanya Rp. 1,- yang berkurang dari jumlah pulsa saya. Tapi karena yang mau dipilih ada bau-baunya dengan negeri saya tercinta, ya.. nasionalisme saya tergerak. Hahaha.. saya tertawa geli setelah membaca lagi kalimat barusan. Ternyata semangat nasionalisme tidak lagi hanya mengikuti upacara di Hari Besar Nasional, tetapi bisa juga lewat mengikuti voting.

Satu hal yang saya petik dari budaya vote yang saya prediksikan akan mengemuka di waktu mendatang adalah suatu ‘PENGHARGAAN’. Yap.. makna dari vote semacam ini adalah penghargaan atas prestasi, keberadaan, kepopuleran, dan berbagai hal yang baik atau unggul dari ‘sesuatu‘.. Jiaah.. pake istilahnya Syahrini. Bisa itu manusia, hewan, tempat, instansi, budaya, dan banyak lagi yang lainnya. Rasa menghargai tersebut lalu diarahkan kepada keberpihakan atas apa yang kita hargai. Waah.. kalau saya jadi yang di-vote, kira-kira tentang apa ya.. karena kayaknya hanya keburukan dan kekurangan yang saya punya. Tapi.. ada juga kok yang dipilih karena kekurangannya.. Misal Pesepakbola dengan Wajah Terjelek, Artis yang paling Kasar, dan sebagainya. Jadi barangkali saya bisa dipilih untuk atasan terusil kali..

Semua kembali ke kita sendiri.. bagaimana kita menghargai diri sendiri dan ‘sesuatu‘ di sekitar kita. Semakin kita bisa menghargai, maka semakin kita akan dihargai pula.

AWAN Project.. Terima kasih Bapak Ibuku..

7

“Aku masih.. Seperti yang dulu..”

Sebaris lagu lama itu seakan mengalun jika aku pulang ke rumah Bapak Ibu di desa kelahiranku.  Entah menyindirku.. atau menjeratku dalam kenangan masa kecil bersama keluarga. Rumah yang sahabat lihat di bawah ini, memang sederhana, dari papan, dan kalau di-pel malah hanya membuat aku atau adik dimarah sama mereka. Lho? Jelas lah.. soalnya lantainya masih tanah.. jadi cuma ngotorin kain pel dan mbecekin aja. Tapi.. dulu waktu ku masih balita, rumah itu adalah juara pertama untuk rumah sehat di desaku. Giliran sekarang, sangat gampang mencari rumah masa kecilku, masuk saja jalan Sri Kresna di pinggir Jalan Raya Sribhawono-Panjang, cari aja rumah yang masih papan. Hihiihi.. itulah rumahku.

 

Di dalam rumah itu, ada ranjang bapak ibu yang sering aku buat sebagai tank perang bersama adikku dengan bermodalkan tumpukan bantal dan guling serta beberapa senapan mainan. Di dalamnya juga ada kamar kami berdua saat belajar ‘pisah ranjang’ dari bapak ibu. Tak lupa ruang tamu yang berhiaskan tiga lembar gambar kawanan kucing yang dibeli sejak ku kecil. Beberapa sudut rumah juga menyimpan kenangan manis  bagaimana aku suka menari kuda lumping, atau si bungsu yang kehilangan alis dan bulu matanya saat kami main petasan bambu. Hemh.. juga protesnya si bontot kala semua perabotan hanya bertuliskan namaku sebagai tanda, akhirnya Bapak mengalah dan memberi tanda dari gabungan nama kami.

Belajar Dari Ayam.. Untuk Cepat Menanggapi Perubahan..

0

Bingung dengan gambar di atas? Gak usah lah ya.. itu hanya dua gambar yang sama.. dengan subjek ayam-ayamku (lingkaran merah), sebuah kandang (kotak biru), dan pohon kakao (segi tiga putih). Gambar itu kuambil dua hari yang lalu di rumah Lampung. Awalnya hanya iseng karena biasanya kalau pulang, aku punya aktivitas nggiring ayam-ayam ke kandang saat sore hari. Tapi kemarin kok sebelum maghrib dah sepi? Apa ayamnya pada kondangan? Hahaha..

Usut punya usut, ternyata ayam nya gak lagi bobo di kandang. Tapi bobo di atas pohon kakao.. waoow. Mereka pindah dengan sendirinya tanpa dikasih memo sama bapak ibu untuk keluar kandang. Dan walau gak ada SOP atau JukLak-nya, mereka ternyata mempunyai tangkringan (baca : ranting untuk hinggap) yang tetap dan tidak mengganggu satu sama lain alias tidak berisik kalau tidur. Alasan mereka pindah saat aku wawancara (tentu saja sama Bapak Ibu) adalah karena beberapa teman dan mungkin menantu, anak, atau mertua si ayam ada yang mati mendadak karena serangan musang atau ular. Maklumlah, karena masih di desa, musuh si ayam masih banyak berkeliaran. Coba Bapak pasang CCTV, bisa buat laporan ke polisi tuch. Mau tahu posisi mereka saat tidur? Monggo..

Satu November 2011.. Dan Oma pun akhirnya Memilih…

2

Pulang ke MabeskosmaR dua minggu yang lalu, rasanya menjadi pertemuan terakhirku dengan Oma di kost yang pernah kami tempati selama 5 tahun sebagai tetangga kamar. Sosoknya yang sebenarnya lincah, sederhana, dan murah senyum.. memang akhir-akhir ini menjadi sensitif, emosian, bawel, dan sering sakit. Mungkin karena faktor usia dan kurangnya perhatian dari keluarga (karena memang tidak punya keluarga kandung). Atau bisa jadi karena kebiasaan merokoknya sehingga tubuhnya rentan terhadap serangan penyakit. Ah Oma sich bandel amat..

Masih terngiang jelas saat aku memasuki kamarnya Minggu itu, dia menangis dan marah juga.. karena aku jarang menelponnya. Pengennya tiap hari dengar suaraku.. Yach.. Dia merasa tersudut, tak berdaya, sakit hati, dan diasingkan dari kost. Dia merasa ditindas, dizolimi, dan akhirnya dipindah dari kost. Kala itu, tanpa ikut menangis kudengarkan tiap ceritanya. Kutatap mata dan wajahnya dengan seksama, ya.. Oma memang sudah menua, tak mampu lagi hidup di tengah kumpulan kami yang muda. Kulitnya sudah keriput, matanya sayu, dan langkahnya sudah tertatih. Dia sedang butuh jalan keluar..

Kuhentikan kepulan rokokku saat ceritanya selesai dan dia tak menangis lagi. Kupegang tangannya yang mulai bergetar dan kumulai dengan kalimat “Lantas.. Oma maunya gimana?“. Beliaupun nyamber lagi dengan menumpahkan uneg2nya.. termasuk keinginannya untuk masuk Panti Jompo. Kali ini aku harus beringsut ke sampingnya dan mengelus pundaknya, agar tangisnya tidak terdengar sampai ke luar kamar. Dalam percakapan kami aku tegaskan bahwa semua penghuni kost tetap menyayangi Oma. Sampai kapanpun rasanya.. Hanya menurut kami.. tinggal di Panti Jompo adalah pilihan terbaik bagi beliau.

Akoe dan Dua Nenekku… Another Perfect Weekend..

2

Hanya Sabtu Minggu memang.. tapi cukuplah bagiku untuk melepaskan kangen dengan keluarga di Lampung. Walau sedikit menyesal melihat foto-foto salah adik tingkat pas kuliah yang sedang plesiran di bagian tengah negeri ini. Owh.. Erlin and Dinta.. semoga bukan karena kapok ngajak ke Kuningan trus nggak kasih tahu kalau mau ke Lombok.. Grrrrhhh…

Eits.. ini juga tak kalah seru dong! Karena aku masih bisa melewatkan waktu akhir pekan bersama janda2 kesayanganku (baca : nenek). Ya dari Ibuku.. pun dari Bapakku..  Keduanya sama-sama unik, utamanya dalam hobby dan cara menyayangiku. Bukan narsis jika dalam coretan ini kupajang foto mereka, aku cuma mau mejengin foto mereka. Dan.. bukan pula permintaan mereka untuk eksis, sst.. siapa tahu salah satu dari pembaca coretan ini jadi cucu mereka nantinya (maksud guwe??.. balasan dari maksud loo..). Huft.. nyuk kenalan ma nini-niniku yang luar biasa..

oAlaahh.. sudAh tiGa buLaN tooh…

2

Hampir jam dua siang tapi masih seperti pagi di kampungku.. Begitu segar udara yang kuhirup dan begitu tenang suasana di beranda rumah yang sedang berantakan karena Nice Project yang sedang dilaksanakan. Ternyata sekarang tanggal 29 ya? Hemh.. ternyata sudah tiga bulan nich. Apa to? bukan lagunya Tuty Wibowo yang hamil duluan atau Jamrud yang telat tiga tahun eh bulan. Tetapi saat ku memutuskan untuk berhenti dari gawean lama untuk mengembangkan karir dan kemampuan pribadi di tempat lain.

Membaca kembali selembar farewell notes dengan kalimat pembuka ‘Here Comes Farewell!! Not Good Bye!” .. Memang tak ada kata berpisah rasanya karena begitu banyak kesan di sana. Kalimat berikutnya ‘Only God knows shall we meet again‘ memang sudah terjawab dengan masih mudahnya aku berkumpul dengan teman-temanku dulu, di berbagai kesempatan. Berbagi pengalaman dan sekedar bertukar canda tawa bahkan saling ejek dan goda seperti dulu seraya melepas rindu. Walau lain bendera, aku kagum dan salut dengan rekan-rekan yang masih bisa menerima dan menghargaiku.  Aku masih ada di hati mereka dan merekapun selalu ada di hatiku.

MUST READ

Nyatanya Aku Masih Kecil..

0
Segelas cangkir teh.. sengaja kubuat sedikit pahit di siang hari ini. Berulangkali kuputar gadget kesayanganku.. ke kanan, ke kiri, kadang kuletakkan di meja dapur...

Saatnya Minta Tolong…