Awal Oktober 2012.. Aku berkesempatan menjadi auditor untuk satu perusahaan pembuat satu produk perusahaan di mana aku bekerja. Dalam dunia bisnis ini disebut sistem toll manufacturing atau jasa maklon. Oh ya.. kali ini perusahaan rekanan yang kami audit ada di Banyuasin, Sumatera Selatan tapi aku menginap di satu hotel di kota Palembang. Tapi tentunya kali ini tidak akan kuceritakan bagaimana dan hasil audit team-ku di sana dong.. itu rahasia dapur perusahaan kami hehehe..
Di coretan singkat kali ini aku ingin menuangkan satu malam yang berkesan bagiku selama di bumi Palembang. Satu malam (dan benar memang satu malam) yang kulewati bersama beberapa sahabat lama. Setelah seharian lelah melakukan tugas audit, aku dan rombongan auditor melesat menembus kemacetan jalanan Banyuasin-Palembang menuju hotel. Sempat berkecamuk pikiranku sebab beberapa hari sebelumnya sudah janjian dengan dua sahabat lama untuk bertemu karena kebetulan mereka berdomisili di Palembang. Tambah deg-degan karena sampai jam 8 malam masih harus menutup acara hari itu dengan dinner di Bukit Golf Resto & Resort Cafe. Alhasil sampai di hotel Grand Zuri pun sudah larut malam. Alamaaak.. mana bisa ketemuan nih..? sedangkan besoknya aku langsung pulang ke tanah Jawa langsung dari lokasi audit.
Tapi Tuhan sungguh maha besar.. Sesampainya di hotel sudah ada Bona alias Justo sahabat masa SMU dan kuliahku yang menunggu di depan lobby. Tanpa babibu lagi plus tanpa mandi segera kami meluncur menggunakan motornya menuju ke tempat sahabatku satunya di daerah Kodam. Ups.. sebagai warga taat hukum, kami berdua mampir bentar di kost Justo untuk ambil helm karena dia tadinya hanya bawa satu. Kurang dari setengah jam, kami pun sudah berpindah tempat di kediaman Berna teman SMP-SMU dan memang sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri. Satu keceriaan di tengah malam (hampir jam 10 malam waktu Palembang) karena masih bersua dengan keluarga utuh Berna. Ada Mas Okta suaminya, si sulung Tsar yang super duper lincah, dan si cantik Quinsha adiknya. Tak lupa sajiaan.. pempek yang sedapnyo tak kalah dengan pempek Vico, Beringin, atau Kenny. Mbak Berna bikin sendiri atau beli ya? Hehehe..
Karena sudah larut, kami berdua pamitan dan langsung melesat menuju.. Jembatan Ampera. Menghabiskan malam bersama Justo dengan ciri khas kami dulu waktu masih di Jogja.. Apa itu? Jeprat jepret lah.. alias narsis.. Tapi yang penting adalah ngobrol ngalor ngidul yang seperti mengulang memori saat di bilangan Sapen Jogja (hanya kurang si Gondel dan Abu). Begitu renyah, hangat, dan seperti tak pernah habis bahan obrolan kami. Nih satu kumpulan hasil jepretan si Justo di malam itu..
Sahabat.. sesaat sebelum pulang ke hotel.. Aku agak lama menikmati Jembatan Ampera dimana waktu itu kami mengambil tempat di bantaran Sungai Musi yang terletak di bawahnya. Bukan sekedar menikmati megah dan kemilau kelap kelip lampunya.. Tetapi menangkap satu makna di malam itu. Yah.. aku seperti sedang menjaga JEMBATAN demi JEMBATAN di kehidupanku. Jembatan hati yang menghubungkanku sengan orang-orang di sekitarku.. Aku dengan Justo sudah 6 tahun tak bertemu.. dengan Berna pun hanya saat Natalan di kampungku. Namun dengan satu pertemuan kecil.. mampu menghangatkan kembali ikatan persahabatan dan persaudaraan kami. Itu pula yang kulakukan dengan rekan-rekan di perusahaan lama, sahabat-sahabat sekolah dan kuliah, rekan-rekan di team futsal seputar Depok, dan semua yang pernah hadir di kehidupanku. Aku hanya yakin.. bahwa dengan memelihara kekokohan dan keberadaan JEMBATAN HATI itu.. Dimanapun dan kapanpun.. aku selalu berada dalam kehangatan sahabat. Selamat hari minggu.. dan sudahkah kau rawat dan jaga jembatan-mu?




Mantap, saya jadi ingin ke sana …
apalagi sama si dia .. xixixi
beruntung kalau ada si dia ya nis.. (maaf manggilnya kalau salah)
Jembatanku ambruk keno sunami dek bro
bangun lagi dalam tiga hari mbak (dalam nama Yesus maksudnya…)
Belum pernah ke Jembatan Ampera, maklum saya berada di Jogja