Home Blog Page 10

Saatnya Minta Tolong…

2

Sahabat.. ini adalah penggalan cerita sambungan dari coretanku dua hari kemarin.. saat meluangkan waktu untuk melepaskan penat di ujung propinsi Banten. Satu kisah yang membuatku tersadar akan apa yang terjadi pada hidupku sekarang.. bahwa saya perlu sebuah PERTOLONGAN..

Keriangan sungguh kurasa saat itu, meski sepatu yang baru saja dicuci si teteh harus basah terkena ombak Pantai Pasir Putih Carita. Pun canda tawa juga begitu deras membuncah meski kusadar esoknya harus bergelut lagi dengan pekerjaan. Semuanya begitu lepas.. renyah.. sampai lemas. Masih kuingat senyum puasku saat melihat anak-anakku seolah kembali ke puluhan tahun lalu karena di usia yang rata-rata mendekati kepala tiga (biar sama denganku hehehe..) saling melempar pasir dan bergantian bermain menantang derasnya ombak yang beberapa hari ini menurut para penjual di kawasan itu cenderung besar melebihi hari-hari biasa.

lupa umur kayaknya..
lupa umur kayaknya..
lupa anak.. isteri.. utang..
lupa anak.. isteri.. utang..

Aku menikmatinya.. sungguh menikmatinya.. di atas ban besar yang mengapungkanku melawan alun demi alun gelombang air laut yang menerpa. Tak sadar aku dan ban semakin ke tengah.. ke tengah.. dan benar benar jauh dari tepian pantai. Ups.. aku mulai melihat sekeliling dan tersadar bahwa ini sungguh di luar perhitunganku bro and sist.. Aku memang bisa berenang tapi ala kadarnya dan sepanjang kakiku bisa menyentuh dasar air walau berjinjit. Tapi kali ini lain.. aku julurkan kakiku pun seolah dasar pantai masih ribuan meter. Ya Tuhan.. ombak terasa semakin besar dan saat kucoba berenang ke tepi alamaaaak.. kaki kananku KRAM!!

Semangat Maryati!!.. Kado buat Blog saya..

0

Mata masih nyalang seperti lihat perawan.. padahal besok masuk pagi, tapi saya tak pernah peduli. Lirik ke samping laptop masih ada beberapa berkas yang harus siap besok pagi dikumpulkan. Ya.. saya siap mati kalau urusan beginian mah.. (baca: siap begadang). Tapi sejenak mengerenyitkan kening saat membaca notifikasi di dashboard blog sederhana saya ini. Happy Anniversary.. 4 years ago..

blog

Hehehe.. saya ingat-ingat kok ya lupa, tapi syukurlah diingatkan oleh wordpress.com yang saya tumpangi ini. Tambahan, saya juga tidak seproduktif blogger lainnya karena dalam satu bulan kadang cuma 3-5 coretan sajaaah. Apalagi kalau ngebaca lagi kebanyakan coretan saya ngawur dan khas seorang perantauan. Empat tahun berlalu dan rasanya blog ini masih sekedarnya saja.. pelampiasan saya untuk berteriak tanpa suara, mengaduh tanpa gaduh, mengeluh tanpa lenguh, dan bercinta tanpa citra..

Eheeem.. kadonya apa ya? Mau minta kado dari blogger lain wong ya bukan seorang blogger yang terkenal hehehe. Saya mau ngado blog saya ini dengaaan.. (celingak celinguk..) ngeliat berkas bin tugas kok ya malah senewen. Ehm.. liat foto.. liat foto.. dan tralala.. dari jutaan koleksi foto yang saya punya.. terpikatlah saya pada si cantik dalam nuansa busana biru ini.. Maryati..

IMG_9108

Ya.. Semangat Maryati.. satu semangat yang pernah aku gembar-gemborkan via jejaring sosial tanpa pernah kutulis di blog ini. Apa itu Semangat Maryati?

Maryati atau akrab dibilang Teh Mamar ini adalah salah satu senior, ibu saya di pabrik, operator wanita di departemen saya yang menguasai banyak mesin, dan seorang prbadi yang tangguh. Bagaimana tidak.. selama puluhan tahun beliau pulang pergi dari Ciomas Bogor ke Cisalak (pabrikku waktu itu) dengan absensi yang luar biasa mantab hingga cuti pun masih sisa di akhir tahun. Miris jika dibandingkan dengan saya yang jarak kost-an dengan pabrik hanya sekedipan mata (lebaaaay..) tetapi absen dan cutinya lebih banyak dibanding beliau. Apa resepnya? Beliau hanya tersenyum dan memang karena pendiam langsung menghindar jika saya tanya hal tersebut atau menjawab singkat “ya karena niatnya kerja mas DP..

Namun akhirnya di saat pensiunnya saya temukan semangat itu.. Setelah beberapa sambutan dan beliau saya paksa untuk berbicara di depan rekan-rekan yang lain, tentunya setelah melontarkan kalimat ajaib penangkal buat semua perubahan jadwal, perintah, larangan, koreksi, pujian, dan arahan saya.. “Aya aya wae mas DP..” terkuaklah misteri itu dari kalimat demi kalimat sambutannya..

“jika kita memang terlahir, ditakdirkan, dan hanya bisa menjadi ikan teri.. maka tidak usah memaksa untuk menjadi ikan paus.. tetapi jadilah teri terbaik, terindah, dan terlezat dari yang lainnya”

Sahabat.. inilah rahasianya.. bagaimana seorang Teh Mamar bisa mengatasi jauhnya jarak rumah ke tempat kerja dengan absensi yang sempurna, menguasai berbagai mesin, dan menjadi yang terbaik di departemen kami saat penilaian tahunan. Beliau mengukur diri dan memaksimalkan potensi yang dipunya. Mengukur diri berarti tidak memaksakan sampai hal-hal yang mustahil dicapai sehingga pikiran tetap tenang, hidup nyaman, dan raga juga tak lekas menua. Memaksimalkan potensi berarti giat belajar, tekun plus ulet, rajin bekerja, dan dikuatkan dengan panjatan doa..

Semangat Maryati.. kado yang pas buat blog saya yang memang hanya laksana ikan teri. Kecil dan kalah sohor dibanding yang lain.. tetapi saya berjanji bahwa meski kelas teri.. akan saya isi dengan coretan ngawur yang memberi arti.. setidaknya bukan copy paste dan tetap orisinil ide kepala saya sendiri. Selamat ulang tahun Coretan si Bocah R@ntau..

Carita Punya Carita

1

Seminggu penat dalam pekerjaan rupanya membuat saya mengincar hari libur di akhir pekan. Bahkan sampai dibawa doa agar Minggu libur.. sungguh pengen banget melepas keperawanan si MC di daerah Ibu Atut ini. Apalagi memerawani jaket VICKS yang masih terang warnanya (inget si Brafo yang mulai memudar hitamnya). Deg-degan dan sambil obral ajakan di satu grup curhat menjadi pengisi dua hari menjelang Jumat saat memo weekend biasa diterbitkan..

Dan.. akhirnya terkabul sudah.. Jumat sore bisa dipastikan bahwa hari Minggu libur alias bebas lembur.. mulailah tung itung itung dan merancang Foreplay Touring. Ups.. maksudnya pemanasan gitu.. sebab akan ada wadah yang lebih besar untuk penggemar touring bin kluyar-kluyur di pabrikku. Jadi kenapa saya berniat banget tidak hanya DOANG ya karena rencana ini untuk melempar api demi api semangat yang akan menyusun satu api besar dalam wadah Kino Bikers Community sehingga tidak padam sebelum berkembang (haiyaaah).

Dan tralala.. setelah SMS demi SMS terkirim dan diterima, telepon bersahutan, janji demi janji dikatakan.. datang juga hari Minggu pagi. Semalaman gak bisa tidur karena bikin video klip narsis akhirnya berakhir juga di pangkalan ojek satu kawasan industri. Semalaman pula berkoordinasi tentang surat jalan dengan security pabrik agar lebih tenang di perjalanan dan aman sentausa menghantarkan rombongan ke tujuan sampai kembali pulang. Plus semalaman memikirkan banyaknya motor yang akan ikut sehingga siapa yang akan jadi leader, sweeper, mechanic, P3K, Logistic dll. sebab banyaknya janji yang akan ikut.

Apa yang terjadi sahabat.. Minggu pagi yang cerah itu saya telat ke lokasi lepas landas sampai ditelpon admin saya yang membawa serta keluarganya (kebiasaan deh si teteh gak bisa ngaret). Minggu yang penuh janji mulai tergerogoti karena boncengan saya pun undur diri sebab ibundanya sakit. Minggu yang dinanti ternyata masih perlu menanti sebab sampai jam yang ditentukan banyak yang belum re-konfirmasi dan membatalkan janji. Dan yang terjadi.. hanya kami ber-sembilan yang siap pergi menantang pagi, di atas empat motor, membelah jalanan menuju satu tempat di ujung propinsi ini.

empat motor aja risih..
empat motor aja risih..

Sahabat.. hanya empat motor saja, apakah saya nyerah? nyesal? marah? Hahaha.. enggak tuh.. Jalan terus meski ternyata harus bertanya kanan kiri sebab si leader bosan lewat jalan biasa dan memilih satu jalan yang belum pernah ditempuh sebelumnya (biasanya via Cinangka kali ini via Mandalawangi) yang jalannya superduper bergelombang hingga malah mau ke gunung padahal pengennya ke…

Pantai Pasir Putih Carita
Pantai Pasir Putih Carita

Sesal pun tidak ada karena saya sudah tidak bisa tidur untuk menantikan hari ini bahkan jika di akhir cerita ini kami harus kehujanan sepertiga perjalanan kembali. Faktanya bisa nemu mbak cantik pramusaji Saung Ciujung (awas.. kapan2 saya satronin lagi tuh saung). Bahkan satu mobil berisi lima rekan kami pun menyusul ke … saat kami mulai melepas ekspresi.

dingin euy... si MC nangis..
dingin euy… si MC nangis..

SAUNG

Apalagi marah.. wong tujuannya refreshing. Justru sedikitnya motor ini rasanya campur tangan Tuhan karena kalau banyak motor tentu saya belum sebaik crew BRAFO dalam menghandle touring (wong di BRAFO kerjaannya cuma marah-marah ajah..). Jadi semuanya dibawa lepas.. bebas.. selepas tawa dan canda kami di Pantai Pasir Putih Carita.. Tempat jaket VICKS dan si MC kuperawani..

lepas.. lemas..
lepas.. lemas..

 

Cerita tentang terkatung-ku di tengah pantai akan ada di coretan selanjutnya.. Terima kasih rekan-rekan.. Terima kasih Tuhan.. 

Akoe dan Bunda Emma..

0

MabeskosmaR 27 menjelang 28 Feb 2011..

Malam ini mulai larut.. teringatku akan sebuah janji, kado kecil buat si Bunda yang hari ini berulang tahun. Hanya coretan tanganku yang menurutnya enak dibaca dan megang banget.. Thanks Bunda atas apresiasinya.. Tanpa hisapan rokok, aku bertekad untuk merampungkan bingkisan ini.. Dirimu kan yang paling rewel akan kurusnya tubuhku..

Hari itu, 3 Juli 2006, pagi begitu cerah di seputaran Cimanggis, tepatnya di Cisalak. Masih kuingat, baju biru yang sampai kini masih kusimpan, dan ternyata masih fit dengan ukuran badanku. Ah.. ternyata besar fisikku tak banyak berubah sampai detik ini.. Baju biru yang mengantarku berkeliling di seputar area kerjaku untuk berkenalan dengan staff di sana, tentu saja dibalut jas lab putih seperti waktu praktikumku. Yach! Sahabat.. Aku bekerja mulai hari itu.. Banyak kenalan baru, walau butuh seminggu untuk menghafal wajah dan nama lengkap mereka satu persatu..

Masih di hari yang sama, menjelang siang, barulah aku dikenalkan pada sosok ibu asisten managerku. Cantik dan keibuan.. itulah gambaran yang tertangkap oleh bola mataku kala itu. Dan tralalala.. aku ternyata seruangan dengan ibu itu (yang kelak kupanggil Bunda.. ya.. bunda keduaku). Seperti kepompong, yang tak tahu mana utara, timur, barat, dan selatan.. apalagi tenggara dan tiga mata angin lainnya.. Yupz.. karena itu adalah tempat kerja pertamaku (sampai detik ini) dimana aku belum ada pengalaman sama sekali.. dan Ibu itu.. adalah alasan coretan ini kubuat sebelum berganti hari ke Senin yang padat lagi..

Belajar dari Delisa..

0

Belajar itu memang bisa dengan berbagai cara.. kadang formal atau unik gak ketulungan. Salah satunya kualami malam ini saat sebenarnya hendak mematikan laptop untuk tidur sejenak sebelum jaga malam di pabrik. Entah kenapa jemariku justru membuka kumpulan file film dan menemukan satu folder film Hafalan Shalat Delisa yang sudah lama sekali kupunya tetapi baru kali ini terbersit hasrat untuk menikmatinya. Dan terjadilah.. puluhan menit kuhabiskan untuk menikmati bagaimana emosiku teraduk-aduk dan membiarkan otakku mencerna pelajaran demi pelajaran dari kepolosan seorang Delisa..

#jangan pernah iri

Ini kupetik dari satu adegan dimana Aisyah, kakak Delisa, merajuk karena iri Delisa akan mendapatkan kalung berliontin huruf “D” untuk kelulusan hafalan shalat-nya pun juga karena akan dibelikan sepeda baru oleh sang Abi atau ayahnya. Kadang kita juga begitu bukan? Iri terhadap apa yang diperoleh orang lain bahkan saudara sendiri padahal kita juga pernah atau akan mendapatkan hal yang sama.

#lingkungan yang beragama

Dialog antara koh Acan penjual emas dan Umi serta Delisa saat di toko emas yang menyoal harapan si penjual emas agar Lhok Nga menjadi lebih baik jika anak-anak pandai shalat. Sejenak aku coba mengingat lingkungan demi lingkungan yang pernah aku tinggali. Dan walau tidak sepenuhnya benar, karena baik tidaknya bergantung kepada setiap individunya, tetapi akan lebih baik jika kita tinggal di lingkungan yang kehidupan beragamanya kuat.

#berbagi pada yang tak berpunya

Percakapan kecil antara Delisa dan Tiur saat akan belajar sepeda dimana Delisa merelakan jika Abi-nya jadi milik Tiur juga sebab temannya itu sudah tidak memiliki Ayah. Sudahkah kita melakukan hal yang sama? Berbagi dengan mereka yang tak punya? Aaah.. kadang niat pun juga tak ada di benakku. Padahal semua milik kita hanya titipan Tuhan kan?

#sesuatu yang biasa akan menjadi luar biasa jika terbiasa

Delisa biasa menikmati masakan Umi-nya yang enak. Oleh karena itu timbul protesnya terhadap rasa masakan Abi yang keasinan. Namun pada akhirnya Delisa yang justru mengatakan akan makan masakan Abi karena lama-lama pasti enak. Hemh.. untuk kali ini seperti pepatah Jawa ‘trisno jalaran soko kulino” atau cinta karena terbiasa. Sahabat.. kadang hal kecil, hal biasa, hal yang belum sempurna akan menjadi lebih baik jika kita biasakan dengan cara yang luar biasa. Misal tukang fotocopy di suatu pabrik akan menjadi karyawan teladan jika hasil copy-an rapi dan jelas terbaca, cepat diselesaikan tanpa tertunda, tidak banyak kesalahan, bisa merawat mesin fotocopy, dan antar jemput dokumen. Abi tentu akan bisa menjadikan Delisa menyukai masakannya jika selalu belajar memasak, memberikan kehangatan interaksi saat makan, dan mengerti keinginan Delisa. Siapa tahu masakan Umi sebenarnya biasa saja kan? Tapi karena Umi bisa mengerti dan menyajikan kehangatan kasih maka menjadi luar biasa rasanya.

#fokus dan ikhlas

Satu adegan terdahsyat adalah kala Delisa tidak bergeming dari shalatnya saat tsunami menerjang dan orang lain berhamburan. Delisa begitu fokus untuk menyelesaikan hafalannya dengan baik dan mungkin sudah lepas dari iming-iming kalung hadiah kelulusannya nanti. Saya jadi menggigit bibir jika mengingat bagaimana saya saat berdoa.. Buru-buru, bolong-bolong, tidak fokus, dan belum sepenuhnya ikhlas karena terkadang mengeluh dan menggugat bila pinta belum terkabul. Kebanyakan doaku isinya meminta, memaksa, dan cenderung mengancam..  waduuuh (tutup mata dengan tangan)

Masih banyak sebenarnya yang bisa dipelajari dari film ini misalnya kepolosan dan keceriaan Delisa untuk tegar saat dapat cobaan, ikatan persaudaraan antar negara Sofie-Ahmed-Smith-Delisa-Abi-Ustad Rahman, LDR ala Sofie-Ustad Rahman (halaaah..), kemauan Delisa untuk menuntaskan ujian hafalan shalatnya yang tertunda tsunami, dan yang lainnya. Tapi karena namanya belajar, aku belajar lima yang di atas dulu, yang lainnya nanti lah.. Ada yang salah? Ya mohon dimaafkan.. namanya juga sedang belajar.. Selamat malam…

Tak Lagi Milikmu.. Sepenuhnya..

2

Cisalak, Gedung AB, selepas istirahat siang.. 10 Desember 2009

‘Hallo mas, lagi apa?’ suara merdu kesayanganku menyapa di ujung HP sana..
‘Lagi training bu, ntar ya..’sahutku pelan di tengah training statistik yang melelahkan..
‘Ya udah.. Maaf ibu ganggu’ ujarnya seraya menutup pembicaraan singkat itu.

Sedetik, 5 detik, 10 detik gak ada apa2. Detik berikutnya bulir bening mulai menghiasi di sudut mataku.. Hanya non Indri di sampingku yang tahu.. Coba kutelpon balik sesaat kemudian, tapi hp ibu tidak aktif.. Gemetar tubuhku karena baru kerja saja dia tak lagi bisa milikiku dan waktuku seutuhnya.. Apalagi kalau dah nikah dan berputera ya? Padahal masih jelas teringat malam kemarin aku sewot karena sms-ku ga dibales.. Telponku gak diangkat.. Dan itu dengan berapi-apinya kuutarakan ke beliau.

Tapi Ibu.. dan juga Bapak.. Tak pernah ungkapkan kecewanya kala smsnya tak berbalas, telponnya tak kuangkat.. Walau kutahu rasa itu pasti menyeruak di tengah rindu mereka pada anaknya. Ah.. Ingin segera pulang dan natalan di rumah.. Walau kini sudah terbatasi dgn waktu kerjaku.. Bapak.. Ibu.. Maafkan aku atas ketidakpedulianku.. Atas waktuku yang kini tak lagi utuh milikmu.. Dalam tak sempurnanya hidupku.. Aku selalu mencintai dan menyayangimu.

( 1.. 2.. 3… ) Home – Michael Buble – Mikha Angelo

Cikande, 23 Februari 2013..

Tiga tahun berselang.. kejadian yang nyaris sama.. Tapi kali ini tidak lagi ada telepon… Hanya sms-sms kecil yang usil menyentil.. “Eko-ne Lek Lastri married, di jagongke ora?” sms Ibu yang mengabarkan anak tetanggaku menikah mau ngamplop apa nggak. Aku tak bisa pulang karena harus jaga pabrik sepenuhnya di weekend, ronda malam pula. Bisa ditebak kan sms balasanku berikutnya.. Aku tidak bisa.. alasanku minggu ini SIBUK…  sok SIBUK lebih tepatnya.. Karena kenyataannya hanya 9 jam di pabrik dan FREE..

Sahabat.. hampir empat tahun berlalu dan aku ternyata memang sudah tidak mereka miliki lagi.. sepenuhnya… Bagaimana denganmu?

Memimpin dengan Kasih Sayang..

0

Umur boleh tua.. tetapi saya masih ingat bahwa hari ini (14 Februari) diperingati sebagai hari kasih sayang di perbagai belahan dunia. Meski ada beberapa yang melarang untuk merayakannya tapi tak jadi soal karena memang yang namanya kasih sayang tidak selalu di hari ini kan? Tetapi setiap hari.. bahkan jika mau lebih CETAR.. ya setiap hembusan nafas kita karena Tuhan juga menyayangi kita di tiap udara yang kita hirup dan lepaskan sepanjang hidup. Saya lantas tersadar untuk membuka kembali satu jejaring sosial yang saya deaktivasi dengan warna baru.. No status, no Galau, no Picture gak penting.. hanya wadah untuk berbagi kasih melalui coretan-coretan saya meski bisa langsung ditemukan di blog sederhana yang saya miliki.

Tepat kali ini, di tengah rinai gerimis yang menggagalkan acara saya untuk sekedar menikmati makan malam di luar kawasan industri tercinta, saya justru ingin berbagi tentang pekerjaan yang saya geluti dan nikmati setiap hari. Yang saya maksud adalah bagaimana untuk memimpin dengan kasih sayang.. loh biasa ya? Hemh.. biar saya urai sedikit agar terlihat luar biasanya.

Memimpin dengan kasih sayang mengandung dua kata “kasih” dan “sayang”. Kasih.. tentu saja saya denotasikan saja sebagai memberi dan tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia.. hehehe. Saya juga pernah coretkan di blog ini.. Sedangkan SAYANG? Akan saya urai jadi tiga kata..

Cerita Plastik Dobel..

0

Entah kenapa hari-hari ini makin sering posting di pergantian hari. Barangkali karena menulis atau mencoret belum menjadi mata pencaharian utama saya tetapi sekedar menjerit tanpa suara dan mengaduh tanpa lenguh. Namun kadang saya suka membangkitkan keinginan menulis dengan berkhayal bahwa setidaknya ada satu dua penikmat blog ini yang kangen akan coretan saya. Sejenak biarkan saya meraba wajah dan merasakan betapa tebal seperti kulit badak muka ini (nggaktaumalu.com). Ya mohon maaf.. itu hanya salah satu cara saya kok untuk menggugah keinginan menulis. Semoga tidak setebal muka om Farhat Abbas yang kepedean dengan pencalonan dirinya sebagai presiden dan celotehannya di twit**r.

Tapi memang pergantian hari makin berarti untuk saya seiring pengejawantahan resolusi 2013 untuk selalu mengevaluasi tingkah polah saya sepanjang hari ini agar esok hari semakin lebih baik lagi. Walau.. kadang yang tidak berarti banyak karena baru saja memulai aktivitas tersebut. Semisal malam ini saya akan mengevaluasi polah terbaru yang saya lakukan di tiap belanja di toko-toko berakhiran –mart. Apa sih?

Balada Mentari dan Rembulan di Persimpangan Jalan

0

(tercurah di kala pergantian hari.. saat gelisah tak terperi.. dua tahun yang lalu..)

 

Terkisahlah Mentari dan Rembulan..

Mentari setia memberi energi seluruh negeri dengan sinarnya..

Saat malam menjemput siang.. dan gelap menyelimuti..

Rembulan pun ganti bersinar dengan lembut cahayanya..

Mereka memberi warna dan saling melengkapi.. tak lelah.. dan tak henti..

 

Suatu ketika.. siang terhalang hujan, tak kutemukan mentari di sana..

Tak jarang awan berarak.. membuat rembulan tak menampakkan indahnya..

 

Lepas dari kisah sang mentari dan rembulan.. aku terdiam sendiri..

Di sudut kota kecil.. kumainkan jemariku di deretan abjad Aspire-ku..

Lelah hati ini ingin tertumpah di tulisan ini..

Apa kata orang, aku tak peduli..

Mungkin sesat pikiranku dalam menterjemahkan kebebasan berekspresi..

Dan sekali lagi.. aku tak peduli..

Karena ini soal hati..

Sebaris Cinta Menjelang Subuh..

2

Malam ini begadang lagi.. Sistem Kebut Semalam untuk selesaikan laporan bulanan yang harus dikumpul besok. Sambil rehat pikiran nyoba menikmati lagi karya coretan di blog dan tertarik untuk memindahkan satu coretan di jejaring sosialku yang sedang deaktivasi. Satu kisah kecil saat perjalanan ke Jogja di penghujung Oktober 2012 lalu.. Cekidot..

Waktu menjelang subuh kala perjalanan daratku sudah mencapai angka 12 jam.. Harusnya sudah mendekati sasaran tetapi ini belum apa2nya. Yo gapapa.. Santai mawon, namanya milih yang murah, ya tentu ada konsekuensinya.. Mata hampir terlelap lagi ketika kudengar rintihan di depan bangkuku dalam sunyi dan dinginnya angkutan darat ini. Lama kelamaan semakin keras dan kucoba menengok, ternyata seorang ibu tua yang matanya penuh berair seperti menahan sakit sementara mulutnya mengerang. Sedikit berbisik agar tak membangunkan yang lain, si ibu tua kutanya kenapa? Dan hanya dengan isyarat tangan dia menyatakan bahwa dia susah bernafas. Asma? Tanyaku selanjutnya.. Beliau mengangguk.. Obat? Beliau menggeleng. Bergegas aku kembali ke bangkuku dan mengaduk tas ransel mencari minyak angin dan mulai menolong si Ibu.. Karena beliau pusing maka kupijat pula tengkuknya sementara beliau membalur beberapa tetes minyak angin ke dadanya. Belum beberapa lama memijat, ada sebuah tangan lembut menahan tanganku.. Siapa nih?

MUST READ

Kalau Cowok Lagi ILMOM (Ilang Momen)…

6
Malam begitu larut di mess, secangkir kopi dan cemilan cukup menghangatkan malamku kali ini. Iseng malam ini baca broadcast message dari temen.. Isinya tentang...

Be Simple.. Gak Nggombal!!

Akoe dan Ibu Penjual Bunga..