
Nulis lagi di tahun ini.. Waktu menunjukkan jam 07.28 pagi di tanggal 28 Mei 2022 ini saat mulai kuketikkan satu pikiran di benak yang tiba-tiba muncul ketika membuka pintu rumah dengan iringan harmoni nada rintik hujan yang menyapa sejak malam tadi. Sebenarnya pengen nulisnya tanggal 21 Mei kemarin saat usia berganti, agar sahih blog ini sebagai blog ulang tahunku sendiri hahaha.. Tiap tahun isinya cuma ultahku sendiri. Wis males nulis.. narsis pula, itulah aku sodaraa.
Tapi memang kali ini pun juga diawali seputar ultah kemarin yang menjadikan setahun lagi aku berkepala empat. Ya.. sekarang aku menginjak angka 39 alias telu songo (bahasa jawa) alias disingkat LUNGO alias PERGI. Awalnya saat acara kecil diwarnai prank atasanku, kusinggung terkait LUNGO ini sebagai tanda bahwa aku harus meninggalkan sifat-sifat buruk yang akan menghalangi perkembangan pribadiku. LUNGO atau pergi dari hal-hal negatif yang masih sering dilakukan baik dalam kerjaan maupun dalam keluarga. Apik kan? Apik laaaah..
Hanya saja pagi ini tiba-tiba terbersit ide nulis dengan judul yang bagi sebagian orang tabu untuk dikatakan bahkan dipikirkan. Apalagi kalau ketemu para orang tua, wis pasti dinasihati entek-entekan (baca : pol polan). Sst.. ini juga kutulis tanpa sharing dengan isteri yang sudah bangun dan direpotin dengan rengekan si kecil yang ikut bangun dan minta ini itu buat sarapan. Juga nanti ku upload tanpa persetujuannya, maaf ya Beib.. Karena kurasa penting kok berfikir jika suatu kapan kita meninggal. Lha apa udah dapat gambaran? Belum lah.. ini lebih ke arah pikiran meronta yang kutarikan dengan jemari. Ora mikir? Ya nanti coba deh sahabat nilai saja dari pilihan kalimat-kalimat berikutnya..
Seperti biasa layaknya ajaran Ibuku di dapur bahwa bawang merah harus lima karena Pancasila, kali ini pun ada lima hal yang sekelebat di benakku saat aku mati..
Pertama, masih ninggalin hutang buat si bebeb mulai dari cicilan rumah, koperasi pabrik, dan lain-lainnya. Meski isteriku tangguh, tapi tentu akan kewalahan jika sampai kejadian. Haiyah.. baru poin satu kok mataku udah berair. Lanjut gak ya? Lanjut lah.. penting ini. Poin satu intinya aku ninggalin keluarga kecil ini dan keluarga besar. Wis ngono wae dengan aneka ceritanya yang gak usah tak tulis di sini. Kata bapakku ora apik nguwak wadi.. alias membuka aib.
Kedua, selain keluarga.. ada banyak yang akan kutinggalkan mulai dari teman hingga pekerjaan. Tapi kalau baca-baca beberapa artikel, hanya hitungan waktu kita akan tergantikan. Yang tidak tergantikan ya di poin pertama tadi, kecuali kalau isteri nikah lagi hehehe. Nah yang gak puas kalau mati sekarang itu, rasanya masih belum bagus-bagus amat di pertemanan dan pekerjaan. Ya.. meski tidak bisa dibilang jelek tapi beberapa hari ini ngerasa kebanting sama Andrew Kalaweit saja yang demikian total dengan pilihan hidup dan masa depannya.
Ketiga, banyak impian yang belum kulakukan. Mimpi untuk punya klub olahraga eh itu ketinggian.. Mimpi buat jalan-jalan ke Jogja, Pontianak, Belitung, dan Eropa berempat. Halah ketinggian lagi.. Ke Bogor atau Dufan deh, belum pernah kok. Karena kami ini keluarga kruntel.. alias di rumah saja saat weekend karena liburku ya cuma hari Minggu. Pas agak panjang liburnya, pas nggak punya cuan.. jadi ya cuma idupin AC di kamar dan berempat kelonan. Oh ya.. impian lagi adalah bisa kasih bantuan ke semuanya tanpa penuh penolakan (iki level Doni Salmanan sebenarnya).
Keempat, masuk surga atau neraka? Wah jelas pilihan kedua lah.. Sampai titik ini aku masih merasa kotor dan belum berarti apa-apa, serta berlumur dosa. Denger lagu yang syairnya dimulai dari “Akan datang hari.. mulut dikunci.. “ sudah merinding jika panca indraku ditanya malaikat nanti. Atau syair lagu yang kusenangi “Hidup ini sudah jadi berkat”, kalau kupikir berkat apa? Orang-orang di sekelilingku pun tahu, bagaimana aku memperlakukan mereka, lewat celaanku, marah-marahku, yang pagi ini baru kusadar aku sudah jahat banget. Maafkan ya gaess.. Tapi yo susah memang mengubahnya, semoga pagi ini bisa mulai kucoba.. Tapi janji ya, jangan nanya apa aku lagi sakit, lagi marah, lagi bete, karena akan menjadi tidak seperti biasanya.. demi kebaikan kita bersama
Kelima atau terakhir, gak sempat untuk kembali di pelaminan saat anak-anakku mantu. Seru juga tentunya menikmati perkembangan mereka beranjak dewasa, pacaran, tunangan, dan menikah eh lupa kerja dulu ya. Aku sempat berfikir seperti apa nanti sikapku pas mereka ngenalin temen dekatnya, mau sok sangar atau friendly tak ajak ngekek-ngekek? Nangis nggak ya aku nanti pas sungkeman saat pemberkatan perkawinan? Atau.. mau milih pakai adat apa nanti anakku nikah. Hahaha.. jika umur panjang, dan blog ini tetap lestari, lucu juga kayaknya melihat kembali pemikiran ini.
Sahabat.. receh kan apa yang kupikirkan. Intinya adalah siap gak siap.. ya harus siap jika “dipanggil pulang”. Meski tentu eman atau kalau bisa akan nawar, tapi tak ada yang mampu hentikan kehendakNya. Siapapun juga.. karna hanya Dia yang punya list daftar kontrak kita di dunia fana. Karena si kecil dan kakaknya sudah mulai merapat dan kakaknya mulai mengeja ketikan ini, mending kusudahi saja. Pesen kecil buat sahabat semua.. mari persiapkan diri dari sekarang, jangan ikut slogan lama muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.. Lha kapan berdoa dan nebus dosa?
Selamat hari Sabtu dan selonjoran..

Jadi termehek mehek 😢 baca nya ,mengingatkan Kediri sendiri, mengingat umur saya yang udah sepuh alias tue.
Semoga kita semua diberikan kesehatan dan di berkahi umur panjang yaa… pak ,bisa melihat anak cucu cicit sampai dewasa nanti # heheheee berharap
Maaf pak klo ada kata² kurang berkenan maklum lah namanya orang zaman dulu ga sekolah.
Sebenernya takut bngtss klo mau comen takut salah ucapan z
Terima kasih kunjungannya ya teh… sehat bahagia selalu kita semuaaa